Kegiatan strategis ini digelar sebagai upaya memperkuat literasi budaya lokal dan mengenalkan kembali tradisi lisan khas Banjar kepada para pendidik di lingkungan sekolah.
Acara pembukaan yang meriah ini diawali dengan persembahan tarian selamat datang khas Banjar, yakni Tari Baksa Kambang yang dibawakan oleh LM Project.
Suasana kian khidmat dan semarak saat Kepala Dispersip Tanah Bumbu, Yulia Rahmadani, melakukan pemukulan gong secara simbolis dengan didampingi oleh perwakilan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Yayasan Rumah Pena BerAksi, serta sejumlah tamu undangan penting lainnya.
Mengusung tema “Menjaga Akar, Merawat Rasa”, kegiatan ini diinisiasi dalam rangka memperingati Bulan Bahasa. Workshop tersebut merupakan wujud nyata kolaborasi antara MGMP Bahasa Indonesia SMA se-Tanah Bumbu bersama Yayasan Rumah Pena BerAksi, yang berangkat dari kepedulian bersama terhadap pelestarian warisan budaya daerah.
Dalam sambutannya, Yulia Rahmadani memberikan apresiasi tinggi kepada para pendidik dan komunitas literasi yang telah berkolaborasi menghadirkan ruang pembelajaran berbasis budaya lokal.
Menurutnya, kegiatan semacam ini sangat krusial untuk memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kapasitas guru.
“Workshop ini menjadi langkah strategis dalam pengembangan seni, budaya, dan wawasan, khususnya untuk memperkuat kapasitas serta literasi di lingkungan sekolah agar generasi muda tetap mengenal akar budaya lokalnya,” ujar Yulia.
Senada dengan hal tersebut, Ketua MGMP Bahasa Indonesia SMA se-Tanah Bumbu, Arif Rachman, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang khusus untuk mendekatkan para guru dengan tradisi lisan daerah agar nantinya dapat diintegrasikan langsung ke dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan wawasan para guru semakin meningkat sehingga nantinya dapat diterapkan di lingkungan sekolah masing-masing,” ujarnya.
Antusiasme tinggi juga datang dari unsur penyelenggara. Perwakilan Yayasan Rumah Pena BerAksi, Puja Mandela, mengungkapkan harapannya agar kolaborasi ini mampu membuka ruang-ruang kreatif yang berkelanjutan bagi dunia pendidikan di Tanah Bumbu.
“Kami ingin memastikan ruang-ruang kreatif seperti ini terus ada, sehingga para guru dan generasi muda memiliki wadah untuk merawat tradisi,” ungkap Puja.
Digelar selama dua hari penuh, workshop ini menghadirkan narasumber ahli di bidangnya, yakni pelaku seni peran asal Barabai, Riza Atmoerakata.
Melalui rangkaian pelatihan yang interaktif ini, para guru dan peserta diharapkan mampu memperoleh pengalaman serta keterampilan dasar, sehingga warisan budaya Banjar seperti Bapandung dapat terus hidup, dikenal, dan dilestarikan di lingkungan sekolah masing-sama.









