Bayangkan harus menunggu hingga dua pekan hanya untuk mendapatkan aliran air bersih.

Bukan karena kebutuhan yang sedikit, melainkan karena pasokan air semakin terbatas di tengah kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kotabaru sepanjang 2026.

Bagi sebagian warga, mendapatkan air bersih kini bukan lagi perkara membuka keran dan menampung air secukupnya.

Mereka mesti mengatur persediaan, menghemat setiap tetes, bahkan menunggu giliran distribusi yang semakin tidak menentu.

Kondisi itu dirasakan Muhammad Zainuddin (47), warga Kelurahan Baharu Selatan RT 12.

Bagaimana kisahnya, ikuti Redaksi8.com membabarkannya.

REDAKSI8.COM, KOTABARU – Sebelum bantuan air bersih datang, Zainiddin bersama warga lainnya harus berjuang memenuhi kebutuhan air untuk keperluan rumah tangga sehari-hari.

Mereka mengingat betul bagaimana pasokan air yang sebelumnya masih bisa diandalkan perlahan semakin sulit diperoleh.

Awalnya, warga masih mendapatkan distribusi air bersih dengan sistem bergiliran setiap tiga hari sekali.

Namun, kemarau yang terus berlangsung membuat keadaan semakin memburuk.

Jadwal distribusi yang semula tiga hari sekali berubah menjadi tujuh hari, bahkan mencapai 14 hari sekali.

Bagi masyarakat, perubahan itu bukan sekadar persoalan jadwal.

Ada kebutuhan rumah tangga yang harus tetap dipenuhi, mulai dari memasak, mandi, mencuci hingga berbagai keperluan dasar lainnya.

Ketika pasokan air tak kunjung datang, warga dituntut lebih cermat mengelola persediaan yang tersisa.

Air yang biasanya digunakan tanpa banyak pertimbangan kini harus benar-benar dihemat.

Di tengah situasi tersebut, bantuan air bersih menjadi secercah harapan bagi masyarakat.

Distribusi menggunakan mobil tangki berkapasitas 5.000 liter yang dilakukan satu kali dalam sepekan sedikit banyak membantu warga bertahan menghadapi krisis air.

Keberadaan tandon atau tempat penampungan air juga memberikan manfaat tersendiri.

Warga memiliki tempat untuk menyimpan persediaan sehingga tidak seluruh air bantuan harus digunakan sekaligus.

Meski belum sepenuhnya mengatasi persoalan keterbatasan air, bantuan tersebut setidaknya menjadi penopang kebutuhan masyarakat selama musim kemarau belum berakhir.

Kesulitan serupa juga dialami Syafri Anshari (44), Ketua RT di Gang Hasanah, Desa Dirgahayu, serta Martiah Ilmun (51), warga Desa Dirgahayu.

Baginya yang turut terdampak, bantuan tandon dan distribusi air bersih menjadi penolong di tengah situasi yang tidak mudah.

Akan tetapi, harapan terbesar mereka tetap sederhana, kemarau segera berakhir dan air kembali mengalir normal.

Sebab, air bersih bukan sekadar kebutuhan tambahan yang bisa ditunda.

Setiap rumah membutuhkannya setiap hari, sementara kehidupan harus terus berjalan meski musim kemarau belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Di tengah penantian itu, setiap kiriman air memiliki arti lebih dari sekadar bantuan.

Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, ada aktivitas rumah tangga yang harus diselamatkan, dan ada harapan agar warga Kotabaru tidak terus dihantui kesulitan mendapatkan air bersih.

Selama hujan belum kembali turun dan pasokan PDAM belum pulih, kepedulian serta dukungan berbagai pihak menjadi sangat berarti bagi masyarakat yang sedang berjuang melewati kemarau panjang.

Perusahaan Tambang Dan Wartawan Datang Bawa Harapan

Di tengah kesulitan yang dialami masyarakat, kepedulian berbagai pihak turut hadir.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kotabaru bersama PT Pelsart Tambang Kencana (PTK) menyalurkan bantuan tandon air kepada sejumlah RT yang terdampak kesulitan air bersih.

Bantuan tersebut menyasar wilayah di empat kecamatan, yakni Pulau Laut Utara, Pulau Laut Sigam, Pulau Laut Tengah, dan Pulau Laut Timur.

Ketua PWI Kotabaru, Ahmad Nurahsin Q, mengatakan penyaluran bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang tengah menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih, terutama saat kemarau panjang.

“Bersama PT Pelsart Tambang Kencana, kami menyalurkan bantuan tandon air untuk warga di sejumlah RT yang tersebar di empat kecamatan. Mudah-mudahan bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersih,” ujarnya.

Menurutnya, ketersediaan tempat penampungan air menjadi salah satu kebutuhan penting bagi warga, terutama ketika distribusi air bersih tidak dapat dilakukan setiap saat.

Sementara itu, Manager CSR PT Pelsart Tambang Kencana, Septamto, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus berkontribusi membantu masyarakat di sekitar wilayah operasional, khususnya ketika menghadapi situasi sulit.

“Bantuan tandon air ini merupakan bagian dari kepedulian perusahaan terhadap masyarakat. Semoga bisa bermanfaat dan membantu warga dalam menyimpan persediaan air bersih,” ungkapnya.

Septamto menjelaskan, penyaluran bantuan kali ini difokuskan pada empat kecamatan berdasarkan usulan PWI Kotabaru.

Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu masyarakat dalam menghadapi keterbatasan air bersih, tetapi juga menggerakkan kepedulian lebih luas dari berbagai pihak terhadap persoalan yang menyangkut kebutuhan dasar warga.