REDAKSI8.COM, BANJAR – Potensi ikan sepat di Desa Sungai Batang, Kabupaten Banjar, terus dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi. Melalui Program Kosabangsa Tahun 2026, Universitas Sari Mulia Banjarmasin bersama Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan inovasi diversifikasi produk ikan sepat, mulai dari cookies atau kue kering, ikan sepat balado hingga ikan sepat siap makan.

Inovasi tersebut diperkenalkan melalui kegiatan Pelatihan Diversifikasi Produk, Pemasaran Digital, dan Pembukuan Praktis bagi Kelompok Pengolahan Ikan serta ibu-ibu PKK Desa Sungai Batang, Jumat (6/11/2026).

Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah hasil perikanan lokal sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ketua Pelaksana Program Kosabangsa Universitas Sari Mulia Tahun 2026 di Desa Sungai Batang, Indra Saputra menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang agar masyarakat tidak hanya bergantung pada produk ikan sepat asin yang selama ini menjadi salah satu hasil olahan unggulan desa.

Menurutnya, ikan sepat memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan inovatif yang memiliki nilai jual lebih tinggi dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.


Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pengolahan ikan sepat menjadi cookies atau kue kering bergizi. Dalam pelatihan tersebut, Novalia Widiya Ningrum, S.S.T., M.Kes, memberikan pendampingan teknis mengenai proses diversifikasi produk, mulai dari pengolahan bahan baku hingga menjadi produk siap konsumsi.

Menariknya, inovasi cookies ini memanfaatkan tulang dan daging ikan sepat yang terlebih dahulu diproses menggunakan alat presto, kemudian digiling dengan mesin chopper hingga menjadi tepung ikan. Bahan tersebut selanjutnya diolah menjadi adonan kue kering dan dipanggang menggunakan oven portable.

Pengolahan ini menjadi terobosan karena bagian ikan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah kembali menjadi bahan pangan bernilai tambah.

Selain cookies, masyarakat juga mendapatkan pelatihan pengolahan ikan sepat menjadi ikan sepat balado dan ikan sepat siap makan. Diversifikasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan pilihan produk yang lebih beragam, praktis, dan memiliki daya tarik bagi konsumen.

Indra menegaskan, pengembangan produk tidak berhenti pada proses produksi. Kemampuan masyarakat dalam memasarkan produk dan mengelola keuangan usaha juga menjadi perhatian penting dalam program tersebut.

Untuk mendukung pemasaran, Muhammad Zulfadhilah, M.Kom, memberikan pelatihan pemasaran berbasis digital. Materi ini diarahkan agar kelompok usaha mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, memperkenalkan produk kepada konsumen, serta memperluas jangkauan pemasaran tanpa hanya mengandalkan penjualan secara langsung.



Sementara itu, Indra Saputra memberikan pelatihan pembukuan praktis agar para pelaku usaha memahami pentingnya pencatatan keuangan yang tertib dan terukur.

Materi yang diberikan meliputi pencatatan transaksi, perhitungan laba dan rugi, penyusunan neraca, hingga pencatatan perubahan modal. Dengan pemahaman tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengetahui kondisi keuangan usaha, menghitung keuntungan secara tepat, serta merencanakan pengembangan usaha secara berkelanjutan.

Dalam rangka mendukung penerapan hasil pelatihan, tim pelaksana juga menyerahkan sejumlah peralatan produksi kepada kelompok mitra di Desa Sungai Batang. Peralatan tersebut meliputi oven portable, mesin chopper, dan alat presto.

Bantuan peralatan ini diharapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh kelompok masyarakat untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga kualitas produk olahan ikan sepat.

Program Kosabangsa 2026 tersebut didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemendiktisaintek, dengan Universitas Sari Mulia sebagai tim pelaksana dan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai tim pendamping. Selanjutnya, pengelolaan dan keberlanjutan program akan turut didukung Pemerintah Desa Sungai Batang.

Pembakal Desa Sungai Batang, Suladi, menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Ia menilai inovasi pengolahan ikan sepat menjadi cookies, ikan sepat balado, dan ikan siap makan merupakan peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.

Menurutnya, selama ini ikan sepat menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan di desanya. Namun, melalui inovasi dan pendampingan yang diberikan, produk tersebut kini memiliki peluang untuk dipasarkan dalam bentuk yang lebih beragam dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Kami berharap dengan adanya inovasi dan diversifikasi produk ikan sepat ini, UMKM serta penjualan hasil olahan ikan sepat di Desa Sungai Batang bisa naik kelas. Mudah-mudahan dapat menambah pemasukan dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” harap Suladi.



Ia juga berharap program tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap upaya penurunan angka stunting di Desa Sungai Batang.

Menurutnya, cookies berbahan dasar ikan sepat berpotensi menjadi salah satu alternatif makanan olahan yang mengandung gizi dan dapat diperkenalkan kepada anak-anak melalui bentuk makanan yang lebih menarik.

Dengan pengolahan yang tepat, produk tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif pangan lokal yang disukai anak-anak sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan gizi keluarga.

Atas terlaksananya kegiatan tersebut, Suladi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Universitas Sari Mulia Banjarmasin, Universitas Muhammadiyah Malang, serta Kemendiktisaintek yang telah mendukung pelaksanaan Program Kosabangsa 2026 di Desa Sungai Batang.

Ia berharap pendampingan tidak hanya berlangsung selama program berjalan, tetapi dapat diteruskan pada tahun-tahun berikutnya sehingga masyarakat benar-benar mampu mengembangkan usaha secara mandiri.

Suladi juga mengungkapkan bahwa dukungan pemberdayaan masyarakat melalui program perguruan tinggi menjadi semakin penting di tengah keterbatasan anggaran desa.

Menurutnya, pada 2026 alokasi Dana Desa mengalami pengurangan cukup signifikan, dengan kondisi anggaran yang perlu menyesuaikan berbagai program dan kebijakan pemerintah. Karena itu, kehadiran program pemberdayaan seperti Kosabangsa dinilai dapat membantu desa dalam melanjutkan kegiatan peningkatan ekonomi masyarakat.

Terlebih, Desa Sungai Batang merupakan bagian dari kawasan perdesaan yang masuk dalam Prioritas Nasional di Kabupaten Banjar periode 2025–2029. Dengan demikian, pengembangan potensi ekonomi lokal melalui pengolahan hasil perikanan dinilai sejalan dengan arah pembangunan kawasan perdesaan.

Ia berharap inovasi yang telah diperkenalkan dapat menjadi salah satu penopang program pembangunan tersebut, terutama dalam memperkuat UMKM, membuka peluang usaha, meningkatkan pendapatan keluarga, dan mendukung penanganan stunting.

Melalui Program Kosabangsa 2026, ikan sepat yang sebelumnya lebih dikenal sebagai produk ikan asin kini memiliki peluang untuk berkembang menjadi aneka produk olahan modern. Perpaduan inovasi teknologi pengolahan, pemasaran digital, dan pengelolaan keuangan diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya UMKM Desa Sungai Batang yang lebih produktif, mandiri, dan berdaya saing.