REDAKSI8.COM, JAKARTA – Gedung KP2MI Jakarta menjadi saksi bisu pergeseran paradigma penempatan tenaga kerja akademik.
Universitas Lambung Mangkurat (ULM) tidak lagi sekadar mencetak lulusan untuk pasar domestik, melainkan mulai memosisikan diri sebagai lumbung tenaga kerja internasional yang kompeten melalui inisiasi pembentukan Migran Centre.

Langkah strategis itu lahir dalam audiensi antara jajaran rektorat ULM dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) yang bertujuan menyinkronkan kurikulum kampus dengan kebutuhan industri global.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Mukhtarudin, menempatkan program ini sebagai fondasi utama dalam ekosistem vokasi mahasiswa.
Dengan keberhasilan implementasi di 12 perguruan tinggi sebelumnya, Migran Centre dirancang menjadi pusat kendali yang mengintegrasikan data lowongan kerja mancanegara, bimbingan karier, hingga jalur penempatan resmi yang terlindungi.
Kehadiran pusat itu di dalam kampus diharapkan mampu memangkas hambatan informasi yang selama ini membuat lulusan perguruan tinggi ragu untuk berkarier di luar negeri.
Tantangan global saat ini bukan lagi soal mencari pekerjaan, melainkan bagaimana menyiapkan talenta yang mampu bersaing di kancah internasional.
Menteri Mukhtarudin mengungkapkan bahwa potensi serapan tenaga kerja di luar negeri sangatlah masif, mencakup ratusan ribu posisi di berbagai sektor formal.
“Saat ini diproyeksikan terdapat 324.542 lowongan pekerjaan di luar negeri dalam berbagai bidang. Migran Centre menjadi salah satu strategi untuk menjawab tantangan global dalam ketersediaan tenaga kerja migran yang kompeten,” ujar Menteri, Rabu, (26/4/2026).
Menanggapi peluang emas tersebut, Rektor ULM Prof. Ahmad menegaskan, institusinya tidak ingin sekadar menjadi penonton dalam persaingan tenaga kerja global.
Kesediaan ULM untuk menjadi wadah Migran Centre merupakan upaya akselerasi agar lulusan dari Kalimantan Selatan memiliki daya tawar yang tinggi dan proteksi yang jelas saat bekerja di luar negeri.
Prof. Ahmad optimistis bahwa fasilitas ini akan menjadi katalisator bagi peningkatan reputasi kampus di level internasional melalui serapan lulusan yang lebih luas.
“ULM siap berkolaborasi. Dengan adanya Migran Centre, diharapkan dapat meningkatkan posisi ULM dalam percepatan penyerapan tenaga kerja,” kata Rektor.
Sebagai langkah nyata untuk mewujudkan ambisi tersebut, tim dari kedua belah pihak kini tengah berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan detail teknis kelembagaan.
Ditargetkan dalam kurun waktu satu bulan ke depan, Migran Centre ULM sudah resmi berdiri dan mulai melayani mahasiswa.
Komitmen itu menandai babak baru bagi ULM dalam mencetak generasi pekerja migran yang tidak hanya memiliki ijazah akademik, tetapi juga kesiapan mental dan keterampilan yang diakui secara global.



