REDAKSI8.COM, KALBAR – Riuh tepuk tangan penonton di ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI mendadak berubah menjadi gelombang protes dan kebingungan.
Kompetisi yang seharusnya menjadi panggung adu intelektualitas bagi generasi muda itu justru menyisakan residu kekecewaan setelah sebuah keputusan juri dianggap mencederai nilai objektivitas.

Kejadian bermula saat regu B yang diwakili SMAN 1 Sambas dan regu C dari SMAN 1 Pontianak bersaing ketat untuk memperebutkan posisi wakil Kalimantan Barat.
Dalam sebuah pertanyaan krusial, kedua sekolah tersebut memberikan jawaban yang identik secara substansi.
Namun, nasib keduanya berakhir kontras di papan skor.
Dewan juri memutuskan jawaban regu B benar dan menghadiahi mereka 10 poin.
Sebaliknya, regu C dari SMAN 1 Pontianak justru dijatuhi penalti minus 5 poin.
Alasan yang dikemukakan juri pun terbilang tidak biasa, artikulasi peserta dari regu C dianggap kurang jelas.
Keputusan itu berujung pada terpilihnya SMAN 1 Sambas sebagai pemenang, sementara langkah SMAN 1 Pontianak terhenti di tengah bayang-bayang dianulirnya kurangnya nilai objektif juri.
Polemik itu pun meluas hingga ke jagat maya dan memancing reaksi pedas nitizen Indonesia, termasuk musisi sekaligus influencer, Fiersa Besari.
Melalui akun Threads miliknya, Fiersa mempertanyakan relevansi penilaian artikulasi dalam sebuah lomba cerdas cermat.
“Nyalahin Artikulasi. Itu Cerdas Cermat atau Indonesian Idol?,” tanya dia melalui postingan threadsnya.
Ketidakselarasan antara apa yang didengar juri dengan kenyataan di lapangan diduga kuat berakar pada masalah teknis.
Suara peserta yang dianggap tidak jelas oleh juri ternyata terdengar sangat jernih oleh audiens di lokasi maupun mereka yang menyaksikan melalui siaran langsung di YouTube.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kalimantan Barat, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, turut angkat bicara mengenai keganjilan tersebut.
Berdasarkan penelusuran awal, terdapat indikasi perangkat audio yang menghadap ke arah meja juri mengalami malfungsi.
“Informasi yang saya terima, spreaker yang mengarah ke juri mengalami gangguan sehingga jawaban peserta kurang terdengar jelas. Sementara di Live Youtube dan Audiens penonton, suara terdengar jelas,” ungkap Syarif Faisal.
Kini, publik menanti bagaimana pihak penyelenggara menyikapi gangguan teknis yang berdampak besar pada hasil akhir kompetisi tersebut.
Bagi para siswa yang telah berjuang keras memahami konstitusi, keadilan bukan sekadar materi yang dihapalkan, melainkan sesuatu yang mereka harapkan tegak di atas panggung perlombaan.
Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyatakan permohonan maaf atas kejadian tersebut.
Dia menganggap, juri di LCC MPR RI 4 Pilar lalai melaksanakan tugasnya.
“Kami kohon maaf atas kelalaian Dewan Juri. Kami akan tindaklanjuti kejadian ini,” katanya.
Diketahui, masalah itu awalnya, pembawa acara melemparkan pertanyaan rebutan untuk tiga grup peserta lomba.
Adapun, pertanyaan tersebut terkait bagaimana proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Peserta Grup C memprotes keputusan juri setelah mendapat nilai minus lima, sementara Grup B dengan jawaban sama memperoleh nilai sepuluh, namun protes tersebut tidak diindahkan.
Dewan juri yang saat itu duduk disana Indri Wahyuni menegaskan penilaian didasarkan pada kejelasan artikulasi peserta saat menjawab, dan meminta peserta lebih memperhatikan cara penyampaian agar tidak terjadi kesalahpahaman.



