REDAKSI8.COM, BANJARBARU — Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari, meminta Pemerintah Kota Banjarbaru mengevaluasi program operasional angkutan Feeder Trans Banjarbaru.

Baginya, evaluasi itu dinilai penting karena tingkat keterisian penumpang di lapangan terpantau minim.

Emi menjelaskan, pada awal perencanaannya di tahun 2024, angkutan tersebut difungsikan sebagai penghubung dari Terminal Banjarbaru menuju akses perumahan baru yang belum dilayani oleh trayek angkutan umum.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kondisi di lapangan justru menunjukkan jumlah penumpang angkutan tersebut tidak begitu banyak.

“Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi terkait apakah peruntukan feeder ini tetap disubsidi untuk angkutan umum, atau kemudian keseluruhannya bisa dialokasikan untuk perbantuan angkutan sekolah,” ujar Emi Lasari kepada pewarta pasca Rapat Paripurna, Selasa (3/11) siang.

Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Banjarbaru, Emi Lasari. Foto: Dok. Emi.

Ia menilai, armada angkutan sekolah di Kota Banjarbaru saat ini masih mengalami kekurangan.

Selain itu, jika dibandingkan dengan biaya kerja sama sewa dengan organisasi angkutan darat (organda) yang hanya sekitar Rp170.000 per hari, biaya operasional dan subsidi untuk feeder jauh lebih besar.

Dari data yang dihimpun Redaksi8.com, kerjasama Pemko Banjarbaru dengan organda untuk angkutan pelajar gratis setiap satu unitnya senilai Rp170 ribu per hari.

Jumlah unit yang dikerjasamakan berjumlah 40 buah mobil.

Sehingga, dana yang digelontorkan membayar sewa 40 unit mobil organda di anggaran murni tahun 2026 mencapai Rp735.250.000.

Kemudian, Pemko Banjarbaru melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Banjarbaru kembali menganggarkan biaya sewa organda di Anggaran Belanja Tambahan (ABT) tahun 2026 senilai Rp826.540.000.

Maka, total anggaran untuk sewa 40 unit organda sepanjang tahun 2026 sebesar Rp1.561.790.000 atau satu miliar lebih.

Sedangkan, anggaran yang dibayarkan untuk operasional transportasi Feeder Trans Banjarbaru dengan pihak ketiga per satu unit adalah Rp7 ribu 320 per kilometer.

Artinya, setiap satu kilometer per satu unit angkutan feeder beroperasi, pemerintah membayar 7 ribu 320 rupiah.

Jumlah unit yang disewa ada 26 unit, terdiri dari 24 unit siap operasi dan 2 unit cadangan.

Dari situ ditetapkan, total anggaran tahun 2026 untuk mensubsidi angkutan feeder dianggaran murni senilai Rp9.718.882.500.

Lalu kembali diadakan di anggaran belanja tambahan Rp5.136.540.000.

Maka total anggaran untuk membayar biaya operasional transportasi Feeder Trans Banjarbaru tahun 2026 sebesar Rp14.855.422.500 atau 14 miliar lebih.

Jika dibandingkan, sewa 40 unit organda Rp1 miliar lebih, subsidi untuk angkutan feeder Rp14 miliar lebih.

Menurut Emi, anggaran subsidi feeder itu begitu besar dan kurang efektif.

Dia menyarankan, kedepannya penggunaan anggaran itu bisa dialihkan keproyeksi layanan publik yang lebih optimal.

“Seperti membantu peremajaan unit angkutan sekolah melalui pola subsidi yang digandeng bersama pihak Organda,” begitu saran Emi.

Dengan skema tersebut, Emi optimistis ada dua keuntungan ganda yang bisa didapatkan oleh pemerintah daerah, pertama pemerintah dapat hadir membantu para sopir organda yang memiliki armada untuk melakukan peremajaan unit.

Kedua, layanan angkutan pelajar dapat beroperasi secara lebih maksimal dengan kondisi fisik kendaraan yang lebih baik dan aman bagi para siswa.

“Kalau kita bicara dari kebutuhan dan tingkat jumlah pengguna, tentu jauh perbandingannya antara feeder dengan angkutan sekolah,” pikirnya.

“Jadi saran saya, pilih salah satu mana yang menjadi prioritas untuk dilakukan subsidi penganggaran,” sambungnya.

Keterisian Rata-rata Penumpang Feeder Diangka 25%

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dishub Kota Banjarbaru, Eddy Sabara, mengungkapkan, pihaknya bersepakat atas masukan dan saran dari badan anggaran DPRD Banjarbaru untuk melakukan evaluasi terhadap layanan angkutan feeder trans Banjarbaru.

“Sepakat, sangat sepakat sekali (masukan dan saran anggota Banggar<-red),” ucap Eddy Sabara di Kantor Dishub Banjarbaru, Rabu (4/11/2026).

Dia mengaku sudah melaksanakan evaluasi rutin terhadap pelayanan transportasi publik.

Bahkan, pada akhir bulan September lalu, Dishub telah merampungkan survei mendalam guna memetakan tingkat kebutuhan serta efektivitas rute di lapangan.

“Evaluasi ini kami lakukan untuk melihat kembali efektivitas layanan. Dari 20 rencana penyelenggaraan trayek feeder, saat ini ada 11 trayek yang aktif melayani masyarakat dengan dukungan 16 unit armada operasional serta 2 unit cadangan,” ujarnya.

Berdasarkan data operasional dan tingkat keterisian penumpang pada layanan transportasi umum gratis Feeder Trans Banjarbaru sepanjang bulan September, layanan yang disiagakan sebanyak 15 unit armada.

Kesemuanya beroperasi aktif melayani 11 rute strategis di seluruh wilayah Kota Banjarbaru.

Diantaranya rute Al-Mukarramah dengan 2 unit armada yang dioperasikan, rute Lapangan Rebatig 1 unit armada, rute Al-Muhtadien atau wilayah Golf 2 unit armada, rute Hajjah Nurriyah 2 unit armada, Terminal Simpang Empat Banjarbaru 1 unit armada.

Selanjutnya rute GOR Rudy Resnawan 2 unit armada, Balai Kota Banjarbaru 1 unit armada, Halte Km. 0 Banjarbaru 1 unit armada, Halte Carsurin 2 unit armada, Rumah Sakit Idaman 1 unit armada, dan rute SMPN 9 Banjarbaru 1 unit armada.

Seluruh armada Feeder Trans Banjarbaru mulai beroperasi melayani masyarakat sejak pukul 06.00 WITA setiap harinya, dengan jam penghentian layanan yang bervariasi untuk masing-masing rute hingga pukul 19.20 WITA.

Rute dengan jam operasional paling awal berakhir adalah trayek tujuan Rumah Sakit Daerah Idaman yang menyelesaikannya pada pukul 17.45 WITA.

Sementara, Trayek Lapangan Rebatig menjadi rute dengan jam pelayanan paling panjang sampai pukul 19.20 WITA.

Rekapitulasi data kinerja operasional selama bulan September dipaparkan Eddy, tingkat keterisian rata-rata penumpang Feeder tercatat berada di angka 25 persen.

Kinerja rute terpantau bervariasi, di mana trayek Al-Mukarramah yang didukung 2 unit armada mencatatkan persentase penumpang tertinggi mencapai 39 persen.

Rute teramai berikutnya disusul oleh trayek Hajjah Nurriyah dengan 2 unit armada sebesar 34 persen, serta trayek ke RSD Idaman dengan 1 unit armada sebesar 31 persen.

Di sisi lain, terdapat beberapa rute yang mencatatkan tingkat keterisian penumpang relatif rendah.

Keterisian paling minim ditemukan pada trayek di SMPN 9 Banjarbaru yang hanya mencapai 9 persen, diikuti oleh trayek Halte Km. 0 Banjarbaru sebesar 12 persen, dan Trayek di GOR Rudy Resnawan sebesar 19 persen.

Sejumlah rute lainnya seperti Lapangan Rebatig, Al-Muhtadien atau Golf, Terminal Simpang Empat, Balai Kota Banjarbaru dan Halte Carsurin mencatatkan keterisian berkisar antara 21 hingga 30 persen.

Eddy menjelaskan, operasional angkutan feeder ini menggunakan skema buy the service dengan jam pelayanan bervariasi selama 15 hingga 16 jam setiap harinya, yakni mulai pukul 07.00 pagi hingga pukul 18.00 atau 19.00 WITA.

Selain angkutan feeder, Dishub Banjarbaru mengelola layanan angkutan pelajar yang bekerja sama dengan sekitar 40 unit kendaraan untuk mendukung mobilitas siswa di 15 sekolah.

Penjemputan dan penurunan pelajar ini disesuaikan langsung dengan jadwal kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Layanan Angkutan Gratis Tetap Berjalan Tahun 2027

Memasuki tahun 2027 mendatang, Dishub Banjarbaru berencana melakukan sejumlah penyesuaian strategis, baik dari segi penataan rute perjalanan maupun optimalisasi jam layanan.

Hal ini bertujuan supaya subsidi layanan angkutan publik yang diberikan pemerintah daerah yang saat ini dinikmati masyarakat secara gratis dapat tepat sasaran dan semakin efisien.

“Prinsipnya layanan angkutan gratis ini akan terus berlanjut hingga tahun 2027,” beber Eddy Sabara.

Meski begitu, pihaknya tetap menerapkan sistem pembenahan dan penyesuaian serta evaluasi, terutama terkait pengoptimalan armada trayek.

“Kami akan terus melakukan pembenahan dan penyesuaian, terutama mengoptimalkan armada pada jam-jam sibuk operasional sekolah maupun aktivitas warga agar pelayanan publik semakin maksimal,” pungkasnya.