REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Upaya menghidupkan kembali identitas budaya bangsa melalui aksara mulai mendapat perhatian baru.

Keraton Majapahit Jakarta meluncurkan buku panduan belajar Aksara Nusantara, sebuah inisiatif kebudayaan yang dirancang untuk memperkenalkan kembali kekayaan aksara Indonesia dengan pendekatan yang lebih sederhana dan relevan dengan perkembangan zaman.

Di balik gagasan tersebut, tersimpan misi besar untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan leluhur sekaligus membuka peluang pengembangan kebudayaan di tengah pesatnya kemajuan teknologi.

Salah satu tokoh yang membawa gagasan ini ke Kalimantan ialah Raja Pemangku Adat Kebudayaan Banjar Kalimantan, Sultan Cevi Yusuf Isnendar Al-Banjari.

Kehadirannya menjadi bagian dari upaya memperluas pengenalan Aksara Nusantara di daerah, sekaligus memberikan sumbangsih nyata dalam bidang kebudayaan dan pendidikan.

Langkah tersebut diharapkan dapat membuka ruang pembelajaran baru bagi masyarakat Kalimantan, khususnya generasi muda, untuk mengenal kekayaan aksara Nusantara sebagai bagian dari identitas dan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Penggagas Aksara Nusantara sekaligus pendiri Keraton Majapahit Jakarta, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Hendropriyono menjelaskan, inisiatif tersebut berangkat dari keinginan untuk membantu masyarakat memahami akar sejarah bahasa yang berkembang di Nusantara.

Menurutnya, Indonesia telah memiliki semangat persatuan melalui konsep satu nusa dan satu bahasa.

Namun, terdapat sisi kebudayaan yang menarik untuk kembali diperhatikan, yakni penggunaan aksara dalam kehidupan masyarakat modern.

“Kita sepakat satu nusa dan satu bahasa. Namun menariknya, bahasa yang kita gunakan sehari-hari saat ini ditulis menggunakan aksara Latin,” ungkap Hendropriyono.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu landasan untuk mengajak masyarakat melihat kembali hubungan antara bahasa, aksara dan identitas kebudayaan.

Sebab, di balik keberagaman bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, Indonesia memiliki kekayaan sistem tulisan tradisional yang menyimpan jejak sejarah, pengetahuan, dan peradaban masyarakatnya.

Melalui buku panduan Aksara Nusantara, masyarakat diharapkan memiliki sarana untuk mengenal dan mempelajari aksara dengan pendekatan yang lebih mudah dipahami.

Bagi Sultan Cevi Yusuf Isnendar Al-Banjari, pengenalan Aksara Nusantara di Kalimantan menjadi salah satu langkah untuk memperluas kontribusi kebudayaan bagi masyarakat.

Sebagai Raja Pemangku Adat Kebudayaan Banjar, ia membawa gagasan tersebut ke Kalimantan dengan harapan dapat memperkaya wawasan masyarakat mengenai warisan budaya sekaligus mendorong inovasi dalam dunia pendidikan.

Menurut penjelasan Sultan Cevi, Aksara Nusantara dikembangkan dengan pendekatan yang lebih sederhana melalui penyederhanaan konsep aksara untuk memperkenalkan gagasan sistem tulisan yang dapat dipelajari secara lebih luas.

“Aksara Nusantara ini sendiri lebih sederhana. Ini juga merupakan simplifikasi seluruh bahasa daerah, digabung menjadi yang namanya Aksara Nusantara,” jelasnya.

Gagasan tersebut membuka ruang diskusi mengenai bagaimana kekayaan aksara tradisional Indonesia dapat diperkenalkan melalui pendekatan baru, tanpa mengabaikan nilai sejarah dan keunikan masing-masing tradisi aksara daerah.

Di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, pengenalan ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat perhatian terhadap kebudayaan Banjar serta warisan budaya Nusantara secara lebih luas.

Melalui pendekatan pendidikan dan kebudayaan, masyarakat diharapkan tidak hanya mengenal aksara sebagai bentuk tulisan, tetapi juga memahami nilai sejarah dan identitas yang melekat di dalamnya.

Salah seorang warga Banjarbaru Muhammad Nursirwan mengaku sangat tertarik mempelajari aksara Nusantara.

Selain cara menulis dan bentuk hurufnya yang unik, baginya belajar Aksara akan menjadi trend di kalangan Gen-Z dan milenial.

“Tidak sabar ingin chat-chatan di handphone pakai huruf di era Majapahit,” katanya kepada Redaksi8.com.

“Seru (belajarnya<-red) kaya kode Morse,” sambungnya.

Indonesia memiliki beragam aksara tradisional yang berkembang di berbagai wilayah.

Namun, gagasan Aksara Nusantara hadir dengan tujuan mengembangkan sebuah sistem aksara yang terinspirasi dari warisan tersebut dan dirancang agar lebih sederhana serta relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.

Inisiatif yang dikembangkan Keraton Majapahit Jakarta ini membawa sejumlah tujuan utama.

Pertama, menjadi simbol persatuan.

Aksara Nusantara diperkenalkan sebagai gagasan identitas visual bersama yang diharapkan dapat memperkuat rasa kebangsaan di tengah keberagaman budaya Indonesia.

Kedua, mendekatkan kebudayaan kepada generasi muda.

Pengembangan aksara tidak hanya diarahkan pada pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga berpotensi diterapkan dalam berbagai bidang kreatif, seperti desain grafis, animasi, komik, permainan digital, hingga perfilman.

Pendekatan tersebut diharapkan membuat kebudayaan lebih dekat dengan kehidupan generasi muda yang tumbuh bersama teknologi digital.

Ketiga, membuka peluang pengembangan kebudayaan di era digital.

Aksara Nusantara digagas agar dapat dikembangkan sebagai identitas visual yang berpotensi menjangkau berbagai media modern, termasuk platform digital dan teknologi informasi.

Meski demikian, penerapannya dalam sistem digital seperti Unicode dan berbagai perangkat teknologi memerlukan pengembangan teknis lebih lanjut.