REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kepulangan jemaah haji embarkasi Banjarmasin asal Kecamatan Cempaka disambut meriah melalui tradisi Bategang, Kamis (18/6/26).
Tradisi turun-temurun itu kembali digelar sebagai bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan kepada para jemaah yang baru pulang dari Tanah Suci.

Setibanya di kampung halaman, para jemaah langsung diarak dan disambut keluarga serta masyarakat.
Prosesi pun diawali dengan lantunan hadrah dan tarian sinoman yang mengiringi perjalanan jemaah sebelum tiba di rumahnya masing-masing.
Suasana semakin semarak dengan penampilan para jemaah dan warga yang mengenakan pakaian bernuansa Timur Tengah.
Jemaah perempuan tampil dengan kain berwarna-warni dan turban haji, sementara jemaah laki-laki mengenakan busana khas Arab.
Salah satu jemaah haji, Muhammad Leisi mengaku terharu atas sambutan hangat yang diberikan masyarakat setelah sekitar 40 hari menjalankan ibadah haji.
“Alhamdulillah sudah sampai ke tanah air setelah kurang lebih 40 hari di Tanah Suci. Rindu keluarga tentunya. Luar biasa terharu disambut dengan sangat meriah oleh tokoh agama dan tokoh masyarakat. Ini bisa mengangkat budaya kita di Cempaka, budaya Bategang,” ujarnya.
Ia berharap tradisi tersebut dapat terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Cempaka.
“Habis ini tentunya kumpul-kumpul sama keluarga, selamatan, arak-arakan, dan temu kangen,” ucapnya.
Sementara itu, Staf Ahli Wali Kota Bidang Hukum dan Politik, Marhain Rahman mengatakan, Bategang menjadi salah satu budaya lokal yang perlu terus dijaga dan dikembangkan.
“Pemerintah daerah komitmen untuk melestarikan budaya-budaya yang ada di Banjarbaru, seperti Bategang ini. InsyaAllah ke depannya, tadi sudah bicara juga dengan anggota Dewan, mereka mendukung agar kebudayaan Bategang bisa dilestarikan dan dikembangkan lagi agar lebih berkembang,” jelasnya.
Menurutnya, Bategang memiliki makna mempererat silaturahmi melalui tradisi bersalaman dan berpelukan.
Dalam pelaksanaannya, para jemaah juga terlebih dahulu diajak berziarah ke makam keluarga atau leluhur sebelum pulang ke rumah.
“Setelah (bersalaman) ini, mereka biasanya jalan ke kuburan leluhurnya, keluarganya, atau orang tuanya untuk ziarah terlebih dahulu. Setelah itu baru bersilaturahmi kepada tetangga dan pulang ke rumah,” tuturnya.
Marhain berharap, para jemaah yang telah kembali dari Tanah Suci dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitar.
“Mudah-mudahan jemaah ini menjadi suri tauladan di masyarakat dan bisa mempertahankan tindakan serta perilaku hajinya (menjadi haji mabrur) dalam kehidupan sehari-hari,” tutupnya.



