REDAKSI8.COM, BANJARMASIN – Kesenian Topeng Banjar yang berkembang di Barikin, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), selama ini dikenal sebagai warisan budaya yang sakral dan terikat kuat dengan aturan adat.
Namun, keterbatasan ruang pertunjukan serta pola pewarisan yang hanya dilakukan kepada keturunan tertentu memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan kesenian.

Kegelisahan itulah mendorong seniman tari Kalimantan Selatan (Kalsel), Lupi Anderiani, menciptakan Tari Topeng Srikandi.
Dimana karya itu akan dikembangkan sebagai bentuk pengenalan Topeng Banjar kepada masyarakat yang lebih luas tanpa mengubah atau mengganggu pakem Topeng Panji yang selama ini dijaga oleh masyarakat adat.
Menurut Lupi, Topeng Banjar di Barikin memiliki posisi khusus karena erat kaitannya dengan tradisi, ritual adat, hingga kegiatan pengobatan tradisional.
“Topeng Banjar di Barikin memiliki pakem Panji yang sangat disakralkan oleh masyarakat setempat. Regenerasinya cukup rumit karena hanya diturunkan kepada zuriat atau keturunan. Selain itu, pertunjukannya juga terbatas pada kegiatan adat dan ritual tertentu,” ujarnya dalam Sarasehan Tari Topeng Srikandi di Gedung Balairung Sari, Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin, Sabtu (20/6/26).
Kondisi tersebut membuat dirinya memikirkan cara agar Topeng Banjar tetap bisa dikenal oleh generasi muda tanpa harus mengubah nilai-nilai yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Pemilihan tokoh Srikandi juga dari kisah Mahabharata sebagai dasar pengembangan karya.
Dalam tradisi Mahabharata, menurutnya, terdapat ruang kreativitas yang lebih luas melalui konsep pengembangan cerita tanpa menghilangkan tokoh utama yang sudah ada.
Sebelum menciptakan karyanya, Lupi telah melakukan berbagai pendekatan kepada tokoh adat dan pelaku seni sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang berlaku.
“Pertama kami melakukan pendekatan kepada tokoh adat dan meminta pendapat apakah memungkinkan membuat topeng baru di luar pakem Panji. Salah satu yang memberikan izin adalah almarhum Dalang Dimansyah,” ungkapnya.
Pada proses kreatifnya, visual tokoh Srikandi dirancang dengan mengacu pada karakter Srikandi dalam Wayang Kulit Banjar.
Meski demikian, karya tersebut masih terus dikembangkan dan terbuka terhadap berbagai masukan dari para pelaku seni maupun tokoh adat.
“Tujuan kami bukan mengubah atau mencederai tradisi yang ada, tetapi mencari ruang agar Topeng Banjar tetap hidup, dikenal, dan berkembang di tengah masyarakat luas,” katanya.
Sementara itu, Dosen Universitas Lambung Mangkurat, Setia Budhi menilai pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui pertunjukan seni, tetapi juga perlu diperkuat dengan penelitian dan dokumentasi.
“Dari sisi akademisi, perlu diperbanyak penelitian, dokumentasi, dan pengabdian masyarakat agar Topeng Banjar tidak hanya dikenal sebagai bagian dari panggung pertunjukan, tetapi juga dapat dipelajari sebagai ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Sebab, katanya Kalimantan Selatan memiliki kekayaan budaya yang masih sangat terbuka untuk diteliti. Karena itu, mahasiswa dan dosen didorong lebih aktif melakukan kajian mengenai Topeng Banjar.
Selain penelitian, ia juga menyoroti minimnya literatur yang membahas Topeng Banjar secara khusus.
“Kehadiran buku, hasil penelitian, dan dokumentasi ilmiah dinilai penting sebagai rujukan akademik sekaligus mendukung kebijakan pelestarian budaya daerah secara berkelanjutan,” tutupnya.



