REDAKSI8.COM, BANJAR – Menjelang kegiatan rutin di Musholla Arraudhah Sekumpul yang berdekatan dengan momentum 5 Rajab 1448 Hijriah atau 2026 Masehi, berbagai persiapan mulai menjadi perhatian, terutama terkait kelancaran arus jemaah, pengelolaan dapur umum, kebersihan lingkungan hingga pengaturan lalu lintas.
Untuk mendukung kelancaran kegiatan keagamaan tersebut, Tim Induk Sekumpul menyampaikan serangkaian imbauan yang ditujukan kepada relawan dapur umum, warga yang terdampak kegiatan, jemaah Sekumpul, pengguna kendaraan serta masyarakat pengguna jalan umum.
Imbauan tersebut menjadi pedoman bersama agar pelaksanaan kegiatan berlangsung tertib, aman, nyaman, dan tetap menjaga kekhusyukan ibadah. Selain itu, koordinasi ant relawan, kepatuhan terhadap pengaturan lalu lintas, serta kepedulian terhadap lingkungan menjadi hal penting yang perlu diperhatikan seluruh pihak.

Dapur Umum Diminta Tertib, Tidak Berorientasi Keuntungan
Salah satu perhatian utama Tim Induk Sekumpul adalah pengelolaan dapur umum yang menyediakan konsumsi bagi jemaah. Warga yang ingin mendirikan dapur umum diimbau menyesuaikan kemampuan dengan ketersediaan lahan, tenaga relawan, bahan makanan, serta kemampuan finansial.
Setiap dapur umum juga diminta melapor dan berkoordinasi dengan Tim Induk Sekumpul, tim zona, atau posko terdekat sebelum memulai kegiatan. Persiapan bahan dan perlengkapan memasak hendaknya dilakukan lebih awal agar pelayanan kepada jemaah berjalan lancar.
Pembagian makanan perlu dikoordinasikan antardapur dan relawan di jalur jemaah agar distribusi merata serta tidak menumpuk di satu kawasan. Dapur umum diharapkan memprioritaskan wilayah sekitar terlebih dahulu, dengan tetap memperhatikan kualitas makanan agar tidak basi atau tidak layak dikonsumsi.
Pembagian konsumsi diutamakan pada malam hari ketika kegiatan berlangsung, dengan petugas pembagian laki-laki sebagaimana tercantum dalam imbauan.
Tim Induk Sekumpul juga menegaskan sejumlah larangan, di antaranya armada dapur umum tidak diperbolehkan hilir mudik, terutama kendaraan roda empat. Jika ada kebutuhan mendesak untuk membeli bahan atau keperluan lainnya, relawan diminta menggunakan kendaraan roda dua dengan berkoordinasi atau meminta izin kepada posko jalur yang dilalui.
Dapur umum juga dilarang mengambil keuntungan dari kegiatan, melakukan penggalangan dana terbuka atau meminta-minta, menjadikan aktivitas dapur sebagai konten media, serta menggunakan atribut organisasi atau kelompok saat bertugas sebagai relawan.
Pemasangan umbul-umbul, lampu hias, ucapan selamat datang, dan bentuk penyemarak lainnya di wilayah dapur umum juga tidak diperkenankan. Begitu pula pencantuman tulisan, lambang, atau materi promosi maupun politik pada kemasan makanan.
Dapur yang telah terdata diperbolehkan menggunakan desain baju Relawan Sekumpul yang dikeluarkan Tim Induk Sekumpul. Para relawan juga diharapkan tetap berada di wilayah tugas masing-masing, kecuali untuk keperluan mendesak atau kepentingan dapur.
Selain menjaga ketertiban, relawan diminta mematuhi tata tertib Relawan Sekumpul, saling menghormati, serta menjaga kebersihan dapur dan lingkungan sekitarnya dengan berkoordinasi bersama koordinator kebersihan.



Warga Diminta Mendukung Kelancaran dan Menjaga Lingkungan
Tim Induk Sekumpul turut mengimbau warga yang berada di kawasan terdampak kegiatan, baik yang menjadi lokasi saf jemaah maupun jalur perlintasan, agar berperan aktif mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan.
Warga diminta tidak memasang tenda di ruas jalan yang telah ditetapkan sebagai jalur utama jemaah menuju lokasi parkir atau tujuan lainnya. Koordinasi dengan posko yang bertugas di wilayah masing-masing juga diperlukan untuk mengantisipasi kendala selama kegiatan berlangsung.
Kendaraan pribadi milik warga maupun tamu keluarga yang mengikuti kegiatan diharapkan ditempatkan di lokasi parkir yang disediakan relawan atau di tempat lain yang tidak mengganggu pergerakan jemaah.
Bagi warga yang memasak atau memesan makanan dari luar kawasan, koordinasi dengan posko-posko yang akan dilintasi menjadi hal penting. Penggunaan kendaraan dan personel juga diminta disesuaikan dengan kebutuhan.
Dalam hal penyampaian informasi, masyarakat diharapkan mengacu pada informasi resmi yang dikeluarkan Tim Induk Sekumpul atau melalui media sosial dan situs web Arraudhah Sekumpul, sehingga tidak menyebarkan informasi yang keliru.
Warga yang memiliki halaman rumah juga diharapkan dapat membantu menyediakan ruang bagi jemaah untuk menggelar sajadah, bukan untuk aktivitas perdagangan. Masyarakat diminta tidak memberikan izin kepada pedagang kaki lima untuk berjualan di sekitar rumah, terlebih jika menggunakan badan jalan atau bahu jalan.
Bagi warga yang berdagang atau menyewakan rumah maupun tempat usaha, Tim Induk Sekumpul mengimbau agar harga ditetapkan secara wajar dan tidak mengambil keuntungan berlebihan dengan memanfaatkan momentum kegiatan.
Aktivitas jual beli juga diminta dihentikan selama rangkaian kegiatan di Musholla Arraudhah berlangsung, sesuai imbauan yang telah disampaikan.
Warga yang menampung keluarga atau menyediakan rumah sebagai tempat bermalam jemaah diharapkan memberikan tanda pengenal kepada para tamu. Langkah ini bertujuan membantu jemaah apabila mengalami kesulitan menemukan jalan pulang.
Sementara itu, warga Martapura, Banjarbaru, dan sekitarnya yang hendak mengikuti kegiatan diimbau meminimalkan penggunaan kendaraan pribadi guna mengoptimalkan kapasitas parkir bagi jemaah dari luar daerah.
Jemaah Diingatkan Menjaga Kesehatan dan Keselamatan
Bagi jemaah yang akan menghadiri kegiatan, persiapan fisik dan perlengkapan pribadi menjadi perhatian penting. Jemaah diminta mematuhi arahan relawan serta aparat yang bertugas di lapangan.
Jemaah yang menggunakan kendaraan bermotor diimbau memasang stiker sesuai ketentuan warna dan peruntukannya untuk memudahkan petugas mengarahkan kendaraan menuju lokasi parkir maupun jalur kepulangan.
Mereka juga diminta tidak memaksakan diri berangkat apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Jemaah yang memiliki riwayat penyakit, seperti penyakit jantung atau gangguan kesehatan lainnya, dianjurkan membawa obat-obatan pribadi dan memilih lokasi yang dekat dengan posko kesehatan.
Bagi jemaah yang membawa anak-anak atau lanjut usia, disarankan menyiapkan tanda pengenal berisi nomor telepon yang dapat digantungkan di leher atau disimpan di saku pakaian. Identitas tersebut akan membantu relawan apabila anggota keluarga terpisah dari rombongan.
Jemaah juga diingatkan menjaga barang bawaan masing-masing serta memberikan tanda pengenal pada tas atau barang pribadi untuk memudahkan proses identifikasi apabila tertinggal atau ditemukan relawan.
Persoalan kebersihan turut menjadi perhatian. Jemaah diminta menerapkan prinsip “Datang Barasih, Bulik Barasih”, yakni datang dalam kondisi lingkungan bersih dan meninggalkan lokasi tanpa sampah.
Sampah hendaknya dibawa pulang atau dibuang di tempat yang telah disediakan. Kepedulian terhadap sesama jemaah dan upaya menjaga kekhusyukan kegiatan juga menjadi tanggung jawab bersama.
Jemaah yang tinggal relatif dekat dan memungkinkan berjalan kaki, khususnya dari wilayah Martapura dan Banjarbaru, diimbau mempertimbangkan untuk tidak menggunakan kendaraan bermotor guna mengurangi kemacetan dan keterbatasan lahan parkir.
Bagi jemaah yang menyewa rumah atau tempat bermalam, mereka diminta berkomunikasi langsung dengan pemilik atau pengelola, tidak mudah mempercayai perantara yang tidak jelas, serta memastikan kebenaran informasi sebelum melakukan transaksi.
Jemaah juga disarankan datang lebih awal. Sebab, ketika penutupan jalan telah diberlakukan, perjalanan menuju tempat bermalam mungkin harus dilanjutkan dengan berjalan kaki, sementara kendaraan diparkir sesuai lokasi yang ditentukan berdasarkan warna stiker.
Jemaah yang datang lebih awal dan berharap memperoleh tempat bermalam gratis diminta mencari alternatif penginapan apabila fasilitas tersebut belum dibuka atau belum menerima jemaah.
Seluruh jemaah juga diimbau tidak meninggalkan kegiatan sebelum acara selesai demi menjaga kekhusyukan dan ketertiban bersama.

Kendaraan Wajib Parkir Sesuai Arahan Relawan
Pengaturan kendaraan roda dua dan roda empat menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan kepadatan lalu lintas selama kegiatan.
Sebelum berangkat, jemaah diminta memastikan kondisi kendaraan dan perlengkapan pendukung dalam keadaan baik. Stiker sesuai warna asal daerah harus dipasang di bagian depan kendaraan pada posisi yang mudah terlihat dan digunakan sesuai peruntukannya.
Jemaah yang ingin mendapatkan lokasi parkir lebih dekat dengan pusat kegiatan disarankan datang lebih awal. Jika merasa lelah atau mengantuk selama perjalanan, pengendara diimbau beristirahat di posko singgah atau tempat istirahat terdekat.
Kendaraan wajib diparkir di lokasi yang telah disediakan relawan dan mengikuti petunjuk arah kepulangan sesuai warna stiker. Jemaah juga diminta tidak meninggalkan lokasi parkir sebelum diperbolehkan serta memastikan memperoleh tanda atau kartu parkir.
Tim Induk Sekumpul mengingatkan bahwa lokasi parkir menentukan jalur kepulangan kendaraan. Karena itu, kesalahan memilih lokasi parkir berpotensi membuat perjalanan pulang lebih lambat atau menyebabkan pengendara memasuki jalur yang tidak sesuai.
Jemaah juga diminta tidak meninggalkan barang berharga di dalam kendaraan dan selalu mengikuti instruksi petugas di lapangan.
Untuk kepulangan, kendaraan roda empat tidak diperbolehkan keluar dari lokasi parkir sekurang-kurangnya dua jam setelah pengaturan kepulangan dimulai, kecuali terdapat instruksi berbeda dari relawan yang bertugas.
Pengaturan tersebut membagi prioritas kepulangan: satu jam pertama diutamakan bagi jemaah yang berjalan kaki, sedangkan satu jam berikutnya diprioritaskan bagi kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat menunggu hingga mendapat izin dari petugas di lokasi parkir.
Sebelum meninggalkan area parkir, pengendara diminta memastikan seluruh penumpang dan barang bawaan telah lengkap, memeriksa kembali posisi stiker, serta mengikuti jalur dan petunjuk arah yang ditetapkan.

Pengguna Jalan Umum Diminta Mengantisipasi Rekayasa Lalu Lintas
Dampak kegiatan terhadap arus lalu lintas juga menjadi perhatian Tim Induk Sekumpul. Masyarakat pengguna jalan umum yang perjalanannya terganggu dimohon memahami pengaturan yang diberlakukan demi keselamatan dan kelancaran jemaah.
Pengguna jalan diimbau mengikuti arahan relawan dan aparat, menghindari kawasan terdampak apabila tidak memiliki keperluan mendesak, serta mencari jalur alternatif ketika melintas di sekitar lokasi kegiatan.
Bagi pengendara yang tetap harus melewati kawasan tersebut, kepatuhan terhadap rekayasa lalu lintas menjadi hal penting agar perjalanan tidak berbenturan dengan arus kedatangan maupun kepulangan jemaah.
Kendaraan roda enam atau lebih juga diminta mematuhi arahan petugas sesuai ketentuan dalam edaran resmi.
Perhatian khusus diberikan pada arus kepulangan jemaah. Pada saat tersebut, jalan-jalan utama akan diprioritaskan untuk mengalirkan kendaraan dan jemaah yang meninggalkan kawasan kegiatan.
Jalur Jalan Ahmad Yani, khususnya dari Martapura menuju Banjarmasin dan menuju kawasan Hulu Sungai, direncanakan diberlakukan satu arah atau one way dengan memanfaatkan seluruh lajur sesuai pengaturan petugas.
Dengan demikian, pengguna jalan yang hendak bergerak berlawanan arah diminta menunggu hingga kondisi memungkinkan atau menggunakan jalur alternatif agar tidak berhadapan dengan arus kepulangan jemaah.
Masyarakat yang membutuhkan bantuan selama perjalanan dapat menghubungi relawan atau aparat yang bertugas di lapangan.
Ketertiban dan Kebersamaan Jadi Kunci Kelancaran Kegiatan
Berbagai imbauan tersebut menekankan bahwa kelancaran kegiatan 5 Rajab tidak hanya bergantung pada kesiapan relawan dan aparat, tetapi juga pada partisipasi seluruh elemen masyarakat.
Pengelolaan dapur umum yang tertib, dukungan warga, kesiapan jemaah, kepatuhan terhadap aturan parkir, serta kesadaran pengguna jalan menjadi bagian yang saling berkaitan dalam menciptakan suasana aman dan nyaman.
Melalui koordinasi yang baik dan kepatuhan terhadap imbauan, seluruh pihak diharapkan dapat menjaga ketertiban, kebersihan, keselamatan, serta kekhusyukan kegiatan rutin di Musholla Arraudhah Sekumpul.
Masyarakat juga diharapkan menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan memperkuat kepedulian, saling menghormati, dan memberikan pelayanan terbaik kepada para jemaah tanpa menjadikan kegiatan keagamaan sebagai ajang mencari keuntungan pribadi.








