REDAKSI8.COM, BANJAR – Upaya memperkuat pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Banjar tidak hanya dilakukan melalui penyediaan sarana produksi, bantuan pertanian, maupun penerapan teknologi modern. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya petani dan tenaga penyuluh, juga menjadi perhatian penting Pemerintah Kabupaten Banjar dalam mendorong pertanian yang lebih maju, mandiri, produktif, dan berdaya saing.

Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Banjar melalui pelaksanaan Rapat Koordinasi (Rakor) Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) se-Kabupaten Banjar yang berlangsung di Kolam Jack, Desa Bincau, Kecamatan Martapura, Kamis (5/11/2026).

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi, memperkuat komunikasi, menyamakan persepsi, sekaligus mengevaluasi pelaksanaan kegiatan penyuluhan pertanian di lapangan. Selain itu, rakor juga diarahkan untuk membangun sinergi yang lebih solid antara Dinas Pertanian, koordinator penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta Penyuluh Pertanian Swadaya yang selama ini turut berperan mendampingi para petani.

Rakor tersebut dihadiri langsung Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Warsita beserta jajaran pejabat eselon, Kelompok Jabatan Fungsional (KJF), kepala UPTD, Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Kabupaten Banjar, koordinator penyuluh, seluruh penyuluh pertanian se-Kabupaten Banjar, serta para Penyuluh Pertanian Swadaya.

Dalam kegiatan tersebut, penguatan peran penyuluh menjadi salah satu perhatian utama. Sebab, keberhasilan pembangunan pertanian tidak semata-mata ditentukan oleh ketersediaan benih unggul, pupuk, alat dan mesin pertanian (alsintan), infrastruktur pengairan, maupun teknologi produksi. Lebih dari itu, keberhasilan juga sangat bergantung pada kemampuan sumber daya manusia dalam mengelola dan mengoptimalkan seluruh potensi pertanian yang tersedia.

Petani sebagai pelaku utama pembangunan pertanian membutuhkan pendampingan yang berkesinambungan agar mampu menghadapi berbagai perubahan dan tantangan. Mulai dari penerapan pola tanam yang tepat, pengelolaan lahan secara efektif, pemanfaatan teknologi pertanian, hingga pengembangan usaha tani yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Dalam konteks inilah keberadaan penyuluh pertanian memiliki posisi yang sangat strategis. Penyuluh tidak hanya bertugas menyampaikan informasi atau memperkenalkan teknologi baru kepada petani, tetapi juga menjadi mitra yang membantu mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi dalam kegiatan usaha tani.

Penyuluh juga berperan sebagai pendamping, motivator, fasilitator, sekaligus penggerak yang mendorong petani agar semakin mandiri, memiliki pengetahuan yang memadai, serta mampu mengambil keputusan secara tepat dalam mengembangkan usaha pertaniannya.

Tidak terkecuali Penyuluh Pertanian Swadaya yang memiliki kedekatan dengan lingkungan dan komunitas petani. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperluas jangkauan pelayanan penyuluhan, mempercepat penyebaran informasi, serta memperkuat pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarpelaku pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar Warsita menyampaikan bahwa pelaksanaan tugas penyuluhan pertanian di lapangan bukanlah pekerjaan yang mudah. Para penyuluh dihadapkan pada berbagai tantangan yang terus berkembang seiring perubahan kondisi lingkungan, kebutuhan petani, serta dinamika sektor pertanian.

Beberapa persoalan yang perlu mendapat perhatian di antaranya perubahan iklim yang berpengaruh terhadap pola tanam dan produktivitas tanaman, keterbatasan sarana produksi, persoalan pengairan, hingga tantangan pemasaran hasil pertanian.

Di samping itu, perkembangan teknologi juga menuntut para penyuluh untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kompetensi. Dengan demikian, informasi serta inovasi yang disampaikan kepada petani benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.

Warsita berharap seluruh Penyuluh Pertanian Swadaya tetap menjaga semangat pengabdian, meningkatkan kapasitas diri, serta terus membangun komunikasi dan koordinasi dengan koordinator penyuluh pertanian, BPP, maupun Dinas Pertanian Kabupaten Banjar.

“Saya berharap para Penyuluh Pertanian Swadaya tetap menjaga semangat, meningkatkan kompetensi, serta terus menjalin komunikasi dan koordinasi dengan Koordinator Penyuluh Pertanian, BPP, dan Dinas Pertanian,” ujar Warsita.

Menurutnya, koordinasi yang baik merupakan salah satu kunci agar pelaksanaan program pembangunan pertanian dapat berjalan selaras, terarah, dan memberikan dampak nyata bagi petani.

Melalui komunikasi yang intensif, berbagai informasi mengenai kondisi pertanian di masing-masing wilayah dapat disampaikan dengan lebih cepat. Begitu pula persoalan yang dihadapi petani dapat segera diidentifikasi untuk kemudian dicarikan solusi bersama.

Warsita juga menekankan bahwa forum koordinasi seperti ini hendaknya tidak hanya menjadi kegiatan pertemuan rutin, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai ruang komunikasi dua arah. Para penyuluh diharapkan dapat menyampaikan aspirasi, berbagi pengalaman, serta mengemukakan berbagai persoalan yang ditemukan selama menjalankan tugas pendampingan.

“Saya juga berharap forum ini menjadi ruang untuk menyampaikan aspirasi, berbagi pengalaman keberhasilan, dan mendiskusikan berbagai kendala yang dihadapi di lapangan,” harapnya.

Dengan adanya pertukaran pengalaman tersebut, berbagai praktik baik yang telah berhasil diterapkan di satu wilayah diharapkan dapat menjadi inspirasi dan dikembangkan di wilayah lainnya. Sebaliknya, berbagai kendala yang belum terselesaikan juga dapat dibahas bersama sehingga tidak menjadi persoalan berkepanjangan.

Lebih jauh, Warsita mengajak seluruh jajaran penyuluh untuk menjadikan rakor tersebut sebagai momentum memperkuat komitmen dan tanggung jawab bersama dalam memajukan sektor pertanian Kabupaten Banjar.

Ia mengingatkan bahwa tugas penyuluh bukan sekadar menjalankan kewajiban administratif maupun menyelesaikan program kerja, melainkan bagaimana kehadiran mereka benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani dan masyarakat.

Pendampingan yang dilakukan secara konsisten diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan petani dalam mengelola usaha tani. Pada akhirnya, hal tersebut dapat berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas, kualitas hasil panen, pendapatan petani, serta keberlanjutan sektor pertanian daerah.

“Mari kita jadikan rapat koordinasi ini sebagai titik penguatan komitmen bersama untuk memajukan pertanian Kabupaten Banjar. Kita bekerja bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tetapi juga untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi petani dan masyarakat,” tegas Warsita.

Ia optimistis, melalui kerja sama yang kuat antara Penyuluh Pertanian Swadaya, BPP, koordinator penyuluh, dan seluruh jajaran Dinas Pertanian, berbagai tantangan pembangunan pertanian dapat dihadapi secara bersama-sama.

Menurutnya, PPS yang aktif, kelembagaan BPP yang kuat, komunikasi yang terjalin dengan baik, serta dukungan seluruh jajaran Dinas Pertanian merupakan modal penting untuk mempercepat kemajuan sektor pertanian di Kabupaten Banjar.

” Saya percaya, dengan PPS yang aktif, BPP yang kuat, koordinasi yang baik, serta dukungan seluruh jajaran Dinas Pertanian, pembangunan pertanian Kabupaten Banjar akan semakin maju, mandiri, dan berdaya saing,” pungkasnya.

Melalui kegiatan koordinasi ini, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar berharap terbangun kesamaan langkah dan komitmen seluruh unsur penyuluhan dalam memberikan pendampingan terbaik kepada petani.

Dengan demikian, penyuluh pertanian tidak hanya menjadi penyampai program pemerintah, tetapi juga hadir sebagai mitra strategis petani dalam mengembangkan potensi wilayah, meningkatkan kesejahteraan, serta mewujudkan pembangunan pertanian Kabupaten Banjar yang berkelanjutan.