REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Museum Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan (Kalsel), bersiap melakukan pembenahan besar pada gedung induk dengan anggaran Rp1,8 miliar. Revitalisasi yang dijadwalkan mulai awal November 2026 ini difokuskan pada penataan ruang pamer dan perbaikan vitrin atau lemari pajang koleksi museum.

Dampak dari pekerjaan tersebut, gedung induk Museum Lambung Mangkurat akan ditutup sementara selama proses revitalisasi berlangsung. Pengelola menargetkan perbaikan rampung pada Desember 2026 sehingga gedung dapat kembali dibuka untuk pengunjung pada Januari 2027.

Kepala UPTD Museum Lambung Mangkurat, Ady Surya, mengatakan anggaran revitalisasi tersebut diperoleh melalui koordinasi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Menurutnya, dana Rp1,8 miliar itu diprioritaskan untuk membenahi tata pamer agar koleksi museum dapat ditampilkan secara lebih baik dan menarik bagi masyarakat.

“Berdasarkan hasil koordinasi terakhir dengan Kementerian Kebudayaan RI, Museum Lambung Mangkurat mendapatkan alokasi anggaran Rp1,8 miliar untuk memperbaiki tata pamer atau vitrin-vitrin yang ada di dalam gedung induk,” ujar Ady di Banjarbaru, Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, pekerjaan revitalisasi direncanakan dimulai pada awal November dan berlangsung hingga Desember 2026. Penutupan gedung induk dilakukan secara menyeluruh agar proses perbaikan dapat berjalan optimal tanpa mengganggu pelaksanaan pekerjaan.

“Rencananya, kegiatan revitalisasi sudah dimulai awal November. Selama proses revitalisasi atau pemeliharaan berlangsung, gedung induk akan ditutup secara total hingga sekitar Desember. Mudah-mudahan pada Januari nanti gedung induk sudah bisa dibuka kembali secara normal,” jelasnya.

Di tengah rencana pembenahan fisik, pengelola Museum Lambung Mangkurat juga menaruh perhatian pada pengembangan layanan berbasis digital. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memberikan pengalaman baru bagi pengunjung dalam mengenal sejarah, budaya, dan koleksi museum.

Namun, kebutuhan digitalisasi tersebut belum menjadi fokus utama dalam alokasi anggaran Rp1,8 miliar yang tersedia saat ini. Ady memperkirakan anggaran tersebut lebih banyak diarahkan untuk pembenahan vitrin dan sarana penataan koleksi di gedung induk.

“Kalau melihat nilai Rp1,8 miliar, kami memperkirakan anggaran ini difokuskan untuk vitrin atau tempat tata pamer. Untuk digitalisasi, kami akan mengupayakannya lagi,” katanya.

Ia berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dapat mendukung kebutuhan pengembangan museum digital melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2027.

“Mudah-mudahan pada 2027 APBD juga bisa memfasilitasi kebutuhan tersebut karena keinginan kami untuk menjadikan museum sebagai museum digital sangat tinggi,” tutupnya.

Meski gedung induk ditutup sementara, pengelola memastikan tetap berupaya memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui area pameran lain yang masih dibuka untuk umum.

Revitalisasi ini diharapkan menjadi langkah penting dalam meningkatkan kualitas penyajian koleksi Museum Lambung Mangkurat. Dengan pembenahan sarana pamer dan rencana pengembangan digitalisasi, museum diharapkan semakin menarik, informatif, serta mampu memperkuat perannya sebagai pusat edukasi dan pelestarian sejarah serta kebudayaan Kalimantan Selatan.