Salah satu terobosan yang disiapkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar adalah inovasi Skrining TBC Serentak Masyarakat Berantas Tuberkulosis (Sintak Matras). Program ini mengandalkan pemeriksaan langsung di tengah masyarakat, termasuk menggunakan perangkat rontgen portabel untuk menjangkau kelompok berisiko.
Kepala Dinkes Kabupaten Banjar, M Noripansyah, menyampaikan hal tersebut seusai membuka kegiatan Evaluasi Tim Percepatan Penanggulangan TBC di Hotel Roditha Banjarbaru, Rabu (28/10/2026).
Noripansyah, yang akrab disapa Ipan, menjelaskan evaluasi tersebut menjadi bagian penting untuk memperkuat koordinasi dan memastikan program penanggulangan TBC berjalan lebih efektif. Upaya ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD), Dinas Sosial, Bapperida, Polres Banjar, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi kemasyarakatan.
Menurutnya, penanggulangan TBC membutuhkan kerja bersama karena tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga kondisi geografis dan perilaku masyarakat.
Kabupaten Banjar memiliki karakteristik wilayah yang beragam, mulai dari kawasan sungai, perairan, dan pesisir hingga dataran tinggi dan pegunungan. Kondisi tersebut menuntut strategi pelayanan yang mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas dan merata.
Di sisi lain, masih terdapat warga yang enggan memeriksakan diri ketika mengalami gejala atau tidak menyelesaikan pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
“Sering kali pasien yang terindikasi TBC enggan memeriksakan diri atau tidak menuntaskan pengobatan selama enam hingga sembilan bulan. Padahal, penyakit TBC dapat disembuhkan jika ditangani dengan disiplin,” ujar Ipan.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Dinkes Kabupaten Banjar mengembangkan inovasi Sintak Matras yang digagas melalui Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), di bawah koordinasi Mariana.
Program ini dirancang untuk mendorong pemeriksaan TBC secara serentak, baik bagi masyarakat yang memiliki indikasi maupun kelompok yang berisiko terpapar.
Pendekatan jemput bola menjadi salah satu keunggulannya. Petugas kesehatan dapat mendatangi lokasi masyarakat dengan membawa perangkat rontgen portabel sehingga proses skrining tidak hanya bergantung pada warga yang datang ke fasilitas kesehatan.
“Tujuannya agar masyarakat tidak lagi harus mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan awal. Kita melakukan skrining menggunakan rontgen portabel yang peralatannya sederhana dan bisa dibawa langsung ke tengah masyarakat untuk pemeriksaan secara massal,” jelas Ipan.
Inovasi ini diharapkan mempermudah akses pemeriksaan, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan maupun kelompok yang selama ini belum terjangkau layanan skrining.
Program serupa telah dilaksanakan pada Juni lalu di Pondok Pesantren Tahfiz Al-Qur’an Tanjung Rema. Dalam kegiatan tersebut, sekitar 600 siswa menjalani skrining. Sejumlah peserta terdeteksi positif dan langsung mendapatkan penanganan lanjutan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran pentingnya pemeriksaan aktif untuk menemukan kasus yang berpotensi tidak terdeteksi apabila hanya mengandalkan kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan.
Sementara itu, Mariana mengungkapkan perangkat rontgen portabel tersebut telah berada di RSUD Ratu Zalecha dan masih menjalani proses perizinan operasional. Alat itu diperkirakan mulai digunakan pada bulan berikutnya setelah proses perizinan selesai.
“Dengan adanya alat ini, kami berharap skrining dapat menjangkau lebih banyak masyarakat sehingga kasus TBC bisa ditemukan lebih dini dan segera mendapatkan penanganan,” ujarnya.
Selain memperkuat penemuan kasus TBC, Dinkes Kabupaten Banjar juga mengembangkan strategi pelayanan kesehatan yang lebih proaktif melalui program Bergerak Aktif, Identifikasi, Menjangkau, dan Bersama Melayani dalam Aksi Cek Kesehatan Gratis (Baimbai CKG).
Program yang digagas Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Banjar, M Habibi, ini tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga memastikan hasil pemeriksaan ditindaklanjuti secara berkelanjutan.
Habibi menjelaskan, data riwayat Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah terkumpul akan dimanfaatkan sebagai dasar untuk mengidentifikasi warga dengan risiko penyakit tertentu. Selanjutnya, warga tersebut didorong mendapatkan pelayanan, pemantauan, dan penanganan sesuai kebutuhan.
Dengan demikian, pemeriksaan kesehatan tidak berhenti pada pengumpulan data, tetapi menjadi pintu masuk bagi intervensi kesehatan yang lebih terarah.
“Program CKG ini merupakan prioritas nasional yang harus diselesaikan dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Melalui inovasi Baimbai CKG, kita tidak hanya mengambil data baru, tetapi juga mengoptimalkan data yang sudah ada untuk ditindaklanjuti secara serius bersama seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat kader,” terang Habibi.
Pada tahap awal, Baimbai CKG diuji coba di enam puskesmas yang mewakili karakteristik wilayah Kabupaten Banjar.
Puskesmas Aranio mewakili kawasan dataran tinggi atau pegunungan. Puskesmas Sungai Tabuk 1 dan Sungai Tabuk 2 mewakili wilayah sungai atau pesisir, sedangkan Puskesmas Kertak Hanyar menjadi perwakilan kawasan penyangga perkotaan. Adapun Puskesmas Astambul mewakili wilayah perdesaan.
Pelaksanaannya melibatkan jejaring lintas sektor, mulai dari pemerintah desa, kader posyandu, hingga fasilitas pelayanan kesehatan lanjutan di rumah sakit.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat pemantauan warga yang membutuhkan perhatian khusus sekaligus memastikan mereka memperoleh pelayanan kesehatan secara tepat.
Penguatan Sintak Matras dan Baimbai CKG menunjukkan upaya Pemkab Banjar membangun sistem pelayanan kesehatan yang tidak hanya menunggu warga datang berobat, tetapi juga aktif menemukan masalah kesehatan dan menindaklanjutinya.
Melalui skrining TBC secara jemput bola, pemanfaatan rontgen portabel, serta optimalisasi data CKG, pemerintah daerah berupaya memperluas jangkauan pelayanan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan sejak dini.
Keberhasilan strategi tersebut juga membutuhkan partisipasi masyarakat, terutama dalam menjalani pemeriksaan ketika mengalami gejala, mengikuti anjuran tenaga kesehatan, serta menyelesaikan pengobatan sesuai ketentuan.
Dengan sinergi lintas sektor dan inovasi pelayanan yang berkelanjutan, Pemkab Banjar berharap penemuan kasus TBC dapat berlangsung lebih cepat, risiko penularan dapat ditekan, dan kualitas kesehatan masyarakat semakin meningkat.









