REDAKAI8.COM, BANJAR – Potensi ikan sepat sebagai produk unggulan Desa Sungai Batang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terus didorong agar mampu memberikan nilai tambah bagi perekonomian masyarakat. Melalui program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat atau Kosabangsa 2026, inovasi teknologi pengering ikan berbasis tenaga surya diperkenalkan untuk meningkatkan produktivitas pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Program yang dilaksanakan oleh Universitas Sari Mulia Banjarmasin dengan pendampingan Universitas Muhammadiyah Malang ini tidak hanya berfokus pada pengembangan usaha perikanan, tetapi juga menyasar upaya pemenuhan gizi keluarga dan pencegahan stunting melalui pemberdayaan masyarakat.
Ketua Pelaksana Kegiatan Kosabangsa dari Universitas Sari Mulia Banjarmasin, Imam Sofyar, SE, menjelaskan bahwa Desa Sungai Batang memiliki potensi besar dalam pengolahan ikan sepat kering dan ikan asin. Namun, selama ini proses pengeringan masih sangat bergantung pada panas matahari sehingga produksi sering terkendala ketika musim hujan.
Melalui program ini, tim pelaksana menghadirkan inovasi berupa empat unit pengering ikan berbasis solar panel. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu pelaku UMKM menjaga keberlangsungan produksi, meningkatkan kapasitas pengolahan, serta mengurangi ketergantungan terhadap cuaca.
Selain penerapan teknologi, masyarakat juga akan mendapatkan pelatihan pengembangan produk agar ikan sepat kering tidak hanya dipasarkan dalam bentuk konvensional, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti ikan balado dan kukis berbahan dasar ikan.

Penguatan kualitas kemasan, pelabelan, serta pemasaran digital melalui lokapasar atau marketplace juga menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pemasaran produk unggulan Desa Sungai Batang.
Tidak hanya mendorong peningkatan ekonomi, Kosabangsa 2026 juga menghadirkan program pemberdayaan bagi ibu-ibu PKK Desa Sungai Batang melalui pemeliharaan burung puyuh dan penanaman sayuran secara hidroponik.
Dalam program ini, tim menyediakan empat kandang burung puyuh beserta 200 ekor burung puyuh, serta empat set instalasi hidroponik. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi sarana percontohan bagi masyarakat untuk mengembangkan sumber pangan bergizi secara mandiri.
Hasil budidaya burung puyuh dan sayuran hidroponik diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan protein hewani dan sayuran bagi keluarga, khususnya dalam mendukung pemenuhan gizi balita.
Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung upaya pencegahan stunting melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan ketahanan pangan keluarga, dan peningkatan kesadaran akan pentingnya asupan gizi seimbang.
Imam Sofyar berharap, seluruh fasilitas dan pendampingan yang diberikan tidak berhenti sebagai bantuan semata, tetapi dapat dikembangkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Dengan demikian, program ini diharapkan mampu menciptakan sumber penghasilan tambahan bagi keluarga sekaligus menjadi model pemberdayaan yang dapat diterapkan oleh masyarakat desa lainnya.

Pelaksanaan Kosabangsa 2026 di Desa Sungai Batang juga sejalan dengan upaya mendukung pembangunan kawasan perdesaan. Desa ini merupakan salah satu desa dalam Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) periode 2025–2029 di Kabupaten Banjar.
Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan mampu mengoptimalkan potensi lokal melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan manfaat langsung bagi kehidupan warga.
Pemerintah Desa Sungai Batang, melalui Suladi, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada tim pelaksana Kosabangsa Universitas Sari Mulia Banjarmasin, Universitas Muhammadiyah Malang, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang telah memilih Desa Sungai Batang sebagai lokasi pelaksanaan program tahun 2026.
Dukungan tersebut diharapkan menjadi momentum bagi masyarakat untuk terus berinovasi, mengembangkan usaha produktif, serta memperkuat ketahanan pangan dan gizi keluarga.
Melalui Kosabangsa 2026, Desa Sungai Batang diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan daya saing produk unggulan ikan sepat, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat dan memperkuat upaya pencegahan stunting melalui pemanfaatan potensi lokal secara berkelanjutan.









