REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Hujan lebat yang mengguyur Kota Banjarbaru selama dua hari terakhir membawa angin segar dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Titik panas dan titik api baru tidak terdeteksi, meski total luas lahan yang terdampak kebakaran sepanjang periode penanganan telah mencapai sekitar 2.100 hektare.

Kendati kondisi mulai membaik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru belum mengendurkan kewaspadaan. Petugas masih melakukan pemantauan dan pembasahan di sejumlah kawasan yang terindikasi menyisakan bara api, guna mencegah kebakaran kembali meluas.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Banjarbaru, Harun Ar Rasyid, mengatakan hujan yang turun dalam dua hari terakhir memberikan dampak signifikan terhadap penanganan karhutla, terutama setelah Banjarbaru dan sekitarnya dilanda cuaca panas selama beberapa bulan.

“Yang kita rasakan bersama, cuaca di Kota Banjarbaru dan sekitarnya ini sudah mulai agak sejuk. Kemarin ada dua hari hujan yang lebat itu dan hasilnya memang sangat-sangat signifikan,” ujarnya, Rabu (28/10/2026).

Berdasarkan pemantauan petugas di sejumlah posko, dalam beberapa hari terakhir tidak ditemukan hotspot atau fire spot baru. Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi upaya pengendalian karhutla yang sebelumnya mengancam sejumlah wilayah di Kota Banjarbaru.

Meski demikian, hujan belum membuat seluruh kawasan bekas kebakaran sepenuhnya aman. Petugas masih melakukan pembasahan di lokasi yang mengeluarkan asap tipis, terutama di wilayah utara dan kawasan selatan, termasuk Liang Anggang dan sekitarnya.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan bara api yang masih tersisa di dalam tanah maupun vegetasi kering tidak kembali menyala ketika cuaca panas datang.

“Sudah dilakukan pembasahan juga oleh teman-teman. Tapi dapat kami pastikan tidak ada fire spot baru,” tegas Harun.

Menurutnya, kondisi karhutla yang mulai terkendali tidak serta-merta menghilangkan potensi kebakaran susulan. BPBD tetap mengantisipasi kemungkinan munculnya titik panas dan titik api baru, mengingat Banjarbaru belum sepenuhnya memasuki masa peralihan menuju musim hujan.

Perubahan cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Jika hujan kembali berhenti dan suhu udara meningkat, lahan yang masih menyimpan sisa bara berpotensi terbakar kembali, terutama di kawasan yang memiliki vegetasi kering.

“Kemungkinan-kemungkinan akan terjadi hotspot baru maupun fire spot baru itu masih ada. Kita cukup bersyukur ya dengan keadaan sekarang, tapi juga tidak menutup kemungkinan nanti akan kembali lagi seperti beberapa minggu yang lalu, panas lagi dan mungkin ada sumber api yang baru,” tutupnya.

BPBD Banjarbaru pun terus mengoptimalkan pemantauan dan pembasahan di lokasi rawan. Hujan yang mulai turun diharapkan mampu membantu memulihkan kondisi lingkungan sekaligus menekan risiko karhutla, namun kewaspadaan tetap diperlukan agar kebakaran tidak kembali meluas.