REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Hujan yang mengguyur Kalimantan Selatan (Kalsel) selama tiga hari terakhir membawa angin segar dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga Kamis (29/10/2026), titik api terpantau nihil, meski tim gabungan masih menemukan sekitar empat hektare lahan yang mengeluarkan asap tipis.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra, mengatakan hujan membantu menurunkan suhu permukaan tanah secara signifikan sekaligus memadamkan sejumlah titik api yang sebelumnya terpantau di beberapa wilayah.

“Alhamdulillah, dengan turunnya hujan, suhu permukaan Kalimantan Selatan menurun secara signifikan, termasuk juga memadamkan beberapa titik api yang ada hari ini,” ujarnya.

Ia menyebutkan, berdasarkan hasil pemantauan hingga Kamis, belum ditemukan titik api baru. Namun, keberadaan asap tipis di sejumlah lokasi tetap menjadi perhatian karena berpotensi menandakan masih adanya bara yang tertinggal di dalam tanah.

“Sampai dengan hari ini, Kamis (29/10/2026), sementara hanya ada beberapa titik asap. Memang titik api sementara belum ada. Kita harapkan tidak ada titik api baru,” tambahnya.

Berdasarkan patroli udara yang dilakukan Kamis pagi, tim gabungan masih menemukan sekitar empat hektare lahan yang mengeluarkan asap tipis. Kondisi tersebut membuat upaya penanganan belum sepenuhnya dihentikan.

Petugas masih berfokus melakukan pemantauan dan memastikan bara api di dalam tanah benar-benar padam. Langkah ini penting untuk mencegah kebakaran kembali muncul, terutama ketika masih terdapat material gambut atau vegetasi kering yang mudah terbakar.

Di tengah membaiknya kondisi cuaca, dampak karhutla di Kalsel masih cukup besar. Hingga akhir Oktober 2026, total luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 28.862 hektare.

Kabupaten Barito Kuala (Batola), yang sebelumnya kerap menjadi salah satu wilayah rawan titik panas, juga menunjukkan perkembangan positif seiring turunnya hujan. Meski demikian, penurunan aktivitas kebakaran belum menjadi alasan untuk mengendurkan kesiapsiagaan.

BPBD Kalsel bersama tim gabungan tetap mengintensifkan patroli darat dan udara guna memantau wilayah rawan serta mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru.

Pengawasan ini diperlukan untuk memastikan kondisi yang mulai membaik dapat dipertahankan, sekaligus mencegah sisa bara kembali menyala dan memicu kebakaran yang lebih luas.

Selain mengandalkan hujan alami, upaya penanganan karhutla juga didukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang masih berlangsung hingga 30 Oktober 2026.

Ronny menjelaskan, pelaksanaan OMC kini telah memasuki fase keempat. Operasi tersebut menjadi bagian dari upaya mendukung penanganan karhutla melalui peningkatan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran.

“OMC tetap kita laksanakan sampai dengan nantinya tanggal 30 Oktober. Saat ini sudah memasuki OMC fase keempat,” pungkasnya.

BPBD Kalsel terus mengoptimalkan pemantauan, patroli, dan penanganan di lapangan, terutama pada lokasi yang masih mengeluarkan asap.

Meski hujan telah membantu menekan kebakaran dan titik api sementara nihil, kewaspadaan tetap diperlukan. Sebab, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh padamnya api di permukaan, tetapi juga oleh kemampuan memastikan tidak ada bara tersisa yang berpotensi memicu kebakaran susulan.