REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Pemerintah Kota Banjarbaru menunjukkan komitmen ganda dalam melindungi kesehatan warganya dengan menggabungkan program percepatan penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) dan penyaluran bantuan bagi korban terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Langkah terpadu ini direalisasikan melalui kegiatan supervisi serta pemantauan pelacakan atau tracing TBC yang diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di kawasan RT 19, Kecamatan Cempaka, Sabtu (24/10/2026).

Pelaksanaan agenda strategis tersebut dihadiri oleh Plt. Asisten I Bidang Pemerintahan Kota Banjarbaru, Raden Indra, yang hadir mewakili Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby, didampingi Tenaga Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan dan Perencanaan Pembangunan, Prof. Dr. Husaini, SKM., M.Kes.

Di sela-sela pemantauan, kegiatan ini turut diwarnai dengan penyerahan bantuan paket sembako secara simbolis kepada para kepala puskesmas. Bantuan tersebut diproyeksikan untuk disalurkan langsung kepada warga terdampak karhutla yang menderita atau menunjukkan indikasi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Menanggapi langkah preventif ini, Wali Kota Banjarbaru, Hj. Erna Lisa Halaby, menegaskan bahwa deteksi dini penyakit dan kepedulian terhadap masyarakat terdampak karhutla harus berjalan beriringan.

“Percepatan penemuan kasus TBC melalui deteksi dini harus terus diperkuat agar masyarakat yang terindikasi dapat segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan. Di sisi lain, dampak asap karhutla juga perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor agar pelayanan kesehatan dan bantuan sosial dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

“Saya berharap koordinasi antara perangkat daerah, puskesmas, dan seluruh unsur terkait terus ditingkatkan, sehingga pelayanan kesehatan dan penyaluran bantuan dapat berjalan tepat sasaran. Pemerintah hadir untuk memastikan masyarakat mendapatkan perhatian dan pelayanan yang dibutuhkan, terutama di tengah kondisi lingkungan yang berisiko bagi kesehatan,” tambahnya.

Fokus utama dari percepatan tracing TBC terintegrasi CKG ini menyasar kelompok rentan seperti kontak serumah, kontak erat, hingga masyarakat berisiko tinggi.

Melalui pola penemuan kasus secara aktif di lapangan, warga yang terindikasi TBC diharapkan bisa segera menjalani pemeriksaan lanjutan dan memperoleh penanganan medis yang tepat guna menekan risiko penularan lebih luas di tengah masyarakat.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, rangkaian program pengendalian TBC ini telah bergulir sejak 8 Agustus dan dijadwalkan berlangsung hingga November 2026.

Pemerintah menargetkan pelaksanaan di 50 lokus dengan sasaran sebanyak 100 orang pada setiap lokus. Tercatat hingga 24 Oktober, program ini telah sukses menjangkau 41 lokus dengan total 4.100 sasaran pemeriksaan.

Selain menggencarkan penanggulangan TBC, Pemkot Banjarbaru juga sigap merespons ancaman kesehatan akibat kabut asap karhutla.

Sebanyak 300 paket sembako telah disiapkan dan didistribusikan melalui 10 puskesmas di wilayah setempat, di mana masing-masing puskesmas menyalurkan 30 paket kepada warga yang memenuhi kriteria penerima manfaat.

Melalui langkah sinergis ini, Pemkot Banjarbaru berupaya memastikan perlindungan menyeluruh bagi masyarakat, baik dari ancaman penyakit menular maupun risiko gangguan pernapasan akibat perubahan lingkungan.