REDAKSI8.COM, BANJAR – Peralihan musim di Kalimantan Selatan (Kalsel) menjelang akhir 2026 menjadi perhatian seiring meningkatnya potensi hujan setelah wilayah tersebut menghadapi kemarau, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini perlu diantisipasi karena meningkatnya curah hujan berpotensi memicu banjir, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Banjar.

Memasuki November hingga Desember 2026, peningkatan curah hujan diperkirakan dapat membantu mengurangi risiko karhutla yang sebelumnya melanda sejumlah kawasan. Namun, perubahan kondisi cuaca tersebut juga membawa tantangan baru, terutama bagi masyarakat yang bermukim di daerah rawan banjir dan kawasan sekitar aliran sungai.

Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) sekaligus Ketua Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kabupaten Banjar, Badarudin, menilai pergantian musim perlu disikapi dengan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Menurutnya, perubahan ancaman bencana tidak boleh membuat masyarakat lengah terhadap kondisi lingkungan.

“Pergantian musim ini harus menjadi perhatian bersama. Ketika hujan mulai turun, kita tentu berharap ancaman karhutla berkurang. Namun, di sisi lain masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir dan cuaca ekstrem. Jangan sampai kita lengah karena merasa satu ancaman sudah mulai berkurang,” ujar Badarudin.

Kabupaten Banjar merupakan salah satu wilayah di Kalsel yang memiliki kerawanan terhadap bencana hidrometeorologi. Kondisi geografis yang dipengaruhi aliran sungai, curah hujan di kawasan hulu Pegunungan Meratus, serta pasang air dapat memperbesar potensi banjir, terutama pada wilayah dataran rendah dan permukiman di sekitar bantaran sungai.

Pengalaman banjir pada Januari 2026 menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 32.789 rumah di 12 kecamatan di Kabupaten Banjar dilaporkan terdampak genangan banjir. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bencana tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan mobilitas masyarakat.

Badarudin menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu dibangun sejak dini, salah satunya melalui penguatan komunikasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat.

Sebagai Ketua RAPI Kabupaten Banjar, pihaknya memandang komunikasi memiliki peranan penting dalam mendukung kesiapsiagaan maupun penanganan keadaan darurat. Informasi yang cepat dan akurat dapat membantu masyarakat mengetahui perkembangan situasi, mengenali potensi bahaya, serta mengambil langkah penyelamatan apabila terjadi bencana.

“Informasi harus sampai kepada masyarakat dengan cepat dan jelas. Warga perlu mengetahui kondisi di lingkungannya, terutama yang tinggal di kawasan rawan banjir. Jangan sampai masyarakat baru mencari informasi ketika air sudah masuk ke rumah,” ungkapnya.

Menurutnya, komunikasi kebencanaan juga perlu didukung melalui koordinasi antara pemerintah daerah, BPBD, aparat desa, relawan, dan berbagai unsur masyarakat. Dengan koordinasi yang baik, informasi mengenai kondisi cuaca, kenaikan muka air, jalur evakuasi, hingga kebutuhan warga terdampak dapat disampaikan secara lebih efektif.

Selain kesiapsiagaan menghadapi banjir, Badarudin turut menyoroti pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko bencana.

Dalam kapasitasnya sebagai unsur Dewan Adat Dayak, ia memandang kepedulian terhadap lingkungan perlu terus ditanamkan kepada masyarakat, termasuk menjaga kawasan hutan, kebersihan sungai, dan keseimbangan alam.

Keberadaan kawasan hutan, khususnya di wilayah Pegunungan Meratus, memiliki peranan penting dalam menjaga fungsi lingkungan dan tata air. Oleh karena itu, perlindungan tutupan lahan serta pencegahan aktivitas yang merusak lingkungan perlu menjadi perhatian bersama.

“Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. Hal sederhana seperti tidak membuang sampah ke sungai, menjaga kawasan hutan, dan tidak membuka lahan dengan cara membakar merupakan bentuk kepedulian yang dapat kita lakukan bersama,” katanya.

Di sisi lain, meskipun meningkatnya curah hujan diharapkan dapat menekan risiko karhutla, kewaspadaan terhadap kebakaran lahan tetap perlu dipertahankan. Terutama pada kawasan lahan gambut yang masih berpotensi mengalami kekeringan di lapisan tertentu maupun wilayah yang rawan aktivitas pembakaran lahan.

Upaya pencegahan melalui pemantauan kondisi lingkungan, pelaporan dini apabila ditemukan titik api, serta peningkatan kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar perlu terus dilakukan.

Menghadapi potensi peningkatan curah hujan pada akhir tahun, masyarakat juga diimbau mulai mempersiapkan langkah antisipasi, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan banjir. Persiapan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan saluran air, mengamankan dokumen penting, menyiapkan kebutuhan darurat, serta mengetahui jalur evakuasi menuju lokasi yang lebih aman.

Masyarakat juga diharapkan aktif mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BPBD serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya, khususnya ketika terjadi situasi darurat.

Badarudin menilai semangat gotong royong dan kepedulian antarmasyarakat menjadi modal penting dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Keterlibatan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, relawan, masyarakat adat, dan warga di tingkat desa diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan secara berkelanjutan.

Dengan meningkatnya potensi hujan menjelang akhir tahun, kewaspadaan terhadap banjir dan cuaca ekstrem perlu menjadi perhatian bersama. Sebab, meskipun ancaman bencana dapat berubah mengikuti kondisi musim, kesiapsiagaan, kepedulian lingkungan, dan semangat saling membantu harus terus dijaga demi keselamatan masyarakat Kabupaten Banjar.