REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kerusakan berulang pada siring beton Bantaran Sungai Kemuning kini kembali terjadi, tepatnya di wilayah Kelurahan Guntung Paikat dan Sungai Besar.
Dari pantauan Redaksi8.com, Senin (5/10) sore, ditemukan siring beton tengah ambruk hingga patah dan masuk ke tengah badan sungai.

Fenomena kerusakan infrastruktur pendukung ini mengesankan pola penanganan masalah yang berulang tanpa menyentuh akar persoalan daya tahan konstruksi, mengingat pengucuran dana daerah yang terus mengalir dari tahun ke tahun tampaknya belum mampu memutus rantai kerentanan di kawasan tersebut.
Kondisi fisik di lapangan terbilang ironis mengingat Dinas PUPR Kota Banjarbaru melalui Bidang Sumber Daya Air telah mencanangkan program rehabilitasi siring kawasan Kemuning sejak pertengahan 2026 dengan target penanganan pada sepuluh segmen prioritas.

“Dari hasil inventarisasi kami, terdapat banyak kerusakan seperti longsor dan retakan, sehingga perlu segera perbaikan,” ujar Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Banjarbaru, Denny Pramudji beberapa waktu telah lewat.
Proyek perbaikan yang sejatinya dirancang untuk mengejar ketepatan waktu dan kualitas penanganan tersebut awalnya ditargetkan rampung pada September setelah dimulai sejak April lalu.
“Pengerjaan mulai April dan target selesai pada September, jadi kurang lebih enam bulan masa pekerjaan,” sebutnya.
Namun hingga memasuki Oktober 2026, realisasi di lapangan menunjukkan masih adanya segmen siring rusak yang belum tersentuh perbaikan secara menyeluruh.

Catatan historis menunjukkan kerapuhan siring Sungai Kemuning bukanlah isu baru.
Data base Redaksi8.com, sejak tahun 2020 insiden ambruknya siring sepanjang 10 meter setinggi 2,5 meter di dekat Menara Pandang Kilometer 33 serta keretakan di Gang Keramat telah menyedot dana pemeliharaan APBD sekitar Rp200 juta.
Kebocoran anggaran dan perbaikan reaktif tersebut terus berlanjut saat siring di samping Jembatan Kembar Kilometer 33 ambruk pada 2022, hingga disusul pengucuran dana fantastis senilai Rp5,6 miliar.
Selanjutnya di tahun 2024 untuk Peningkatan Sungai Kemuning Segmen 2 sepanjang 780 meter, serta alokasi Rp2,5 miliar pada 2025 untuk area Jembatan Kembar Sungai Besar.
Rentetan alokasi anggaran bernilai miliaran rupiah yang terus digelontorkan saban tahun itu memunculkan tanda tanya besar terkait efektivitas perencanaan serta kualitas pengerjaan proyek oleh pihak terkait.
Meski lokasi kerusakannya di tempat yang berbeda-beda, harapnnya penataan kawasan Bantaran Sungai Kemuning tidak dijadikan sekadar ‘Proyek Abadi’ yang terus menyedot kas daerah, melainkan hadir sebagai solusi infrastruktur yang benar-benar kokoh, solutif, dan berdampak nyata dalam melindungi warga bantaran dari ancaman banjir saat musim hujan tiba.







