REDAKSI8.COM, BANJARMASIN – Di balik riuh prestasi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di kancah nasional, terselip kisah haru sekaligus inspiratif dari seorang mahasiswi Program Studi Pendidikan Khusus, Mutiara Rahmadani.
Tanpa persiapan panjang, Mutiara sukses membawa pulang trofi Juara 2 Cabang Tartil Sensorik Netra Putri pada Pekan Tilawatil Quran (PTQ) RRI 2026.
Lahir di Balikpapan, perjalanan Mutiara menuju podium juara tidaklah instan.
Keahliannya melantunkan ayat suci Al-Qur’an justru diasah secara mandiri sejak kecil.
Hanya bermodalkan telinga untuk menyimak speaker Al-Qur’an dan ketekunan untuk menirukannya, ia tumbuh menjadi qariah berbakat secara otodidak.
Lomba tingkat nasional tersebut merupakan debut pertamanya.
Namun, bagi Mutiara, kompetisi ini bukan sekadar soal piala, melainkan tentang koneksi dan ruang berbagi.
“Yang paling berkesan bagi saya adalah ini pengalaman pertama mengikuti lomba seperti ini. Saya juga bisa bertemu teman-teman tunanetra dari berbagai daerah, itu sangat membahagiakan,” ungkapnya.
Kehidupan Mutiara berubah drastis saat ia duduk di bangku kelas 10 SMA.
Kepergian sang ayah memaksanya untuk menanggalkan ketergantungan dan mulai memeluk kemandirian di tengah keterbatasan penglihatan.
“Setelah ayah meninggal, saya mulai belajar pergi ke mana-mana sendiri, bahkan menggunakan ojek online. Dari situ saya belajar untuk lebih mandiri,” tuturnya.
Kemandirian itu pula yang membawanya merantau dari Balikpapan ke Banjarbaru untuk menempuh pendidikan tinggi di ULM.
Kini, menetap di sebuah panti tunanetra, Mutiara berjuang menyelesaikan studinya dengan dukungan beasiswa penuh dari PT Bayan, termasuk fasilitas laptop khusus untuk menunjang perkuliahannya.
Keberhasilannya di ajang PTQ 2026 dengan persiapan yang hanya memakan waktu dua hari menjadi bukti nyata bahwa batasan fisik bukanlah dinding penghalang.
“Informasi lomba saya dapatkan dari salah satu guru di panti asuhan tunanetra tempat saya tinggal. Persiapannya memang sangat singkat, tapi alhamdulillah lolos seleksi dan saya bisa mengikuti grand final,” ujarnya.
Mutiara memiliki mimpi besar yang melampaui gelar juara.
Ia ingin mendedikasikan hidupnya sebagai pengajar bagi sesama penyandang disabilitas demi meruntuhkan tembok stigma di masyarakat.
“Saya ingin membantu teman-teman tunanetra yang belum mendapat kesempatan sekolah. Masih banyak stigma terhadap penyandang disabilitas, dan saya ingin ikut mengubahnya,” katanya penuh harap.
Prestasi ini disambut hangat oleh pihak kampus. Dr. Utomo, dari Pusat Pengembangan Pendidikan Inklusif dan Layanan Disabilitas LPMPP ULM, berharap langkah Mutiara menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa disabilitas lainnya.
“Ini sungguh luar biasa, kami merasa bangga dan mudah-mudahan nanti ke depannya tetap semangat mengikuti lomba lainnya. Semoga ini menjadi motivasi bagi teman-teman penyandang disabilitas yang lain untuk ikut mengembangkan bakat dan minatnya di bidang masing-masing,” ucap Dr. Utomo.
ULM menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan ruang inklusif bagi seluruh mahasiswa agar dapat mengukir prestasi, membuktikan bahwa potensi manusia tidak ditentukan oleh apa yang terlihat, melainkan oleh tekad yang kuat.










Komentar