REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Di tengah isu inflasi pangan, Kalimantan Selatan (Kalsel) mengahadirkan inovasi baru yakni padi apung menjadi sebagai solusi untuk mengoptimalkan lahan rawa yang sering terendam banjir.
Dari lahan rawa yang dulu dianggap sulit ditanami padi, kini lahir panen yang melimpah, bahkan pemakaian pupuk lebih hemat dibanding sawah biasa.
Dalam kegiatan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di Banjarbaru inj, Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), Muhidin mengatakan, padi apung meningkatkan produktivitas pertanian, dan mendukung ketahanan pangan nasional.
“Padi terapung (apung) ini hanya ada di Kalsel, tepatnya di tiga daerah yaitu Barito Kuala (Batola), Hulu Sungai Selatan (HSS), dan Hulu Sungai Utara (HSU),” sebutnya di Gedung BPSDM, Jalan Panglima Batur, Kota Banjarbaru, Kamis (25/9/25).
Muhidin menuturkan, pemotongan padi secara simbolis yang digelar dalam acara GNPIP itu seharusnya dilakukan di lokasi pertanian secara langsung.
“Tetapi sebagian sudah dipanen lebih dulu karena padi sudah menguning,” ucapnya.
Kendati demikian, panen tetap berjalan walaupun seremonial dilaksanakan dengan hasil panen dari tiga daerah itu menunjukkan angka yang mencolok.
“Per hektare nya, di Batola hasilnya lebih tinggi, bisa 7-8 ton sedangkan di HSS dan HSU 6-7 ton,” ungkapnya.
Adanya perbedaan hasil tersebut, dikarenakan bibit padi pada sawah di tiga daerah itu menggunakan jenis yang berbeda.
“Batola menggunakan bibit lokal seperti Siam Unus dan Mayang. Sedangkan di HSS dan HSU memakai campuran, jadi hasilnya lebih rendah,” bebernya.
Namun, menurutnya, efisiensi padi terapung yang tidak bisa diabaikan terkait penggunaan pupuk, sehingga lebih menghemat biaya.
“Kalau di sawah biasa, pupuk banyak yang terurai dan hilang. Tapi di padi terapung pupuk langsung terarah ke tanaman, jadi lebih hemat dan lebih bermanfaat,” terangnya.
Meski begitu, Ia menyebutkan, potensi padi terapung akan menyebar ke wilayah lainnya walaupun dalam jumlah yang terbatas.
“Mungkin di Hulu Sungai Tengah (HST) juga ada, walau tidak banyak. Yang jelas, HSS dan HSU masih jadi lumbung utama,” pungkasnya.



