REDAKSI8.COM, BANJAR – Memasuki musim kemarau, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas budidaya ikan di keramba jala apung. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi kualitas air sungai tetap mendukung kehidupan ikan sekaligus mengantisipasi potensi kerugian yang dapat dialami para pembudidaya akibat menurunnya debit air.
Kepala Dinas Ketahan Pangan dan Perikanan Kabupaten Banjar Sipliansyah Hartani melalui Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Bandi Chairullah, melakukan pemantauan langsung ke sejumlah lokasi budidaya ikan di aliran Sungai Arfat dan Desa Mali-Mali.
Kegiatan tersebut bertujuan mengecek kondisi kualitas air, terutama kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO), tingkat keasaman (pH), suhu air, hingga kedalaman sungai yang terus mengalami penurunan akibat musim kemarau.
Saat melakukan pengukuran di wilayah hilir Desa Sungai Arfat, tim menemukan kadar oksigen terlarut hanya berada di kisaran 1 mg/liter, dengan suhu air mencapai 29,7 derajat Celsius, pH 6, dan kedalaman sungai berkisar 1,5 hingga 3 meter. Kondisi tersebut menunjukkan kualitas air mulai menurun sehingga perlu menjadi perhatian serius bagi para pembudidaya ikan.
Sementara itu, hasil pemantauan di Desa Mali-Mali pada pukul 18.25 WITA menunjukkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Kadar oksigen terlarut berada pada kisaran 0,61 hingga 1,3 mg/liter, dengan pH tetap 6, kedalaman sungai hanya 1 hingga 2,5 meter, serta permukaan air sungai telah mengalami penurunan sekitar 2 meter. Tingkat kecerahan air juga tercatat antara 75 hingga 102 sentimeter.
Menurut Bandi Chairullah, rendahnya kadar oksigen terlarut menjadi ancaman bagi ikan yang dipelihara di keramba jala apung. Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, ikan akan mengalami stres, sulit bernapas, bahkan berpotensi mengalami kematian massal.

Ia menjelaskan bahwa pihak dinas sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi sejak Mei hingga Juni 2026 dengan memberikan sosialisasi, pengumuman, dan imbauan kepada seluruh pembudidaya ikan mengenai potensi dampak musim kemarau.
Dalam sosialisasi tersebut, para pembudidaya diminta memperkirakan waktu panen sebelum debit air sungai mengalami penurunan drastis. Selain itu, mereka juga diingatkan agar tidak melakukan penebaran benih ikan dengan kepadatan yang terlalu tinggi sehingga kebutuhan oksigen ikan tetap dapat terpenuhi meskipun kualitas air menurun.
“Sejak Mei sampai Juni kami sudah mengingatkan para pembudidaya agar mewaspadai perubahan iklim yang memasuki musim kemarau. Kami mengimbau mereka mengatur jadwal panen lebih awal dan tidak menebar ikan terlalu padat agar risiko kerugian bisa diminimalkan,” jelas Bandi.
Di lapangan, dampak musim kemarau mulai dirasakan langsung oleh para pembudidaya. Salah satunya adalah Salmi, pembudidaya ikan di Desa Mali-Mali.
DKPP Kabupaten Banjar berharap seluruh pembudidaya terus memantau kondisi sungai selama musim kemarau berlangsung. Perubahan kualitas air dapat terjadi dengan cepat, sehingga diperlukan kewaspadaan dan langkah antisipasi sejak dini untuk menjaga keberlangsungan usaha budidaya ikan.

Melalui pemantauan rutin dan koordinasi dengan para pembudidaya, pemerintah daerah berupaya menekan risiko kematian ikan akibat penurunan kualitas air. Langkah ini diharapkan mampu menjaga produktivitas sektor perikanan budidaya di Kabupaten Banjar sekaligus melindungi pendapatan masyarakat yang menggantungkan mata pencaharian dari usaha budidaya ikan di keramba jala apung.
Salmi mengatakan permukaan air sungai saat ini telah turun sekitar dua meter dibandingkan kondisi normal. Akibatnya, pasokan oksigen di dalam air semakin berkurang sehingga ikan bawal yang dipeliharanya mulai menunjukkan gejala kekurangan oksigen.
Meski demikian, kondisi tersebut masih dapat diatasi karena ikan segera dipanen sebelum mengalami kematian. Sekitar 500 kilogram ikan bawal berhasil diangkat dari keramba dan langsung dijual sehingga kerugian yang lebih besar dapat dihindari.
Ia mengaku bersyukur panen darurat masih bisa dilakukan tepat waktu. Jika panen terlambat beberapa hari saja, ikan dikhawatirkan akan mati akibat rendahnya kandungan oksigen di dalam air.



