REDAKSI8.COM, NASIONAL – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mengusulkan, posisi gerbong perempuan pada armada KRL dipindah ke area tengah rangkaian kereta.
Sedangkan, posisi gerbong laki-laki diletakan di bagian depan dan belakang.

Usulan ini disampaikan menyusul tragedi KRL dihantam Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4) malam.
Arifah berencana mendorong evaluasi aturan tata letak tersebut kepada PT KAI.
Ia menilai penempatan di area tengah akan memberikan perlindungan ekstra bagi penumpang perempuan dari risiko fatalitas ketika terjadi benturan dari arah muka maupun buritan kereta.
“Tadi kita ngobrol dengan KAI itu kenapa ditaruh di paling depan, paling belakang, supaya tidak terjadi rebutan. Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah. Jadi yang laki-laki di ujung,” ujar Arifah di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi, Selasa (28/4).
Statement menteri PPPA itu memunculkan komentar geram dan pedas dari nitizen Indonesia sendiri di sosial media.
Banyak yang menilai statement untuk peristiwa itu tidak pada tempatnya.
“Semestinya yang dibenerin itu sistem dan mekanisme pengoprasian KRL-nya, bukan susunan orang di dalamnya. Mau siapa pun yang ada diposisi depan tengah hingga belakang, yang namanya kecelakaan tetap saja ada korbannya,” tulis salah seorang nitizen di kolom komentar di sejumlah medsos.
Dianulir Insiden tabrakan diduga bermula dari sebuah taksi berwarna hijau yang mogok di Perlintasan Ampera, tidak jauh dari stasiun.
Kendaraan yang berhenti di jalur tersebut menghambat laju perjalanan, sehingga KRL Commuter Line TM 6024 terpaksa tertahan di Stasiun Bekasi Timur.
Situasi yang semula terkendali berubah menjadi kepanikan ketika, sekitar pukul 21.00 WIB, Senin (27/4/2026), terdengar suara benturan keras dari arah belakang rangkaian KRL.
Ternyata, lokomotif Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek 4 menghantam bagian belakang KRL, tepatnya gerbong khusus wanita.
Benturan keras tidak dapat dihindari. Bahkan, bagian kepala lokomotif dilaporkan masuk hingga ke dalam gerbong wanita, memperparah dampak tabrakan dan memicu kepanikan penumpang.
Peristiwa tragis ini diduga terjadi akibat rangkaian KRL yang tertahan di jalur, sementara dari arah yang sama melaju KA Argo Bromo Anggrek. Jarak yang semakin dekat membuat tabrakan tidak terelakkan.
Dari informasi sementara yang dihimpun, insiden ini mengakibatkan adanya korban jiwa sebanyak 15 orang, serta sejumlah penumpang mengalami luka-luka.
Hingga kini, proses evakuasi dan penanganan korban masih terus dilakukan oleh petugas di lokasi kejadian.



