REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kebocoran pipa transmisi air baku di Balai Pengelolaan Air Minum (BPAM) Banjarbakula di Desa Mandikapau, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar berdampak pada pasokan air bersih bagi warga di Kota Banjarbaru.

Aliran air leding yang tidak menentu membuat warga mesti bersiaga menampung air saat kembali mengalir, bahkan membeli air galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Seperti salah satu warga Sukamara, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, Rahmi mengatakan, pasokan air di rumahnya sudah beberapa hari terganggu.

Air terkadang mengalir pada jam tertentu, namun tidak berlangsung lama air kembali mati tanpa waktu yang bisa dipastikan.

“Dari hari Minggu tadi sudah mati, tapi kadang ada di jam-jam tertentu mau (air mengalir<-red), kena (nanti<-red) mati pulang (lagi<-red),” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (15/10/26).

Ia mengatakan, kondisi aliran yang tidak menentu membuatnya harus terus memantau keran supaya bisa segera mengisi bak penampungan ketika air kembali mengalir.

“Sekitar 5 harian sudah kaya ini, tapi kena ada mau setumat-setumat, itu gin kada kawa ditebak jam berapanya benyala, jadi siap siaga tarus melihati keran supaya pas ledengnya nyala langsung meisi bak-bak yang kosong,” tuturnya.

Meski demikian, Rahmi berharap aliran air dapat segera kembali normal setelah perbaikan kebocoran pipa selesai dilakukan.

Namun sekarang ini airnya sudah mulai berangsur mengalir deras.

“Tapi ini tadi mau pang sudah (airnya sudah mengalir<-red), deras nah, mudahan ai ampih sudah mati-mati (semoga aliran airnya tidak mati lagi<-red) karena sudah di perbaiki kebocorannya,” katanya.

Gangguan serupa turut dirasakan Dhanti, warga Jalan Dedikasi, Landasan Ulin.

Ia mengaku baru memasang sambungan PDAM setelah sumur di rumahnya mengering.

Namun, ketika sambungan sudah terpasang, pasokan air justru kembali terganggu.

“Kemarin sumur kekeringan ngga ada airnya, terus masang PDAM, eh sudah dipasang malah mati lagi,” ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari mencuci piring hingga kebutuhan makan dan minum, ia terpaksa membeli air galon setiap hari.

Dalam sehari, ia menghabiskan sekitar 10 galon dengan harga Rp5 ribu per galon.

“Jadi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kaya cuci piring, makan minum sama yang lainnya itu beli air galon setiap hari 10 galon, satu galon harganya Rp5 ribu,” jelasnya.

Dhanti berharap, pasokan air leding kembali lancar agar kebutuhan sehari-hari keluarganya dapat terpenuhi tanpa harus terus membeli air galon.

“Semoga hari ini tidak mati-mati lagi ledingnya, ini sudah nyala, jangan mati-mati lah, susah ngga ada air,” pungkasnya.