REDAKSI8.COM, BANJAR – Pemerintah Kabupaten Banjar terus menegaskan komitmennya dalam memutus mata rantai putus sekolah dan mewujudkan pendidikan yang inklusif. Jumat (4/7/2025), Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banjar menggelar koordinasi intensif bersama Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FK PKBM) di Sanggar Kegiatan Belajar (SPNF SKB) Banjar, sebagai langkah strategis menangani persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS).
Pertemuan ini bukan sekadar ajang diskusi, melainkan titik tolak memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan nonformal dalam merespons kondisi riil di masyarakat, di mana masih banyak anak usia sekolah yang belum mengenyam bangku pendidikan karena berbagai faktor—ekonomi, sosial, budaya hingga geografis.
Kepala Disdik Kabupaten Banjar, Hj. Liana Penny, dalam arahannya menegaskan bahwa FK PKBM harus menjadi ujung tombak dalam merangkul kembali anak-anak yang terpinggirkan dari sistem pendidikan formal.
“Kami sangat berharap FK PKBM mampu menjadi garda terdepan dalam menyentuh keluarga dan komunitas, terutama di wilayah-wilayah dengan angka ATS yang tinggi. Pendidikan adalah hak semua anak, dan tugas kita bersama untuk memastikan tidak ada yang tertinggal,” tegas Liana Penny.
Lebih lanjut, ia mendorong peningkatan kualitas layanan PKBM, baik dari sisi pengelolaan, tenaga pendidik, hingga pendekatan sosial terhadap masyarakat.
Sementara itu, Ketua FK PKBM Kabupaten Banjar, Zainal Abidin, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun sinergi antar pemangku kepentingan serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan nonformal sebagai solusi alternatif.
“Masih banyak yang memandang pendidikan nonformal sebelah mata. Padahal, PKBM dapat menjadi jembatan emas bagi anak-anak dan warga yang belum sempat sekolah atau putus di tengah jalan,” ujar Zainal.
Ia menambahkan, FK PKBM akan terus melakukan pemetaan wilayah-wilayah rawan ATS dan memperkuat pendekatan humanis dalam mengajak anak-anak dan keluarganya kembali belajar.
Koordinasi ini juga dihadiri jajaran struktural dari Disdik Banjar, antara lain Kepala Bidang Bina PAUD dan PNF Arliza Mayasari, Kasi Pendidikan Nonformal Ika Afriana Dahliani, serta Kasi Sarpras PAUD dan PNF Sakti Nugroho.
Para peserta membahas strategi teknis, termasuk peningkatan kapasitas tutor PKBM, penguatan program kesetaraan, dan penyusunan peta jalan penanganan ATS berbasis desa/kelurahan.
Dengan semangat gotong royong, forum ini diharapkan menjadi titik balik dalam mendorong masyarakat Banjar agar semakin sadar dan peduli terhadap masa depan generasi muda. Karena di balik setiap anak yang kembali sekolah, ada masa depan yang diselamatkan.
Pertemuan ini bukan sekadar ajang diskusi, melainkan titik tolak memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan nonformal dalam merespons kondisi riil di masyarakat, di mana masih banyak anak usia sekolah yang belum mengenyam bangku pendidikan karena berbagai faktor—ekonomi, sosial, budaya hingga geografis.
Kepala Disdik Kabupaten Banjar, Hj. Liana Penny, dalam arahannya menegaskan bahwa FK PKBM harus menjadi ujung tombak dalam merangkul kembali anak-anak yang terpinggirkan dari sistem pendidikan formal.
“Kami sangat berharap FK PKBM mampu menjadi garda terdepan dalam menyentuh keluarga dan komunitas, terutama di wilayah-wilayah dengan angka ATS yang tinggi. Pendidikan adalah hak semua anak, dan tugas kita bersama untuk memastikan tidak ada yang tertinggal,” tegas Liana Penny.
Lebih lanjut, ia mendorong peningkatan kualitas layanan PKBM, baik dari sisi pengelolaan, tenaga pendidik, hingga pendekatan sosial terhadap masyarakat.
Sementara itu, Ketua FK PKBM Kabupaten Banjar, Zainal Abidin, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun sinergi antar pemangku kepentingan serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan nonformal sebagai solusi alternatif.
“Masih banyak yang memandang pendidikan nonformal sebelah mata. Padahal, PKBM dapat menjadi jembatan emas bagi anak-anak dan warga yang belum sempat sekolah atau putus di tengah jalan,” ujar Zainal.
Ia menambahkan, FK PKBM akan terus melakukan pemetaan wilayah-wilayah rawan ATS dan memperkuat pendekatan humanis dalam mengajak anak-anak dan keluarganya kembali belajar.
Koordinasi ini juga dihadiri jajaran struktural dari Disdik Banjar, antara lain Kepala Bidang Bina PAUD dan PNF Arliza Mayasari, Kasi Pendidikan Nonformal Ika Afriana Dahliani, serta Kasi Sarpras PAUD dan PNF Sakti Nugroho.
Para peserta membahas strategi teknis, termasuk peningkatan kapasitas tutor PKBM, penguatan program kesetaraan, dan penyusunan peta jalan penanganan ATS berbasis desa/kelurahan.
Dengan semangat gotong royong, forum ini diharapkan menjadi titik balik dalam mendorong masyarakat Banjar agar semakin sadar dan peduli terhadap masa depan generasi muda. Karena di balik setiap anak yang kembali sekolah, ada masa depan yang diselamatkan.



