Minggu, 6 September 2026
  • Login
  • Register
Redaksi 8
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Indeks Berita
  • Pemerintahan
    • DPRD Kalimantan Timur
    • DPR RI
    • dprd balangan
    • DPRD banjarbaru
    • DPRD Kalimantan Timur
    • DPRD Kabupaten Banjar
    • DPRD Kabupaten Kotabaru
    • DPRD Kabupaten Tanah Bumbu
    • DPRD Provinsi Kalimantan Selatan
    • DPRD Kapuas
    • Kapuas
    • Kabupaten Balangan
  • Regional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Hobi
  • Kuliner
  • RBU Group
  • Lainnya
    • Bschool
    • Opini
    • Female
    • Laporan Khusus
    • Legislatif
    • Peristiwa
    • Asal-Usul
    • Budaya
    • Environtment
    • Infrastruktur
    • Kesehatan
    • Layanan Publik
    • Pendidikan
    • Perikanan
    • Perkebunan
    • Pertanian
    • Peternakan
    • Religi
    • Sosial
    • Serba-serbi
    • Teknologi
    • Wisata
  • Beranda
  • Indeks Berita
  • Pemerintahan
    • DPRD Kalimantan Timur
    • DPR RI
    • dprd balangan
    • DPRD banjarbaru
    • DPRD Kalimantan Timur
    • DPRD Kabupaten Banjar
    • DPRD Kabupaten Kotabaru
    • DPRD Kabupaten Tanah Bumbu
    • DPRD Provinsi Kalimantan Selatan
    • DPRD Kapuas
    • Kapuas
    • Kabupaten Balangan
  • Regional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Hobi
  • Kuliner
  • RBU Group
  • Lainnya
    • Bschool
    • Opini
    • Female
    • Laporan Khusus
    • Legislatif
    • Peristiwa
    • Asal-Usul
    • Budaya
    • Environtment
    • Infrastruktur
    • Kesehatan
    • Layanan Publik
    • Pendidikan
    • Perikanan
    • Perkebunan
    • Pertanian
    • Peternakan
    • Religi
    • Sosial
    • Serba-serbi
    • Teknologi
    • Wisata
Redaksi 8
No Result
View All Result

Baayun Mulud: Ketika Lukisan Menjadi Zikir dan Ungkapan Cinta kepada Rasulullah

Az-Zukhairy by Az-Zukhairy
25 Agustus 2026
A A
Baayun Mulud: Ketika Lukisan Menjadi Zikir dan Ungkapan Cinta kepada Rasulullah
Share on FacebookShare on TwitterWhatsapp

REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Sebuah lukisan tidak selalu hadir hanya untuk dipandang. Di balik sapuan warna, bentuk, dan komposisi, tersimpan cerita, ingatan, doa, bahkan keyakinan yang ingin disampaikan seorang seniman kepada siapa pun yang melihatnya.

Makna itulah yang terasa kuat dalam karya “Baayun Mulud – Galuh, 2026”, karya Yesheka Arianti dengan medium acrylic on canvas. Lukisan tersebut tidak sekadar merekam sebuah tradisi masyarakat Banjar, tetapi menghadirkan Baayun Mulud sebagai simbol cinta, doa, dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Bagi Yesheka, proses melukis bukan sekadar aktivitas menggerakkan kuas di atas permukaan kanvas. Setiap sapuan warna memiliki makna. Setiap ornamen yang ditampilkan menjadi bagian dari pesan spiritual yang ingin disampaikan.

“Ulun kada sekadar mengayunkan kuas di atas kanvas. Melainkan mengayunkan cinta.” Kalimat tersebut menjadi kunci untuk memahami karya “Baayun Mulud – Galuh, 2026”. Kuas bagi Yesheka seolah menjadi perpanjangan dari perasaan. Kanvas menjadi ruang untuk menyampaikan kecintaan terhadap tradisi sekaligus kecintaan kepada Rasulullah SAW.

LihatJuga :

Masuk Pukul 09.00 Wita, SDN 1 Loktabat Utara Tiadakan Aktivitas Siswa di Luar Kelas

Perjuangkan Aspirasi Warga, DLH dan Nurkhalis Serahkan Motor Roda Tiga untuk Perkuat Kebersihan Lingkungan

Siapkan Kebun untuk Masa Pensiun, Puluhan Pohon Rambutan dan Limau Bambang Ludes Terbakar

Dukungan Penuh Pemprov Kalsel Lepas 32 Mahasiswa ULM Berlaga di Peksiminas 2026

Baayun Mulud merupakan salah satu tradisi yang memiliki akar kuat dalam kehidupan masyarakat Banjar. Tradisi mengayun anak dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW bukan hanya menghadirkan suasana perayaan, tetapi juga mengandung harapan agar anak yang diayun kelak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan berakhlak.

Melalui lukisannya, Yesheka mencoba menerjemahkan nilai tersebut ke dalam bahasa visual. Janur, bunga, wadai dan berbagai unsur yang hadir dalam karya bukan sekadar penghias. Semuanya menjadi simbol yang memiliki hubungan dengan suasana perayaan Maulid sekaligus kehidupan sosial dan budaya masyarakat Banjar.

“Setiap janur nang Ulun (saya red) lukis, adalah sholawat nang Ulun bisikkan. Setiap warna bunga lawan wadai, adalah rasa syukur ulun atas barakah lahirnya Baginda Nabi,” ungkapnya.

Dengan demikian, lukisan ini dapat dipandang sebagai sebuah bentuk zikir visual. Jika dalam zikir manusia menggunakan lisan untuk mengingat dan mengagungkan Allah, maka melalui karya ini, sang seniman menggunakan warna dan bentuk sebagai medium untuk menyampaikan rasa cinta dan syukur.

Salah satu kekuatan utama karya “Baayun Mulud Galuh, 2026” terletak pada simbol ayunan. Ayunan tidak hanya menggambarkan seorang bayi yang sedang ditimang. Lebih jauh, ayunan menjadi representasi dari sebuah perjalanan kehidupan.

Di dalam ayunan terdapat seorang anak yang masih berada pada awal perjalanan. Ia belum mengetahui bagaimana dunia akan membentuk dirinya. Karena itu, proses mengayun bukan hanya tentang menenangkan seorang bayi, tetapi juga tentang menyampaikan doa dan harapan.

Yesheka melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar seorang anak yang sedang tidur. “Di ayunan itu bukan cuma bayi nang guring, tapi ada cahaya. Cahaya nama Muhammad.”

Cahaya tersebut menjadi simbol keteladanan. Nama Muhammad bukan hanya disebut sebagai identitas seorang Nabi, tetapi menjadi representasi dari akhlak, kasih sayang, kesabaran, kejujuran dan kemuliaan yang diharapkan dapat tumbuh dalam diri setiap anak. Di titik inilah lukisan tersebut bergerak dari sekadar karya seni menjadi sebuah pesan moral.

Di tengah perubahan zaman, tradisi lokal menghadapi tantangan untuk tetap dikenal oleh generasi muda. Seni menjadi salah satu cara untuk menjaga agar sebuah tradisi tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.

Melalui lukisan, tradisi Baayun Mulud diabadikan bukan hanya dalam bentuk dokumentasi, tetapi juga melalui interpretasi personal seorang seniman. Karya seni memberikan kesempatan kepada sebuah tradisi untuk berbicara dengan bahasa yang berbeda.

Generasi yang mungkin tidak selalu hadir dalam prosesi Baayun Mulud dapat mengenalnya melalui warna, simbol dan cerita yang tertuang di atas kanvas.

Karena itu, “Baayun Mulud, Galuh, 2026” dapat dimaknai sebagai sebuah upaya untuk mempertemukan tradisi, spiritualitas, identitas Banjar dan seni rupa kontemporer dalam satu ruang.

Lukisan tersebut mengingatkan bahwa kebudayaan bukan sekadar sesuatu yang diwariskan, tetapi juga sesuatu yang terus ditafsirkan dan dihidupkan kembali oleh generasi berikutnya.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah lukisan tidak hanya ditentukan oleh seberapa indah warna yang digunakan atau seberapa kuat bentuk yang ditampilkan.

Sebuah lukisan menjadi bermakna ketika ia mampu membuat seseorang berhenti sejenak, melihat lebih dalam, lalu menemukan cerita di baliknya.

“Baayun Mulud, Galuh, 2026” menawarkan pengalaman tersebut. Ia mengajak penikmat seni melihat Baayun Mulud bukan semata sebagai tradisi masyarakat Banjar, tetapi sebagai simbol tentang bagaimana orang tua menitipkan doa kepada anaknya.

Ada cinta dalam ayunan. Ada harapan dalam setiap gerakan. Ada doa dalam setiap hiasan. Dan ada kecintaan kepada Rasulullah SAW yang diterjemahkan melalui bahasa seni.

Yesheka berharap, pesan tersebut tidak berhenti di atas kanvas. “Ulun berharap, lewat lukisan ini, setiap anak nang diayun, tumbuh jadi manusia nang berakhlak, nang meneladani sifat sidin nang paling mulia.”

Sebuah harapan sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Sebab pada akhirnya, lukisan bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh mata, melainkan tentang apa yang mampu disentuh oleh hati.

Dan dalam “Baayun Mulud, Galuh, 2026”, ayunan itu bukan hanya menggerakkan seorang anak. Ia mengayunkan doa, mengayunkan harapan, dan mengayunkan cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Shollu ‘alan Nabi Muhammad.

Share27Tweet17Send

Related Posts

Antisipasi ISPA Dampak Karhutla, PMI Banjar Bagikan 2.500 Masker kepada Warga

Antisipasi ISPA Dampak Karhutla, PMI Banjar Bagikan 2.500 Masker kepada Warga

by Az-Zukhairy
5 September 2026

REDAKSI8.COM, BANJAR — Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi ancaman di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar mendorong...

Warga Batulicin Geger, Sesosok Jasad Pria Ditemukan Membusuk di Rumah Kosong

Warga Batulicin Geger, Sesosok Jasad Pria Ditemukan Membusuk di Rumah Kosong

by erna wati
4 September 2026

REDAKSI8.COM, TANAH BUMBU — Suasana tenang di kawasan Tepi Jalan Raya Batulicin mendadak berubah geger pada Jumat (4/9/2026) sore. Warga...

Kemarau Panjang, Krisis Air Bersih Melanda 9 Desa di Halong Balangan

Kemarau Panjang, Krisis Air Bersih Melanda 9 Desa di Halong Balangan

by A. Sibawaihi
4 September 2026

REDAKSI8.COM, BANJAR – Kemarau panjang mulai membawa dampak serius bagi masyarakat di Kecamatan Halong, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. Cadangan air...

Load More

© 2018 PT. Delapan Vilandux Indonesia – Semua Hak Cipta dilindungi Undang-undang.

  • Pedoman Media Siber
  • SOP Wartawan
  • Tim Redaksi
  • Beranda
  • Indeks Berita
  • Pemerintahan
    • DPRD Kalimantan Timur
    • DPR RI
    • dprd balangan
    • DPRD banjarbaru
    • DPRD Kalimantan Timur
    • DPRD Kabupaten Banjar
    • DPRD Kabupaten Kotabaru
    • DPRD Kabupaten Tanah Bumbu
    • DPRD Provinsi Kalimantan Selatan
    • DPRD Kapuas
    • Kapuas
    • Kabupaten Balangan
  • Regional
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Hobi
  • Kuliner
  • RBU Group
  • Lainnya
    • Bschool
    • Opini
    • Female
    • Laporan Khusus
    • Legislatif
    • Peristiwa
    • Asal-Usul
    • Budaya
    • Environtment
    • Infrastruktur
    • Kesehatan
    • Layanan Publik
    • Pendidikan
    • Perikanan
    • Perkebunan
    • Pertanian
    • Peternakan
    • Religi
    • Sosial
    • Serba-serbi
    • Teknologi
    • Wisata
  • Login
  • Sign Up

© 2018 PT. Delapan Vilandux Indonesia - Semua Hak Cipta dilindungi Undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In