Kreasi dari Pengembangan Arang
REDAKSI8.COM – Arang sudah dikenal masyarakat luas sebagai bahan bakar terutama pada pengolahan makanan sehari-hari. Menjadi bahan bakar yang telah digunakan masyarakat sejak dahulu, rupanya arang memiliki cerita yang cukup panjang dan penggunaannya pun cukup variatif.
Adalah Narwanto, salah satu pengembang arang menjelaskan, arang sebenarnya tidak hanya dapat digunakan sebagai bahan bakar saja namun juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan lainnya, seperti penetralisir gelombang elektromagnetik dalam ruangan, penjernih air, hingga alat tulis.


Narwanto sendiri sehari-harinya memang berjualan arang merk Najune Binchotan. Arang aktif ini dijual sachetan untuk khasiat kesehatan, pembersih, dan lain-lain. Rumahnya di Jalan Sidomulyo Raya Nomor 16 Landasan Ulin Timur dipasanginya plang: Rumah Pengarang.
“Jenis kayu Palawan merupakan jenis kayu yang dipilih untuk pengembangan arang. Selain karena arang kayu jenis Palawan ini saat disentuh tidak menimbulkan bekas noda hitam, juga karena lebih solid, padat, keras dan tidak mudah rapuh,” ujar Narwanto di sela-sela kegiatan Bimbingan Teknis Pengembangan Arang Menjadi Produk Kreatif yang dilaksanakan di Aula Pusat Layanan Usaha Terpadu KUMKM Jalan Trikora Kota Banjarbaru, beberapa waktu lalu.

Kayu Palawan Banyak Tumbuh di Lahan Berpasir
Ia menambahkan, kayu Palawan banyak tumbuh di Kalimantan Tengah di lahan yang berpasir. Ukuran kayu ideal yang dipilih untuk kemudian diproduksi menjadi berbagai macam pengembangan produk kreatif, yaitu dari ukuran diameter 5 cm sampai 10 cm.
Sejak tahun 2012 belajar mengolah arang menjadi barang bernilai ekonomis, Narwanto terus mengembangkan karyanya. Terbaru, pemuda asal Bojonegoro ini mendapat ilham untuk lebih mengeksplorasi benda hitam hasil pembakaran dari kayu ini, yakni membuatnya menjadi sebuah alat musik.

“Jadi arang itu ada dua jenis, arang hitam sama putih, nah yang putih ini dia teksturnya keras serta kalau dibenturkan mengeluarkan suara dentingan seperti baja,” terang Narwanto.
Meski ia menyebut arang putih, tapi tetap saja penampakan warnanya hitam. Narwanto menyebutnya sebagai arang putih karena kualitas dan harga jualnya yang lebih mahal.
Untuk menghasilkan arang yang berkualitas, lebih lanjut Narwanto menyampaikan, memerlukan waktu hingga 15 hari, dari proses memasukkan kayu ke dalam tungku dan membakarnya disuhu 1.000 derajat hingga panen (menjadi arang siap pakai).
Pengembangan Kreasi Arang dapat Tingkatkan Perekonomian
Arang yang dapat dikembangkan menjadi produk kreatif, mendapatkan respon positif dari Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Ketenagakerjaan Kota Banjarbaru Drs. M. Fachruddin MM. Ia mengharapkan dengan adanya inovasi dari bahan baku arang ini, akan menambah variasi masyarakat Banjarbaru untuk berkreasi dan dapat meningkatkan perekonomiannya.

“Banjarbaru merupakan kota yang minim dengan sumber daya alam. Maka dengan memanfaatkan sumber daya manusianya, nantinya para wisatawan yang datang ke Kota Banjarbaru akan membawa hasil karya dari warga Banjarbaru dan akan dikenal luas oleh orang banyak,” pungkasnya.



