REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Rencana besar untuk menyulap kawasan bersejarah Pumpung Cempaka menjadi destinasi wisata budaya berbasis Living Museum kini harus berkejaran dengan pembebasan lahan.
Ironisnya, di tengah kuatnya komitmen berbagai pihak untuk menyumbang bangunan fisik, proyek pelestarian sejarah pendulangan intan tradisional itu justru terancam mandek akibat tidak adanya tanah yang siap bangun.

Kendala krusial tersebut mencuat dalam pertemuan strategis berbalut kegiatan berkemah santai di kawasan pendulangan intan yang digelar oleh Komite Ekonomi Kreatif (EKRAF) Kota Banjarbaru bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Sungai Tiung.
Diskusi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat tersebut sengaja diadakan untuk memetakan potensi sekaligus mencari solusi nyata atas masa depan situs sungai purba tersebut.
Padahal, secara historis, Pumpung menyimpan nilai masa lalu yang sangat mahal karena menjadi saksi bisu penemuan Intan Trisakti yang legendaris pada tahun 1965 silam.
Melalui konsep Living Museum, komunitas lokal sebenarnya ingin menyuguhkan pengalaman edukatif yang autentik mengenai proses pendulangan intan tradisional yang perlahan mulai tergerus oleh modernisasi alat tambang.
Wakil Ketua Pokdarwis Sungai Tiung, Arkani, menyatakan kesiapannya bersinergi dengan Komite EKRAF Banjarbaru untuk mewujudkan visi besar tersebut.
Namun, ia tidak menampik bahwa realitas di lapangan berkata lain terkait urusan legalitas tanah.
“Kami ingin mengedukasi wisatawan yang datang ke Pumpung dengan menunjukkan bagaimana proses asli pendulangan intan tradisional yang sebenarnya di era tahun 1965-an, tepat pada momentum sejarah Intan Trisakti legendaris ditemukan,” ungkap Arkani, Kamis (21/05/2026).
Meski demikian, Arkani menyoroti tantangan mendasar yang sedang dihadapi di lapangan.
“Banyak pihak telah kami temui agar kawasan ini menjadi kawasan wisata, namun kendala utama di lapangan adalah ketersediaan lahan untuk pembangunan infrastruktur. Ada beberapa pihak yang sebenarnya sudah berkomitmen membantu bangunan fisik, tetapi lahannya yang tidak ada,” jelasnya.
Merespons jalan buntu tersebut, Ketua Harian Komite EKRAF Banjarbaru, Narwanto, menegaskan komitmen pihaknya untuk menjembatani solusi bersama pemerintah daerah.
EKRAF berjanji tidak akan membiarkan inisiatif berbasis komunitas ini layu sebelum berkembang akibat masalah birokrasi lahan.
“Komite EKRAF Banjarbaru akan segera berkoordinasi secara intensif dengan Pemerintah Kota Banjarbaru melalui SKPD terkait untuk mendiskusikan solusi atas permasalahan lahan dan dukungan fasilitas di awal,” tegas Narwanto.
Sebagai langkah taktis jangka pendek sembari menunggu kepastian lahan utama, Narwanto melihat potensi turunan yang luas dari inisiatif ini untuk menggerakkan ekonomi warga setempat melalui pemanfaatan ruang terbuka.
“Harapan besar bisa segera terwujud, terutama di awal melalui miniatur pendulangan tradisional tersebut. Hal ini tentunya tidak menutup potensi aktivitas alternatif lainnya di kawasan Pumpung, seperti pemanfaatan area sebagai tempat kemping (camping ground) dan aktivitas ekonomi kreatif penunjang lainnya,” tambahnya.
Agenda diskusi dan kemah tersebut turut dihadiri oleh perwakilan CAF (Camping Adventure Family) Banjarbaru, pegiat wisata setempat, serta Wakil Direktur III Talent, Education & Human Development ICCN, Dr. Sri Hidayah.
Pertemuan berkala itu dipastikan akan terus berlanjut demi memastikan warisan budaya pendulangan intan tidak punah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Cempaka.



