Wartono lagi wartono lagi. Kenapa dengan Wartono? Tidak dinapikan, Wakil Walikota yang satu ini merupakan sosok yang beruntung di dalam dunia politik di Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Banjarbaru.
Kemunculannya sejak beberapa tahun yang lalu sebagai kader partai PDI Perjuangan terbilang gemilang.
Kelembutan cara bertutur kata dan ketenangannya menghadapi situasi politik dapat dijadikan figure bagi politikus-politikus muda.
Satu persatu masalah yang ditimpakan ke dia, dari dia sebelum menjabat sebagai orang nomor dua di Kota Idaman hingga akan duduk lagi, Wartono tetaplah Wartono dari PDI Perjuangan yang santun.
Disini Redaksi8.com akan kembali mengulas perjalanan politik Wartono dengan bendera partai PDI Perjuangan yang sudah membesrkan namanya bertahun-tahun, ini kisahnya.
REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Kisah Wartono berawal dari dia memperoleh kepercayaan masyarakat menjadi politisi di Partai berlogokan banteng dibawah komando Megawati Soekarno Putri.
Saat itu Wartono duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Banjarbaru Periode 2014-2019. Saat itu Wartono dikenal dengan sosok yang lembut dan tenang sebagai wakil rakyat.
Mendengarkan aspirasi masyarakat, Wartono orangnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan dan tepat dalam mencari solusi disetiap masalah.
Mungkin sosok itulah yang menambah kepercayaan masyarakat untuk memilih wartono lagi menduduki kursi wakil rakyat periode 2019-2024.
Namun peluang lain muncul. Di pesta demokrasi Pilwali Kota Banjarbaru tahun 2020 – 2024, Wartono melepaskan jabatannya sebagai wakil rakyat demi menemani Aditya Mufti Ariffin menjadi pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota.
Tapi sebelum Wartono dipinang Aditya Mufti Ariffin, terlebih dahulu Aditya berpasangan dengan Iwansyah, yang saat itu duduk menjadi Pimpinan DPRD Kota Banjarbaru.
Gejolak politik begitu kuat hingga muncul keputusan Aditya mengundurkan diri sebagai calon yang dianulir diputuskan secara sepihak, tanpa memberitahu Iwansyah sebagai bakal calon wakilnya di Pilwali Banjarbaru 2020.
Tak bisa dipungkiri memang saat itu elektabilitas petahana Nadjmi Adhani (alm) tidak bisa diganggu gugat, bahkan siapapun penantangnya menurut survei dan pengamat sulit untuk bisa menang, sehingga wajar sebagai politisi ulung Aditya memilih untuk mundur sebelum waktu pendaftaran.
Takdir berkata lain, kabar duka yang mendalam pun tersiar di semua media, Nadjmi Adhani meninggal dunia pada bulan Agustus 2020 Banjarbaru.
Warganya pun selain memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia juga berkabung atas wafatnya Walikota Banjarbaru dengan menaikkan bendera merah putih setengah tiang.
Dua pekan setelah berita berkabung, Aditya yang sebelumnya menyatakan mundur kini berubah sikap dan menyatakan diri maju sebagai bakal calon Walikota Banjarbaru.
Saat itu Wartono datang bak pangeran berkuda, yang berkomitmen akan menemani Aditya Mufti Ariffin menjadi pemimpin di kota Banjarbaru.
Berat memang bagi Wartono kala itu menerima pinangan Aditya, mengingat ia sangat akrab dengan Nadjmi Adhani (alm) dan Darmawan Jaya Setiawan yang sudah seperti saudara.
Wartono memutuskan menemani Aditya pada H-3 sebelum pendaftaran sebagai Paslon ke KPU.
Saat itu Banjarbaru memiliki tiga pasangan calon yakni, Gusti Iskandar dan Iwansyah, Aditya Mufti Ariffin dan Wartono, Martinus dan Darmawan Jaya Setiawan.
Dalam tahapannya Pilwali Banjarbaru 2020 kala itu pun penuh dengan polemik dan saling lapor ke Bawaslu Kota Banjarbaru, hingga menjelang hari pemungutan suara.
Waktu itu kemenangan berpihak kepada pasangan Aditya Mufti Ariffin dan Wartono dengan perolehan unggul dari pasangan calon lain.
Sampai tiba takdirnya, mereka berdua dilantik dan ditetapkan sebagai Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru 2020-2024.
Beruntung? Iya, Wartono begitu beruntung. Setelah dapat kepercayaan sebagai wakil rakyat, pun dia dipilih untuk memimpin rakyat.
Entah ada apa gerangan dalam perjalanannya, Aditya dan Wartono tidak seperti sebelumnya yang konsisten bersama-sama menjalankan sejumlah program-program pemerintahan dan sosial.
Sebab diperiode pemilu berikutnya (masa sekarang<-red) Aditya lebih memilih orang lain mendampinginya untuk melanjutkan periode kedua.
Aditya melepas Wartono yang sudah menemaninya tiga tahun lebih mempimpin kota Banjarbaru.
Lebih mengejutkan, Aditya banyak digadang-gadang akan berpasangan dengan orang lain, seperti Abdi dari Partai Demokrat, Mahrita dari Partai Gerindra.
Hingga akhirnya Aditya memantapkan hati berpasangan dengan Said Abdullah yang saat itu menjabat sebagai sekda Kota Banjarbaru, bukan Wartono.
Pun hal yang serupa dialami penantang mereka, Lisa Halaby. Banyak sosok yang ingin menemani Lisa Halaby maju sebagai paslon di kontestasi pilkada di Banjarbaru.
Akan tetapi, dengan banyak petimbangan, plot twist-nya Lisa Halaby memutuskan memilih satu nama, yakni Wartono.
Setelah itulah nama Wartono pun muncul sebagai penantang mendampingi Lisa Halaby kembali sebagai calon Wakil Walikota Banjarbaru.
Polemik dan drama politik di Banjarbaru pun dimulai, seperti biasa masing masing tim pemenangan melapor pasangan lainnya.
Pertama-tama Wartono dilaporkan oleh Tim Aditya atas dugaan pelanggaran pilkada rumah dinas dipasang spanduk kampanye ke Bawaslu Kota Banjarbaru.
Proses pemeriksaan dan mengumpulkan keterangan pun dilakukan oleh Bawaslu, namun pada kenyataannya Wartono tidak terbukti atas dugaan tersebut.
Lantaran rumah yang ia tempati dan dipasang spanduk kampanye merupakan rumah pribadinya bukan lagi rumah dinas yang dibiayai oleh pemko Banjarbaru.
Wartono yang dikenal pendiam dan tidak peduli akan omongan orang-orang sebagai lawan politiknya pun kali ini mengambil sikap dengan melayangkan laporan dugaan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh petahana ke Bawaslu Provinsi Kalsel.
Proses pemeriksaan pun berlangsung hingga memeriksa 35 orang saksi termasuk terlapor, hingga akhirnya Bawaslu Kalsel menyatakan bukti formil dan materil terpenuhi sesuai aturan sebagimana pasal 71 Undang-undnag Pilkada, pada akhirnya pasangan Aditya dan Said Abdullah direkomendasikan untuk dilakukan pembatalan sebagai pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru.
Tidak lama setelah rekomendasi Bawaslu Kalsel, KPU Provinsi dan KPU Kota Banjarbaru akhirnya mengumumkan pembatalan pasangan calon nomor unut 02 Aditya dan Said Abdullah pada 31 Oktober 2024.
Tidak ada upaya hukum yang dilakukan oleh Aditya maupun Said Abdullah dan timnya ke Mahkamah Agung atau ke PTUN, hingga menjelang hari pencoblosan suara yang masih memilih Aditya dan Said Abdullah dianggap sebagai suara tidak sah sebagai bentuk konsekuensi atas pelanggaran pilkada yang terbukti dilakukan oleh petahana menguntungkan pasangan calon dan merugikan pasangan calon lain.
Laporan dan gugatan pun saat ini bergulir yang dimotori oleh Said Abdullah ke Mahkamah Kosntitusi, sementara Aditya memilih untuk mengambil sikap legowo menerima semua keputusan dan ketetapan hasil pilkada Banjarbaru 2024.
Waktu pencoblosan pun tiba. Hasil pemilukada di Banjarbaru telah diputuskan Lisa Halaby dan Wartono jadi pemenangnya.
Sebab dari perhitungan suara, hanya suara Lisa-Wartono yang dianggap sah. Sedangkan suara paslon yang dibatalkan tidak sah.
Otomatis Lisa-Wartono yang akan memimpin Banjarbaru periode 2024-2029.
Beruntung?iya, Wartono kembali beridir sebegai The Lucky Guy (pria yang beruntung<-red).
Banyak hal-hal yang menggariskan wartono mesti duduk lagi jadi Wakil Walikota.
Dari kisah ini, fix Wartono duduk sebagai Wakil Walikota selama dua periode, meskipun ditemani oleh orang yang berbeda.
Kita doakan saja, diperiode kedunya Wartono dapat membuat Kota Banjarbaru jadi kota yang lebih baik dari kota yang sudah baik.



