REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Kalimantan Selatan (Kalsel) mengusulkan agar Pemerintah menetapkan harga acuan telur ayam ras berdasarkan zona wilayah.
Usulan tersebut disampaikan sebagai tindak lanjut atas anjloknya harga telur yang dinilai tidak sebanding dengan biaya produksi peternak di Kalsel.


Perwakilan Pinsar Kalsel, Sugeng mengatakan, perbedaan harga telur antara Pulau Jawa dan Kalsel menjadi persoalan utama yang memicu keresahan peternak lokal.
“Kami menyampaikan karena memang permasalahan pokok teman-teman peternak adalah regulasi harga. Disparitas antara harga yang beredar di lokal Kalimantan Selatan terjadi sangat jauh sehingga menimbulkan kegelisahan di tingkat peternak,” ujarnya usai audiensi dengan Dinas Perdagangan Provinsi Kalsel, Kamis (2/7/26).
Menurutnya, kondisi tersebut perlu segera dicarikan solusi agar pelaku usaha peternakan di daerah tetap mampu menjalankan usahanya secara berkelanjutan.
“Tujuan kami mencarikan solusi dan jalan keluar supaya teman-teman peternak serta pelaku usaha lokal tidak terganggu,” tegasnya.
Pinsar juga meminta dukungan Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel sebagai pembina sektor peternakan serta Dinas Perdagangan yang memiliki kewenangan di bidang pemasaran untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan.
“Makanya kami minta bantuan dari Dinas Perkebunan dan Peternakan selaku pembina, kemudian Dinas Perdagangan karena menyangkut pemasarannya. Kami akan terus memantau sampai benar-benar ada solusi,” ucapnya.
Sugeng menilai harga acuan nasional saat ini belum memperhitungkan perbedaan biaya produksi di setiap daerah.
Sebab menurutnya biaya produksi di Kalimantan Selatan lebih tinggi karena dipengaruhi ongkos distribusi dan harga pakan.
“Harga acuan dari Pemerintah Pusat memang sama angkanya, tetapi semestinya ada pemilahan zona. Harga yang berlaku di Jawa tidak bisa langsung menjadi acuan di Kalimantan Selatan karena biaya produksinya berbeda,” jelasnya.
Ia juga menyebut, harga acuan di Pulau Jawa berada di kisaran Rp26.500 per kilogram, sedangkan biaya pokok produksi peternak di Kalimantan Selatan telah mencapai sekitar Rp29 ribu per kilogram.
“Idealnya harga telur di Kalimantan Selatan sekitar Rp30 ribu per kilogram agar peternak merasa nyaman dan usaha bisa berkelanjutan,” tuturnya.
Kendati demikian, komunikasi antara Pinsar dengan Pemerintah Daerah (Pemda) sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun dan tidak hanya dilakukan saat harga telur mengalami penurunan.
“Kami tidak hanya berkomunikasi ketika ada masalah seperti sekarang. Selama ini kami rutin berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan dan Peternakan maupun Dinas Perdagangan terkait tata laksana usaha dan pemasaran,” pungkasnya.



