REDAKSI8.COM, BANJAR – Kebocoran pipa air baku berdiameter 1.200 milimeter milik BPAM Banjarbakula di kawasan Sungai Landas, Mandi Kapau, Kecamatan Karang Intan, berdampak pada terganggunya pasokan air curah dan air baku ke PTAM Intan Banjar.
Kondisi tersebut menyebabkan pendistribusian air bersih kepada sebagian besar pelanggan di wilayah Kota Banjarbaru dan Martapura mengalami gangguan.

Berdasarkan surat pemberitahuan dari BPAM Banjarbakula Provinsi Kalimantan Selatan, kebocoran pipa tersebut dilaporkan terjadi pada Jumat (9/10/2026) pukul 20.20 WITA.
Gangguan ini berdampak langsung terhadap operasional PTAM Intan Banjar yang selama ini mengandalkan pasokan air curah dan air baku dari BPAM Banjarbakula.
Direktur Teknik PTAM Intan Banjar, Machmud Mansyur, menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, BPAM Banjarbakula mampu menyuplai air curah dan air baku dengan debit sekitar 590 liter per detik (LPS).
Namun, akibat kebocoran tersebut, pasokan air yang diterima PTAM Intan Banjar mengalami penurunan signifikan sehingga berdampak pada pelayanan kepada pelanggan.
“PTAM Intan Banjar sangat bergantung pada pasokan air curah dan air baku dari BPAM Banjarbakula. Dalam kondisi normal, suplai yang kami terima mencapai sekitar 590 liter per detik. Dengan terjadinya kebocoran pipa ini, pasokan air menjadi terganggu dan berdampak pada pendistribusian air kepada sebagian besar pelanggan kami, khususnya di wilayah Banjarbaru dan Martapura,” ujar Machmud.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil komunikasi dan koordinasi dengan BPAM Banjarbakula, pihak pengelola telah mengambil langkah alternatif dengan mengoperasikan intakedarurat (emergency intake) yang memanfaatkan air dari saluran primer irigasi.
Melalui langkah tersebut, pasokan air curah yang saat ini dapat disalurkan ke PTAM Intan Banjar berada di kisaran 110 LPS. Meski menjadi upaya untuk menjaga keberlangsungan pelayanan, debit tersebut masih jauh dari kebutuhan normal untuk memenuhi permintaan pelanggan.
“BPAM Banjarbakula telah mengupayakan pengoperasian intake emergency dari saluran primer irigasi. Namun, debit air yang saat ini dapat disalurkan kepada kami baru sekitar 110 liter per detik. Jumlah tersebut belum mencukupi kebutuhan distribusi secara normal, sehingga untuk sementara kami harus melakukan pendistribusian air secara bergiliran,” jelasnya.
Machmud menambahkan, PTAM Intan Banjar akan menyampaikan surat resmi kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III guna mengajukan pemanfaatan sementara air baku dari saluran primer irigasi.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan air pelanggan selama proses penanganan kebocoran pipa berlangsung.
Menurutnya, koordinasi dengan pihak-pihak terkait terus dilakukan untuk mencari solusi agar dampak gangguan pasokan dapat diminimalkan dan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan sesuai dengan kondisi yang memungkinkan.
“Kami akan menyampaikan permohonan secara tertulis kepada BWS Kalimantan III agar dapat diberikan izin untuk memanfaatkan sementara air baku dari saluran primer irigasi. Upaya ini kami lakukan sebagai langkah alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan air pelanggan selama pasokan dari BPAM Banjarbakula belum kembali normal,” ungkap Machmud.
Atas gangguan tersebut, PTAM Intan Banjar menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan yang terdampak.
Perusahaan juga memastikan akan terus berkoordinasi dengan BPAM Banjarbakula agar penanganan dan perbaikan kebocoran pipa berdiameter 1.200 milimeter dapat dilakukan secepatnya.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat gangguan pasokan air ini. Kami akan terus berkoordinasi dengan BPAM Banjarbakula agar proses penanganan dan perbaikan kebocoran pipa dapat segera diselesaikan sehingga pasokan air dan pelayanan kepada pelanggan dapat kembali normal,” tutupnya.
PTAM Intan Banjar mengimbau pelanggan di wilayah terdampak untuk menyesuaikan penggunaan air selama masa gangguan dan mengutamakan pemanfaatan air untuk kebutuhan pokok.
Pelanggan diharapkan dapat memahami kondisi tersebut sembari menunggu upaya penanganan dan pemulihan pasokan air dilakukan oleh pihak terkait.







