REDAKSI8.COM – Berdasarkan laporan Tim Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting (KP2S) Kota Banjarbaru, hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Kementerian Kesehatan yang dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali menunjukkan, prevalensi stunting Kota Banjarbaru pada tahun 2018 sebesar 39,73%.
Dimana dari angka tersebut telah dinilai menunjukan prevalensi stunting paling tinggi se- Kalimantan Selatan (Kalsel).
Dengan segala upaya yang telah dilakukan, prevalensi stunting Kota Banjarbaru pada tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 18,08%. Kemudian di tahun berikutnya 2020 turun lagi sebesar 14,19%.
Pendataan itu dicatat melalui elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (E-PPGBM).
Keberhasilan dalam menurunkan prevalensi stunting ini Kata Walikota Banjarbaru, Muhammad Aditya Mufti Arifin akan terus ditingkatkan dalam tahun-tahun mendatang.
“Sesuai dengan target yang telah ditetapkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Banjarbaru tahun 2021-2026, prevalensi stunting akan terus ditingkatkan,” ucapnya pada Pembukaan Rembuk Stunting Tingkat Kota Banjarbaru Tahun 2021, di Aula Gawi Sabarataan Pemerintah Kota Banjarbaru, Kamis (2/9).
Penurunan prevalensi stunting ujarnya, merupakan salah satu indikator kinerja utama Pemerintah Kota Banjarbaru untuk mendukung misi pertama, yakni meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang sejahtera dan berakhlak mulia.
“Penurunan prevalensi stunting Kota Banjarbaru kita targetkan mencapai dibawah 10% pada tahun 2024, dimana target nasional pada tahun 2024 adalah 14%,” tandasnya.
Pada kesempatan itu juga di lakukan penandatanganan Komitmen Bersama Percepatan Penurunan Angka Stunting Kota Banjarbaru Tahun 2021.



