REDAKSI8.COM, BANJARMASIN – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mempertegas langkahnya sebagai kampus inklusif dengan tidak sekadar menyediakan kuota, melainkan menyiapkan ekosistem pendukung yang matang pada pelaksanaan Ujian Tulis Masuk Berbasis Komputer (UTMBK) Jalur Disabilitas Tahun 2026.
Sebanyak 23 peserta penyandang disabilitas yang mengikuti ujian di Digital Library General Building ULM pada Kamis (2/7/2026), mendapatkan pengawalan ketat dari aspek aksesibilitas dan psikologis sejak menginjakkan kaki di lokasi ujian.
Demi menjamin kesetaraan dan kenyamanan peserta, ULM menerjunkan 17 relawan mahasiswa terlatih untuk mendampingi seluruh prosesi ujian, mulai dari registrasi hingga pelaksanaan tes, tanpa mencederai prinsip netralitas.
Koordinator Layanan Disabilitas ULM, Dr. H. Utomo menjelaskan, para relawan yang bertugas bukan sekadar panitia musiman, melainkan tenaga yang sudah rekam jejaknya teruji dalam memfasilitasi mahasiswa berkebutuhan khusus sehari-hari.
“Relawan kami juga sudah terbiasa mendampingi penyandang disabilitas yang sudah menjadi mahasiswa saat perkuliahan” begitu ujarnya.
Langkah akomodatif ULM menyentuh aspek hulu melalui keterlibatan langsung pihak keluarga.
Sembari para peserta berjuang di depan komputer, panitia UTMBK bersama Tim Koordinator Disabilitas menggelar sesi asesmen khusus dengan orang tua peserta.
Langkah ini diambil sebagai strategi awal universitas untuk memetakan kebutuhan spesifik dan bentuk dukungan akademik maupun nonakademik yang tepat ketika para calon mahasiswa ini resmi berkuliah nanti.
Saat ini sendiri, ULM tercatat telah menampung lebih dari 60 mahasiswa penyandang disabilitas aktif.
Dr. H. Utomo menambahkan, ke depan, ULM berkomitmen kuat untuk mendobrak batasan struktural yang masih ada di lingkungan kampus agar potensi para mahasiswa ini bisa melejit secara optimal.
“Dari semua aspek harus ada peningkatan terutama akses aksesibilitas dan juga penerimaan dari jurusan dan prodi di ULM yang bisa mengakomodir kebutuhan mereka” tambahnya.
Harapan akan komitmen jangka panjang ULM ini disambut positif oleh para orang tua.
Jeslyn, salah satu orang tua peserta yang mendampingi putranya yang telah bersiap intensif selama delapan bulan, menaruh ekspektasi besar agar kampus terbesar di Kalimantan Selatan ini terus membuka sekat-sekat pembatas bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Harapan kami, peluang bagi penyandang disabilitas semakin diperluas, pilihan program studi semakin beragam, serta ada dukungan dari para dosen yang memahami kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus,” ungkapnya.
Melalui integrasi kesiapan relawan, asesmen dini dengan orang tua, serta evaluasi aksesibilitas prodi, UTMBK Jalur Disabilitas 2026 ini bukan lagi sekadar ritual seleksi tahunan bagi ULM, melainkan wujud nyata manifesto kampus dalam menghadirkan keadilan pendidikan yang setara bagi setiap anak bangsa.



