Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Bulan Solidaritas Palestina (BSP) 2025, hasil kolaborasi antara AWG dengan lembaga kemanusiaan Salam Aid. Melalui ekspedisi ini, para relawan membawa pesan damai dan kepedulian lintas batas bagi rakyat Palestina yang masih berjuang untuk kemerdekaannya.
Dalam sambutannya, Ketua BSP 2025, Nur Hadis, menyampaikan bahwa pendakian ini bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi simbol perjuangan dan keteguhan hati.
“Mendaki gunung itu tujuannya di puncak, langkahnya di kaki. Tujuannya Al-Aqsa, tapi langkahnya adalah aksi nyata, doa, advokasi, dan dukungan yang konsisten untuk Palestina,” ujarnya penuh semangat.
Ia menambahkan, perjalanan menuju puncak menggambarkan beratnya perjuangan membebaskan Masjid Al-Aqsa. Setiap tanjakan, katanya, adalah cermin dari ujian dan pengorbanan yang harus dilalui dengan kesabaran dan kebersamaan.
“Tidak ada pendakian yang dilakukan sendiri. Harus berjamaah, saling menopang satu sama lain. Semakin tinggi, semakin dingin. Di puncak perjuangan, cobaan akan semakin berat. Di situlah keistiqamahan diuji untuk meraih ridha Allah SWT,” tambahnya.
Tim AWG berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya, pada Rabu (5/11), dan dijadwalkan memulai pendakian Gunung Raung (3.344 mdpl) pada Jumat, 7 November 2025. Gunung Raung menjadi satu dari 32 gunung di seluruh Indonesia yang akan didaki secara serentak oleh ribuan pendaki dalam momentum BSP 2025.
Selama pendakian, para peserta akan melakukan pembacaan Surat Setia untuk Palestina, disertai pengibaran bendera Indonesia dan Palestina di puncak gunung, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai simbol solidaritas dan semangat kemerdekaan bangsa-bangsa.
Sebelum keberangkatan, Pembina Utama AWG, Imaam Yakhsyallah Mansur, memberikan pesan penuh makna kepada seluruh peserta ekspedisi. Ia mengingatkan pentingnya mensyukuri nikmat Allah dan menjaga ketakwaan selama perjalanan.
“Mensyukuri nikmat Allah itu dilakukan dengan tiga hal: syukur ilmu, syukur amal, dan syukur perbuatan,” tuturnya.
Imaam juga menekankan pentingnya menjaga adab terhadap alam dan tidak merusak ciptaan Allah SWT selama pendakian.
“Bertakwalah di mana pun kalian berada. Jangan menebang atau memotong pohon, jangan mengganggu makhluk hidup di alam. Berangkatlah dengan bismillah,” pesannya saat melepas para relawan.
Sementara itu, Inisiator Ekspedisi 1000 Pendaki Gunung untuk Palestina dari Salam Aid, Muhammad Musa, menyebut pendakian ini sebagai bentuk edukasi dan refleksi diri yang mendalam.
“Mendaki gunung menjadi media edukasi bahwa perjuangan bisa disuarakan lewat hobi. Kegiatan ini juga sarana refleksi bahwa risiko dan kesulitan yang kita hadapi di gunung tak seberapa dibanding penderitaan saudara-saudara kita di Palestina,” ujarnya dalam konferensi pers di Sekolah Alam Bogor.
Ia menegaskan bahwa perjuangan untuk Palestina bukan hanya tentang wilayah, tetapi tentang kemanusiaan universal.
“Saat kita bicara Palestina, itu bukan sekadar sebidang tanah. Ini tentang perdamaian dunia. Tentang suara perjuangan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa,” tegasnya.
Program Bulan Solidaritas Palestina (BSP) merupakan kegiatan tahunan yang digagas oleh Aqsa Working Group (AWG) sejak tahun 2022. Setiap bulan November, AWG menggelar berbagai kegiatan edukatif, kemanusiaan, dan aksi solidaritas untuk menumbuhkan kesadaran publik tentang perjuangan rakyat Palestina.
Bulan November dipilih karena sarat makna sejarah:.
– 2 November 1917: Deklarasi Balfour, awal penjajahan atas tanah Palestina.
– 11 November 2004: Wafatnya tokoh pejuang Palestina, Yasser Arafat.
– 15 November 1988: Hari Kemerdekaan Palestina.
– 29 November 1947: Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina.
Dengan mengusung tema “Bergerak Berjamaah Bangun Kembali Gaza Demi Pembebasan Masjid Al-Aqsa dan Kemerdekaan Palestina”, BSP 2025 diharapkan menjadi momentum memperkuat kesadaran global bahwa kemerdekaan Palestina adalah perjuangan seluruh umat manusia..



