REDAKSI8.COM, BANJAR, Depth News – Perubahan iklim yang memicu banjir berkepanjangan menjadi tantangan serius bagi sektor pertanian di Kabupaten Banjar. Sawah yang selama ini menjadi sumber penghidupan ribuan petani kerap terendam air selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Akibatnya, banyak petani gagal tanam, kehilangan musim panen, hingga mengalami penurunan pendapatan.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Pertanian terus menghadirkan berbagai inovasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga. Salah satu terobosan yang kini menjadi perhatian adalah budidaya padi apung, sebuah teknologi pertanian yang memungkinkan tanaman padi tetap tumbuh meski lahan sawah terendam banjir.

Teknologi ini dinilai sebagai salah satu bentuk adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim yang mulai dirasakan dampaknya oleh para petani di sejumlah wilayah Kabupaten Banjar, khususnya di Kecamatan Sungai Tabuk dan Aranio yang hampir setiap tahun dilanda banjir maupun genangan berkepanjangan.
Dalam sistem padi apung, tanaman padi tidak lagi ditanam langsung di tanah. Benih ditanam pada media tanam yang ditempatkan di atas rakit berbahan styrofoam atau bahan terapung lainnya. Rakit tersebut akan mengikuti naik turunnya permukaan air sehingga akar tanaman tetap memperoleh nutrisi dan tidak mati akibat terendam.
Dengan metode tersebut, petani tidak lagi harus menunggu air surut untuk memulai musim tanam. Mereka tetap dapat memanfaatkan lahan yang tergenang sehingga waktu tanam tidak terbuang sia-sia dan potensi kehilangan produksi dapat ditekan.
Hasil pengembangan teknologi ini pun mulai menunjukkan capaian yang menggembirakan. Pada panen perdana di Desa Sungai Pinang Lama, Kecamatan Sungai Tabuk, produktivitas padi apung mencapai sekitar 5,27 ton gabah kering panen per hektare. Angka tersebut membuktikan bahwa budidaya padi apung memiliki prospek besar sebagai alternatif pertanian di daerah rawan banjir.
Keberhasilan tersebut menjadi optimisme baru bagi pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mempertahankan status Kabupaten Banjar sebagai salah satu sentra produksi padi di Kalimantan Selatan.
Selain berorientasi pada peningkatan produksi pangan, budidaya padi apung juga memiliki nilai ekonomi lain yang cukup menjanjikan. Kawasan pertanian terapung dinilai berpotensi dikembangkan menjadi destinasi agrowisata, mengingat lokasinya berdekatan dengan kawasan wisata Pasar Terapung Lok Baintan yang selama ini menjadi salah satu ikon pariwisata Kabupaten Banjar.
Konsep tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi petani. Tidak hanya memperoleh hasil panen, masyarakat juga berpeluang mendapatkan pendapatan tambahan dari sektor wisata edukasi pertanian yang menampilkan cara bercocok tanam di atas air.
Namun demikian, pengembangan padi apung masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah biaya awal yang relatif besar untuk pembuatan media tanam terapung. Selain itu, serangan hama serta perlunya keterampilan khusus dalam mengelola sistem budidaya juga menjadi perhatian.
Karena itu, hingga saat ini penerapan teknologi padi apung masih difokuskan pada beberapa kelompok tani sebagai lokasi percontohan sebelum nantinya diperluas ke wilayah lain yang memiliki karakteristik serupa.
Pemerintah pun terus memberikan dukungan melalui bantuan benih unggul, media tanam berupa styrofoam, pendampingan teknis, hingga membuka akses pembiayaan bagi petani melalui lembaga perbankan. Pendampingan dilakukan sejak tahap persiapan, penanaman, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama, hingga proses panen.
Di sisi lain, Dinas Pertanian Kabupaten Banjar juga terus mendorong modernisasi sektor pertanian melalui penggunaan varietas unggul, mekanisasi pertanian, pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta peningkatan kapasitas petani melalui sekolah lapang dan berbagai pelatihan.
Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banjar mengatakan, inovasi padi apung merupakan salah satu bentuk adaptasi terhadap kondisi alam yang kini semakin sulit diprediksi.
“Perubahan iklim membuat pola tanam petani ikut berubah. Karena itu kami terus mencari solusi agar lahan yang tergenang tetap bisa dimanfaatkan. Padi apung menjadi salah satu inovasi yang terbukti mampu menghasilkan panen yang cukup baik dan akan terus kami kembangkan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah tidak hanya memberikan bantuan sarana produksi, tetapi juga melakukan pendampingan secara berkelanjutan agar petani memahami teknik budidaya yang benar.
“Kami ingin petani tidak berjalan sendiri. Mulai dari penyediaan benih, media tanam, pendampingan teknis, hingga akses pembiayaan terus kami dorong agar inovasi ini benar-benar bisa diterapkan secara luas,” tambahnya.
Sementara itu, salah seorang petani peserta uji coba di Kecamatan Sungai Tabuk mengaku optimistis dengan hasil yang diperoleh dari budidaya padi apung.
“Awalnya kami ragu karena belum pernah mencoba menanam padi di atas air. Tapi setelah melihat hasil panennya cukup bagus, kami semakin yakin. Harapannya ke depan bantuan pemerintah terus berlanjut sehingga lebih banyak petani yang bisa menerapkan teknologi ini,” katanya.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, petani, akademisi, dan sektor perbankan diharapkan mampu mempercepat pengembangan budidaya padi apung di Kabupaten Banjar. Inovasi ini bukan hanya menjadi solusi menghadapi banjir, tetapi juga menjadi model pertanian adaptif yang mampu menjaga produktivitas lahan, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di tengah tantangan perubahan iklim yang terus berkembang.



