REDAKSI8.COM, MEKKAHi – Puncak ibadah haji yang meliputi rangkaian Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) telah berhasil dilalui oleh seluruh jemaah Kloter 8 Embarkasi Banjarmasin (BDJ 08). Di tengah padatnya aktivitas ibadah, cuaca ekstrem, dan jutaan jemaah yang memadati lokasi-lokasi suci, rangkaian kegiatan berjalan lancar. Namun di balik kelancaran tersebut, petugas kesehatan terus bekerja tanpa henti memastikan kondisi kesehatan jemaah tetap terjaga.
Perjalanan spiritual yang menguras tenaga itu menjadi ujian tersendiri, khususnya bagi jemaah lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta. Suhu udara yang mencapai 40 hingga 44 derajat Celsius, jarak tempuh yang panjang, serta kepadatan manusia selama fase Armuzna menyebabkan sejumlah jemaah mengalami kelelahan dan gangguan kesehatan.

Dokter Kloter BDJ 08, dr. Tuti Alawiyah, mengungkapkan bahwa selama berada di Mina, tim kesehatan mendapat dukungan fasilitas yang sangat membantu proses pelayanan dan pemantauan kesehatan jemaah.
“Alhamdulillah, selama di Mina kami mendapatkan satu gedung yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat istirahat bagi jemaah lansia dan jemaah dalam pengawasan. Fasilitas ini sangat membantu petugas kesehatan dalam melakukan pemantauan dan pelayanan kepada jemaah,” ujarnya.
Menurut dr. Tuti, kondisi di lapangan selama puncak haji memang cukup berat. Aktivitas yang padat ditambah cuaca panas membuat sebagian jemaah mengalami penurunan kondisi fisik.
Bahkan, terdapat seorang jemaah yang mendadak lemas dan mengalami muntah hingga empat kali akibat kelelahan berat dan kekurangan cairan. Beruntung, petugas kesehatan segera memberikan penanganan sehingga kondisi jemaah dapat kembali stabil.
“Indikasinya adalah kelelahan dan dehidrasi. Saat itu kondisi di lapangan memang sangat padat sehingga cukup menguras tenaga jemaah,” jelasnya.

Sementara itu, Penanggung Jawab Harian (PDH) Layanan Kesehatan Kloter BDJ 08, dr. Nofa Prima, menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan selama fase Armuzna dilakukan secara terintegrasi antar petugas kesehatan dari berbagai kloter.
Koordinasi yang baik antarpetugas memungkinkan penanganan cepat apabila ditemukan jemaah yang membutuhkan bantuan medis di lapangan.
“Selama fase Armuzna, seluruh petugas kesehatan saling berkoordinasi dan membantu satu sama lain. Hal ini sangat penting mengingat mobilitas jemaah sangat tinggi dan kondisi di lapangan dapat berubah dengan cepat,” katanya.
254 Jemaah Masuk Kategori Risiko Tinggi
Meski fase terberat ibadah haji telah berakhir, tim kesehatan BDJ 08 belum menurunkan kewaspadaan. Pengawasan kesehatan tetap dilakukan secara intensif karena masih banyak jemaah yang membutuhkan perhatian khusus.
Dari total 360 jemaah Kloter BDJ 08, tercatat 254 jemaah masuk kategori risiko tinggi (risti). Jumlah tersebut terdiri dari 99 jemaah laki-laki dan 155 jemaah perempuan.
Jika dirinci, terdapat 55 jemaah risiko tinggi berat, 103 jemaah risiko tinggi sedang, 96 jemaah risiko tinggi ringan. Sementara 106 jemaah lainnya tergolong non-risiko tinggi.
Besarnya jumlah jemaah risiko tinggi tersebut membuat tim kesehatan terus melakukan pemantauan rutin melalui visitasi langsung ke kamar-kamar jemaah, pemeriksaan kesehatan berkala, hingga pemantauan konsumsi obat dan pola makan sehari-hari.
Petugas kesehatan, Aminulah, AMK, mengatakan bahwa pemantauan dilakukan secara berkelanjutan agar setiap keluhan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
“Kami terus melakukan pemantauan, khususnya kepada jemaah lansia dan risiko tinggi. Jika ada keluhan kesehatan, kami berharap dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi lebih berat,” ujarnya.
Batuk, Pilek, dan Kelelahan Masih Mendominasi
Hingga saat ini, keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan di kalangan jemaah BDJ 08 masih didominasi oleh batuk, pilek, serta kelelahan akibat padatnya aktivitas selama pelaksanaan puncak ibadah haji.
Selain pemeriksaan langsung, edukasi kesehatan juga terus diberikan kepada jemaah melalui berbagai cara, mulai dari penyuluhan saat pertemuan kelompok, kunjungan kamar, hingga penyampaian informasi melalui grup WhatsApp kloter.
Tim kesehatan secara rutin mengingatkan jemaah untuk menjaga asupan cairan tubuh, mengkonsumsi obat sesuai anjuran dokter, memperbanyak istirahat, serta menghindari aktivitas berlebihan di bawah terik matahari.
Petugas juga mengimbau agar jemaah selalu membawa air minum dan oralit sebagai langkah antisipasi dehidrasi, serta menggunakan masker, payung, dan alat pelindung diri lainnya ketika beraktivitas di luar hotel maupun saat menjalankan rangkaian ibadah.
Berakhirnya fase Armuzna bukan berarti tugas petugas kesehatan selesai. Justru setelah melewati puncak ibadah, kondisi kesehatan jemaah tetap menjadi perhatian utama mengingat masih terdapat sejumlah rangkaian ibadah yang harus dijalani hingga kepulangan ke tanah air.
Dengan semangat pelayanan dan pengabdian, tim kesehatan BDJ 08 berkomitmen terus mendampingi seluruh jemaah agar dapat menyelesaikan ibadah haji dalam kondisi sehat, aman, dan nyaman.
Di tengah tantangan cuaca ekstrem serta tingginya jumlah jemaah risiko tinggi, dedikasi petugas kesehatan menjadi garda terdepan dalam menjaga kesehatan para tamu Allah, sehingga seluruh jemaah dapat menuntaskan ibadahnya dengan khusyuk dan kembali ke tanah air dengan predikat haji yang mabrur.



