REDAKSI8.COM, Lampung — Suasana Kantor Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung tampak khidmat pada Jumat (28/11/2025). Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., hadir langsung memberikan pembinaan kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN) Kemenag Lampung, didampingi Rektor UIN Raden Intan Lampung, Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D.
Sebelum kembali ke Jakarta, Menag juga melaksanakan Khutbah Jumat dalam Tabligh Akbar di Kota Baru, Lampung Selatan, serta menyempatkan diri berkunjung ke Kampus UIN Raden Intan Lampung.
Dalam arahannya, Prof. Nasaruddin memberikan pesan mendalam tentang makna ikhlas beramal. Ia menjelaskan bahwa ikhlas memiliki tingkatan, mulai dari mukhlis hingga tingkat tertinggi mukhlas — yakni orang yang berbuat kebaikan tanpa menyimpan ingatan atas amalnya, bahkan bersedih saat mendapat pujian.
“Mukhlas itu mengerjakan kebaikan tanpa berharap balasan. Pujian pun membuatnya tidak nyaman, karena semua kebaikan mestinya hanya untuk Allah,” tutur Menag.
Ia menegaskan bahwa ASN Kemenag harus mampu mencapai tingkatan tersebut, menjauhi sikap pamer, dan bekerja dengan totalitas dalam melayani umat.
Selain ikhlas, Menag menekankan kesabaran hati sebagai fondasi moral ASN. Sabar tertinggi, katanya, adalah kemampuan menahan ego dalam menghadapi situasi yang tak menyenangkan.
“Kalau dikritik padahal kita benar, ucapkan: ‘Ya Allah ampuni aku, mungkin aku memang salah.’ Kalau kritiknya salah, katakan: ‘Ya Allah ampuni mereka.’ Tidak boleh ada dendam,” pesannya.
Menag juga menyinggung pentingnya memahami syukur secara utuh, dari tahmid hingga derajat asy-syakur, yakni bersyukur atas seluruh ketetapan Allah, termasuk ujian dan kesulitan yang menimpa.
Dalam pembinaan, Menag menggaungkan kembali program ekoteologi, gerakan merawat lingkungan sebagai bagian dari misi kenabian manusia sebagai khalifah di bumi.
“Kerusakan alam dan bencana terjadi karena ulah manusia. Berdosa jika menebang pohon tanpa alasan, berdosa membuang sampah sembarangan. Dan pahala bagi yang merawat alam,” tegasnya.
Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan tidak cukup dengan aturan birokrasi, tetapi harus ditanamkan melalui bahasa agama.
Selain itu, Menag kembali menekankan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menjadi ciri pendidikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Jangan sampai saat kita mengajar agama, kita malah menanamkan kebencian. Pendidikan harus menumbuhkan kasih, bukan permusuhan,” tegasnya.
Di Ruang Rektor UIN RIL, Prof. Nasaruddin turut menyampaikan belasungkawa untuk para korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan dan memberikan dukungan terbaik bagi mereka.
Pembinaan Menag di Lampung ini meninggalkan pesan kuat: ASN Kemenag harus menjadi teladan moral yang mampu menebarkan nilai cinta, menjaga keselarasan hidup, dan mengabdi dengan hati yang penuh keikhlasan. Sebuah langkah penting dalam memperkuat peran Kementerian Agama sebagai perekat kebhinekaan dan pelayan umat di daerah yang multietnik dan multikultural seperti Lampung.
Sebelum kembali ke Jakarta, Menag juga melaksanakan Khutbah Jumat dalam Tabligh Akbar di Kota Baru, Lampung Selatan, serta menyempatkan diri berkunjung ke Kampus UIN Raden Intan Lampung.
Dalam arahannya, Prof. Nasaruddin memberikan pesan mendalam tentang makna ikhlas beramal. Ia menjelaskan bahwa ikhlas memiliki tingkatan, mulai dari mukhlis hingga tingkat tertinggi mukhlas — yakni orang yang berbuat kebaikan tanpa menyimpan ingatan atas amalnya, bahkan bersedih saat mendapat pujian.
“Mukhlas itu mengerjakan kebaikan tanpa berharap balasan. Pujian pun membuatnya tidak nyaman, karena semua kebaikan mestinya hanya untuk Allah,” tutur Menag.
Ia menegaskan bahwa ASN Kemenag harus mampu mencapai tingkatan tersebut, menjauhi sikap pamer, dan bekerja dengan totalitas dalam melayani umat.
Selain ikhlas, Menag menekankan kesabaran hati sebagai fondasi moral ASN. Sabar tertinggi, katanya, adalah kemampuan menahan ego dalam menghadapi situasi yang tak menyenangkan.
“Kalau dikritik padahal kita benar, ucapkan: ‘Ya Allah ampuni aku, mungkin aku memang salah.’ Kalau kritiknya salah, katakan: ‘Ya Allah ampuni mereka.’ Tidak boleh ada dendam,” pesannya.
Menag juga menyinggung pentingnya memahami syukur secara utuh, dari tahmid hingga derajat asy-syakur, yakni bersyukur atas seluruh ketetapan Allah, termasuk ujian dan kesulitan yang menimpa.
Dalam pembinaan, Menag menggaungkan kembali program ekoteologi, gerakan merawat lingkungan sebagai bagian dari misi kenabian manusia sebagai khalifah di bumi.
“Kerusakan alam dan bencana terjadi karena ulah manusia. Berdosa jika menebang pohon tanpa alasan, berdosa membuang sampah sembarangan. Dan pahala bagi yang merawat alam,” tegasnya.
Menurutnya, kesadaran menjaga lingkungan tidak cukup dengan aturan birokrasi, tetapi harus ditanamkan melalui bahasa agama.
Selain itu, Menag kembali menekankan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang menjadi ciri pendidikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
“Jangan sampai saat kita mengajar agama, kita malah menanamkan kebencian. Pendidikan harus menumbuhkan kasih, bukan permusuhan,” tegasnya.
Di Ruang Rektor UIN RIL, Prof. Nasaruddin turut menyampaikan belasungkawa untuk para korban bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan dan memberikan dukungan terbaik bagi mereka.
Pembinaan Menag di Lampung ini meninggalkan pesan kuat: ASN Kemenag harus menjadi teladan moral yang mampu menebarkan nilai cinta, menjaga keselarasan hidup, dan mengabdi dengan hati yang penuh keikhlasan. Sebuah langkah penting dalam memperkuat peran Kementerian Agama sebagai perekat kebhinekaan dan pelayan umat di daerah yang multietnik dan multikultural seperti Lampung.



