REDAKSI8.COM, BALANGAN – Momentum 10 Muharam 1448 Hijriah di Kabupaten Balangan menyoroti aksi nyata kepedulian sosial yang digerakkan oleh tokoh masyarakat setempat.
Ketua TP PKK Kabupaten Balangan, Sri Huriyati Hadi, memanfaatkan hari sakral tersebut untuk menyuntikkan semangat langsung kepada 50 anak yatim melalui agenda santunan yang khidmat di Masjid Al-Akbar Balangan, Kecamatan Paringin Selatan, Kamis (25/6/2026).


Kehadiran Sri Huriyati di tengah-tengah kebersamaan masyarakat tidak sekadar menjadi simbol formalitas, melainkan menjadi jembatan emosional untuk menguatkan mental generasi muda.
Di hadapan 26 anak laki-laki dan 24 anak perempuan yang hadir, ia menegaskan bahwa peringatan 10 Muharam merupakan kesempatan emas untuk menumbuhkan rasa empati serta kepedulian mendalam terhadap sesama.
“Kepada anak-anakku sekalian, tetaplah semangat belajar, rajin beribadah, dan teruslah bercita-cita setinggi langit. Yakinlah bahwa Allah SWT senantiasa bersama orang-orang yang sabar dan berusaha,” ujarnya menguatkan hati para penerima santunan.
Bagi Sri Huriyati, membagikan rezeki pada hari Asyura memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar bantuan materi.
Langkah itu dipandang sebagai ikhtiar konkret dalam merajut kembali nilai-nilai kebersamaan dan menebar kasih sayang yang lebih kokoh di tengah kehidupan bermasyarakat.
Dimensi spiritual acara ini kian kental dengan gema selawat melalui pembacaan Maulid Dhiyaul Lami.
Lantunan suci dari Grup Hadrah Riyadhul Muhibbin Bungin mengiringi kehadiran Ustazah Fatimah Abdillah Alhaddad. Pendakwah asal Jakarta tersebut dihadirkan khusus untuk memberikan refleksi teologis mengenai esensi hari asyura.
Dalam tausiahnya, Ustazah Fatimah mengupas tuntas bahwa tradisi baik yang dilakukan di Balangan ini memiliki akar ibadah yang sangat kuat dalam ajaran Islam, di mana hari tersebut bertabur keutamaan bagi mereka yang mau mengulurkan tangan.
“Pada 10 Muharam ini ada beberapa keutamaan yang disunahkan, salah satunya berpuasa, bersedekah, menyantuni anak yatim, menyambung silaturahmi, membersihkan diri, serta menjenguk orang sakit,” sampainya di hadapan para jemaah.
Melalui pergeseran fokus dari sekadar perayaan menuju aksi nyata ini, masyarakat Balangan secara tidak langsung diajak untuk mengikis budaya seremonial semata.
Momentum religius ini berhasil ditransformasikan menjadi gerakan sosial yang nyata, sekaligus menjadi pengingat bersama akan pentingnya menjaga solidaritas, mempererat silaturahmi, dan merawat kepedulian di bumi Balangan.



