Sejak pagi, masyarakat sudah berbondong-bondong membawa hasil bumi terbaik mereka — dari sayuran segar, singkong, kacang-kacangan, hingga buah-buahan lokal. Semua disusun megah membentuk tumpeng hasil bumi raksasa, sebagai simbol rasa syukur atas rezeki yang dianugerahkan.
Dan begitu acara resmi ditutup, suasana berubah seketika. Sorak sorai pecah, ratusan tangan berebut hasil bumi dalam momen yang menggambarkan keguyuban warga yang masih terpelihara kuat. Para pengunjung pun tak mau ketinggalan, menyaksikan bahkan ikut merasakan keberkahan dari tradisi yang sarat makna ini.
Kholil, Koordinator Lapangan sekaligus Fasilitator Grebek Kampung, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan warisan budaya lama yang dulunya dikenal sebagai Grebeg Suro. Kini, tradisi tersebut dihidupkan kembali melalui kolaborasi dengan festival seni Meranti Putih.
“Tujuan utama Grebek Kampung adalah untuk menyampaikan dan mewujudkan kebersamaan,” kata Kholil.
Ia menegaskan, inti dari tradisi ini adalah gotong royong. Seluruh persiapan dilakukan bersama warga saling bantu mengumpulkan kayu, daun, serta hasil panen sebagai hidangan bersama.
“Ini bentuk rasa syukur kami. Semua hasil bumi kami keluarkan agar dinikmati bersama,” tambahnya.
Yang membuat banyak tamu terpukau, kata Kholil, adalah penyisipan filosofi dalam tumpeng menggunakan bahasa Jawa kuno, yang memantik rasa ingin tahu khalayak.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Kotabaru Syairi Mukhlis, memberikan apresiasi tinggi. Ia menyebut Grebek Kampung sebagai tradisi bernilai sejarah, spiritual, dan sosial yang perlu terus dirawat.
“Kalau bisa tahun depan lebih besar lagi. Di sini ada tiga desa: Megasari, Sebelimbingan, dan Gunung Sari. Kalau bersatu, pasti lebih meriah,” ucapnya memberikan tantangan.
Namun, Wabup juga mengingatkan pentingnya keramahan warga sebagai pondasi majunya Wisata Hutan Meranti.
“Wisata akan maju jika masyarakatnya ramah dan menghargai tamu yang datang,” tegasnya.
Grebek Kampung tahun ini bukan sekadar penutup MP2AF 2025, melainkan penegas bahwa tradisi dapat menjadi daya tarik wisata yang mampu menggerakkan ekonomi sekaligus menjaga jati diri budaya masyarakat.



