REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Dipicu kelangkaan stok, kini harga minyak goreng bersubsidi di Pasar Bauntung Kota Banjarbaru mengalami lonjalan yang cukup signifikan dalam sebulan terakhir.
Khususnya Minyakita, nyaris tidak tersedia di lapak pedagang, akibatnya harga berbagai merek minyak goreng di pasaran ikut terdorong naik.


Salah satu pedagang di Pasar Bauntung Banjarbaru, Suprapto mengungkap, kekosongan stok sudah berlangsung cukup lama dan membuat pedagang kesulitan memenuhi kebutuhan pembeli.
“Sudah satu bulan setengah ini enggak ada barang masuk. Kalaupun ada tawaran masuk, harganya dibilang naik juga. Barangnya tidak ada, kami harus cari-cari sendiri di pasaran,” ujarnya saat diwawancarai, Rabu (29/4/26).
Menurutnya, terhentinya distribusi dari agen resmi memaksa para pedagang untuk mencari pasokan alternatif di luar jalur distribusi normal.
Kondisi tersebut akhirnya membuat harga menjadi tidak terkendali karena barang yang diperoleh dari tangan kedua dengan harga lebih tinggi.
“Semua merek enggak ada. Apalagi yang Minyakita enggak ada lagi. Jadi kita pedagang stok dari luar atau beli di luar agen, dan itu sudah dari tangan kedua,” jelasnya.
Demikian, dampaknya terhadap harga minyak goreng di tingkat pengecer alami kenaikan hampir di semua merek, baik subsidi maupun non-subsidi.
“Harganya merk Alif kalau dua liter sekarang Rp42.000. Merk Sunco ada tapi naik juga itu sekarang Rp48.000. Sebelumnya, di bawah Rp38.000,” sebutnya.
Suprapto menjelaskan, untuk Minyakita ukuran 1 liter saat ini sudah tidak tersedia sama sekali di pasaran, sementara ukuran 2 liter masih bisa didapatkan secara terbatas, namun dengan harga yang jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Ia menyebutkan, kondisi ini mulai terasa sejak setelah Hari Raya Idulfitri hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda normal kembali.
“Naiknya sejak setelah hari raya, pas puasa ada aja, karena apa langkanya tidak tau dari Surabaya sudah begitu,” ungkapnya.
Di sisi lain, kenaikan harga tidak hanya berdampak pada konsumen rumah tangga, tetapi juga dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil yang bergantung pada minyak goreng sebagai bahan utama.
Seperti seorang penjual lalapan, Yadi mengaku, harus menghadapi kenaikan harga yang cukup cepat dalam waktu singkat.
“Naiknya sekitar Rp7 ribuan. Awalnya beli seharga Rp34 ribu lalu naik ke Rp38 ribu dan terakhir kemarin sudah tembus Rp41 ribu per dua liter,” tutupnya.



