REDAKSI8.COM, BANJARBARU — Waktu boleh berjalan hampir tiga dekade, namun bagi sebagian warga Banua, 23 Mei 1997 tak pernah benar-benar pergi. Asap hitam, jerit ketakutan, dan kehilangan yang menyelimuti hari itu masih tersimpan rapat di sudut ingatan masyarakat. Peristiwa yang kemudian dikenang sebagai “Jumat Kelabu” kini kembali hidup, bukan lewat suara sirene atau bara api, melainkan melalui sapuan kuas seorang pelukis muda asal Landasan Ulin bernama Yesheka, yang akrab disapa Galuh.
Di usia yang baru 23 tahun, Galuh memilih jalan merawat ingatan sejarah melalui seni. Lewat sebuah lukisan besar bernuansa kelam, ia mencoba menghadirkan kembali suasana mencekam yang pernah mengguncang Banjarmasin dan sekitarnya. Kanvas itu bukan hanya dipenuhi warna, tetapi juga kesedihan, doa, dan penghormatan bagi mereka yang tak pernah kembali pulang pada hari nahas tersebut.

“Ulun mencoba menjaga ingatan melalui warna dan rasa. Ingatan nang masih manyala di dada urang Banjar,” tulis Galuh dalam unggahan Instagram pribadinya pada 23 Mei 2026.
Kalimat itu sederhana, namun terasa berat. Sebab di balik setiap goresan kuasnya, ada upaya untuk menjaga sejarah agar tidak hilang dimakan zaman.
Jumat Kelabu 23 Mei 1997 menjadi salah satu tragedi paling membekas dalam sejarah Kalimantan Selatan. Kerusuhan yang pecah menjelang Pemilu kala itu meninggalkan luka mendalam bagi banyak keluarga. Kobaran api melahap bangunan, kepulan asap menutupi langit kota, dan banyak nyawa melayang di tengah kekacauan.
Bagi generasi muda yang lahir setelah tragedi itu, cerita tentang Jumat Kelabu mungkin hanya terdengar seperti potongan sejarah. Namun bagi Galuh, kisah itu tumbuh bersamanya sejak kecil melalui cerita orang tua dan para tetua kampung di Landasan Ulin.

Dominasi warna abu-abu dan merah membara memenuhi kanvas, menggambarkan suasana muram sekaligus amarah yang membakar kota kala itu. Siluet manusia tanpa wajah tampak berdiri di antara asap hitam dan cahaya api, seakan mewakili begitu banyak kisah yang tak sempat selesai diceritakan.
Di sudut lukisan, langit tampak gelap tertutup kepulan asap. Bukan sekadar latar, tetapi simbol dari duka yang pernah menyelimuti Banua.
“Jum’at Kelabu, 23 Mei 1997. Hari ketika langit Landasan Ulin jadi saksi asap hitam, tangis keluarga, lawan langkah-langkah nang kada bulik lagi,” ungkap Galuh lirih.
Ia melanjutkan, “Di antara barau api, ada harapan nang hangus. Di antara daur nya urang, ada nyawa nang gugur tanpa sempat bakisah.”
Kata-kata itu terasa seperti doa sekaligus ratapan, mewakili rasa kehilangan yang mungkin masih hidup di hati sebagian warga hingga hari ini..
Bagi Galuh, melukis tragedi Jumat Kelabu bukan untuk membuka luka lama ataupun membangkitkan kebencian masa lalu. Ia justru ingin mengajak generasi sekarang memahami betapa mahal harga sebuah kedamaian.
Karena itu, setiap detail dalam lukisannya dibuat penuh pertimbangan. Goresan kasar dipilih untuk menggambarkan kekacauan. Ruang kosong pada beberapa bagian kanvas sengaja dibiarkan sunyi agar penikmat karya dapat berhenti sejenak dan merenung.
“Setiap sapuan kuas ulun isi lawan rasa hormat gasan buhan sidin nang jadi bagian sejarah. Bukan gasan membuka luka lawas, tapi supaya generasi wayahini ingat bahwa damai itu mahal harganya, lawan sejarah jangan sampai hilang ditelan waktu,” tegasnya.
Pesan itu menjadi inti dari karya Galuh. Ia percaya seni memiliki bahasa yang mampu menembus batas usia dan generasi. Apa yang mungkin sulit dijelaskan lewat buku sejarah, terkadang justru lebih mudah dirasakan lewat warna, bentuk, dan suasana dalam sebuah lukisan.
Karya tentang Jumat Kelabu tersebut telah dipamerkan di sejumlah kegiatan seni, termasuk BAW (Banjarmasin Art Week) serta gelar karya di Taman Amanah Borneo Park pada Juni 2025. Banyak pengunjung berhenti cukup lama di depan lukisan itu—sebagian terdiam, sebagian lainnya tampak larut dalam kenangan.
Bagi warga yang pernah melewati masa kelam 1997, lukisan Galuh seperti membuka kembali lorong memori yang selama ini tersimpan rapat. Sementara bagi generasi muda, karya itu menjadi pengingat bahwa Banua pernah melewati masa yang penuh luka.
Galuh berharap lukisannya bisa menjadi warisan emosional bagi anak cucu Banua, agar sejarah tidak berhenti hanya sebagai cerita yang perlahan dilupakan.
“Biar cat di kanvas ini kawa pudar, mudah-mudahan ingatan tentang Jum’at Kelabu tetap hidup: menjadi pelajaran, menjadi nilai, lawan menjadi warisan gasan anak cucu Banua,” tutupnya.
Kini, bagi masyarakat Landasan Ulin dan Banua secara umum, 23 Mei bukan sekadar tanggal yang tercetak di kalender. Hari itu adalah pengingat tentang luka, kehilangan, sekaligus pentingnya menjaga damai.
Dan lewat tangan seorang Galuh muda, ingatan itu kembali hidup dalam warna yang muram, dalam sapuan kuas yang penuh rasa, serta dalam doa panjang agar tragedi serupa tak pernah lagi terulang di tanah Banua.



