REDAKSI8.COM, KALSEL – Isu penyiaran di tengah derasnya arus informasi digital kembali menjadi sorotan dalam momentum Hari Penyiaran Nasional ke-93.
Perubahan lanskap media yang semakin cepat dinilai menuntut peran penyiaran tidak hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai penjaga kebenaran di tengah maraknya disinformasi.
Anggota komisi penyiaran daerah yang juga mantan jurnalis televisi Nanik Hayati mengungkapkan, dinamika dunia jurnalistik telah mengalami pergeseran signifikan dalam dua dekade terakhir.
Ia mengenang, pada masa awal kariernya di ruang redaksi televisi, kecepatan menjadi faktor utama dalam penyajian berita kepada publik.
“Dua puluh tahun saya hidup di ruang redaksi televisi. Ada satu ‘mantra’ yang saya pegang ketika masih menjadi jurnalis, siapa paling cepat, dia yang menang. Breaking news adalah panggung, dan kecepatan adalah keutamaan,” ujarnya.
Ia menggambarkan suasana kerja saat itu yang penuh tekanan waktu, dengan reporter siaga di lapangan dan ruang kontrol yang terus berkoordinasi demi menayangkan informasi secepat mungkin.
Menurutnya, kondisi tersebut sangat berbeda dengan situasi sekarang, di mana arus informasi datang dari berbagai arah melalui media sosial dan platform digital.
Dalam kondisi tersebut, ia menilai kecepatan tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran utama.
Justru, keakuratan dan kredibilitas informasi menjadi kebutuhan mendesak di tengah maraknya hoaks dan manipulasi konten.
“Dalam situasi seperti ini, publik tidak hanya butuh yang cepat mereka butuh yang benar, yang terverifikasi, dan yang bisa dipercaya,” katanya.
Ia menegaskan, peran lembaga penyiaran saat ini semakin krusial sebagai penjernih informasi di tengah derasnya arus digital.
Penyiaran dituntut tidak hanya menjadi yang pertama, tetapi juga yang paling bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Sebagai komisioner penyiaran daerah, sekaligus mantan jurnalis televisi, saya melihat peran lembaga penyiaran hari ini justru semakin penting. Bukan sekadar menjadi yang pertama, tetapi menjadi yang paling bertanggung jawab. Menjadi penjernih di tengah keruhnya informasi. Menjadi penuntun, bukan sekadar pengikut arus,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan, penyiaran memiliki kontribusi strategis dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat ketahanan nasional, terutama di tengah arus globalisasi informasi yang semakin masif.
“Kecepatan tetap penting, namun harus berjalan beriringan dengan akurasi, etika, dan tanggung jawab kebangsaan,” lanjutnya.
Nanik menggarisbawahi, pentingnya kolaborasi antara lembaga penyiaran, regulator, pemerintah, dan masyarakat dalam menjaga ruang informasi yang sehat.
Menurutnya, ketahanan nasional saat ini tidak hanya dibangun secara fisik, tetapi juga di ruang informasi.
Menutup pernyataannya, ia menegaskan bahwa kepercayaan publik menjadi kunci utama dalam dunia penyiaran di era modern.
“Mungkin hari ini kita tidak lagi selalu menjadi yang pertama. Namun kita harus memastikan, kita tetap menjadi yang paling dapat dipercaya. Karena pada akhirnya, bukan yang tercepat yang akan menguatkan bangsa… melainkan informasi yang paling valid dan terpercaya,” tutupnya.



