REDAKSI8.COM, JAKARTA – Transformasi besar tengah digencarkan Kementerian Agama Republik Indonesia dalam membawa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menuju level internasional. Tidak lagi sekadar menjadi pusat pendidikan nasional, PTKIN kini dipacu menjadi destinasi studi Islam dunia yang mampu menarik ribuan mahasiswa asing dari berbagai negara.
Semangat besar tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) PTKIN 2026 di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kemenag RI, Prof. Sahiron, menegaskan bahwa internasionalisasi PTKIN merupakan agenda strategis nasional yang harus segera diwujudkan secara konkret.

Menurutnya, tantangan PTKIN saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan jumlah mahasiswa domestik, tetapi bagaimana memperoleh rekognisi global sebagai pusat kajian Islam moderat, inklusif, dan berkemajuan.
“Internasionalisasi pendidikan tinggi bukan lagi pilihan, tetapi mandat nasional. Indonesia harus mampu menjadi pusat studi Islam dunia,” tegas Prof. Sahiron.
Pemerintah bahkan menargetkan Indonesia dapat menarik hingga 100 ribu mahasiswa asing secara nasional. Saat ini, jumlah mahasiswa asing di lingkungan PTKIN baru mencapai sekitar 1.200 orang.
Untuk mempercepat target tersebut, pemerintah tengah menyiapkan skema beasiswa internasional yang dirancang mengadopsi model lembaga prestisius dunia seperti DAAD Jerman, AMINEF Amerika Serikat, hingga British Council Inggris.
Langkah besar ini mendapat dukungan penuh dari Ketua Forum Rektor PTKIN, Prof. Dr. Masnun Tahir, M.Ag. Ia menilai internasionalisasi harus diwujudkan melalui program-program nyata yang berdampak langsung terhadap kualitas akademik dan reputasi kampus.
Menurutnya, kerja sama internasional tidak boleh berhenti pada seremoni penandatanganan nota kesepahaman semata. PTKIN harus bergerak cepat menghadirkan program strategis seperti double degree S3, joint publication, professor exchange, hingga summer course internasional.
“PTKIN harus membangun ekosistem akademik yang kompetitif di level global. Ini momentum penting untuk meningkatkan daya saing perguruan tinggi Islam Indonesia,” ujarnya.
Selain penguatan akademik, PMB PTKIN 2026 juga didorong menjadi pintu lahirnya generasi baru yang unggul secara intelektual, berintegritas, serta memiliki wawasan internasional.
Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN 2026, Prof. Dr. Abd. Aziz, M.Pd.I., menekankan pentingnya setiap kampus menampilkan distingsi atau ciri khas program studi agar mampu bersaing di tengah ketatnya kompetisi perguruan tinggi.
“Setiap PTKIN harus memiliki identitas dan keunggulan yang kuat agar masyarakat, termasuk mahasiswa luar negeri, mengetahui apa yang membedakan PTKIN dengan kampus lainnya,” jelasnya.
Ia juga memastikan seluruh proses PMB PTKIN berjalan dengan prinsip transparansi, objektivitas, akuntabilitas, dan keadilan akses bagi seluruh calon mahasiswa.
Sementara itu, Rektor UIN Raden Intan Lampung, Wan Jamaluddin Z., Ph.D., menyatakan kesiapan kampusnya mendukung penuh agenda internasionalisasi yang digagas Kementerian Agama.
Menurutnya, PTKIN memiliki potensi besar menjadi magnet mahasiswa asing karena menawarkan integrasi keilmuan antara agama dan multidisipliner yang menjadi kekuatan khas pendidikan tinggi Islam Indonesia.
Ia mencontohkan, UIN Raden Intan Lampung terus memperkuat identitas sebagai kampus hijau berkelanjutan (green campus) sekaligus menjaga kearifan lokal daerah.
“Integrasi keilmuan dan green campus menjadi visi besar kampus. Kami juga mengembangkan penerjemahan Al-Qur’an berbahasa Lampung serta mengangkat nilai-nilai budaya lokal sebagai penguatan identitas dan kearifan daerah,” ungkapnya.
Dengan langkah besar menuju internasionalisasi ini, PTKIN diharapkan tidak hanya menjadi pilihan utama mahasiswa Indonesia, tetapi juga tampil sebagai pusat peradaban akademik Islam dunia yang modern, inklusif, dan berdaya saing global.



