REDAKSI8.COM, BANJAR, Depth News – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pola konsumsi pangan sehat terus digencarkan Pemerintah Kabupaten Banjar. Tidak sekadar mengajak masyarakat makan cukup, pemerintah kini mendorong agar pangan yang dikonsumsi setiap keluarga benar-benar beragam, bergizi, seimbang dan aman.
Pesan tersebut mengemuka dalam Festival Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) serta Lomba Masak Serba Ikan (LMSI) yang digelar Pemerintah Kabupaten Banjar melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) di Aula KH Kasyful Anwar, Martapura, Selasa (1/9/2026) pagi.
Kegiatan ini menjadi ruang edukasi sekaligus ajang kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan pangan lokal. Puluhan kader dari berbagai kecamatan menunjukkan kemampuan mereka menyulap bahan pangan yang mudah ditemukan sehari-hari menjadi menu yang tidak hanya menarik secara tampilan, tetapi juga memperhatikan kandungan gizi dan keamanan pangan.
Ketua TP PKK Kabupaten Banjar, Hj Nurgita Tiyas, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa keluarga menjadi salah satu pintu utama dalam membangun kebiasaan konsumsi pangan sehat.
Menurutnya, TP PKK sebagai mitra strategis pemerintah memiliki peran penting dalam mendampingi sekaligus memberdayakan keluarga agar mampu menerapkan pola hidup sehat dari lingkungan paling kecil, yakni rumah tangga.

“Festival pangan B2SA dan Lomba Masak Serba Ikan ini adalah media edukasi, ajang promosi pangan lokal serta sarana pemberdayaan masyarakat yang sangat penting,” kata Nurgita.
Ia menjelaskan, penerapan pola konsumsi B2SA tidak semata-mata berbicara mengenai makanan mahal atau bahan pangan yang sulit diperoleh. Justru, masyarakat didorong untuk mampu memanfaatkan berbagai sumber pangan yang tersedia di lingkungan sekitar dengan komposisi yang tepat.
Keragaman pangan menjadi penting karena kebutuhan tubuh tidak dapat dipenuhi hanya dari satu jenis makanan. Karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral hingga serat harus diperoleh melalui pola konsumsi yang seimbang.
Karena itu, edukasi mengenai pangan sehat dinilai perlu dimulai dari keluarga. Kebiasaan orang tua dalam memilih, mengolah dan menyajikan makanan akan turut membentuk pola konsumsi anak-anak. “Pola makan sehat dimulai dari meja makan keluarga kita sehari-hari,” ujarnya.



Selain Festival B2SA, DKPP Banjar juga menjadikan Lomba Masak Serba Ikan sebagai bagian dari kampanye meningkatkan kegemaran masyarakat mengonsumsi ikan.
Ikan dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi sumber protein keluarga sekaligus komoditas pangan lokal yang dapat dikembangkan melalui kreativitas pengolahan.
Namun, tantangan yang dihadapi bukan sekadar ketersediaan ikan. Bagaimana membuat menu ikan menjadi menarik, terutama bagi anak-anak, menjadi pekerjaan penting.
Melalui LMSI, para peserta ditantang mengolah ikan menjadi beragam sajian dengan tampilan dan cita rasa yang lebih kreatif. Dengan demikian, ikan tidak hanya identik dengan menu yang itu-itu saja, tetapi dapat dihadirkan dalam berbagai bentuk makanan yang lebih disukai keluarga.
Kepala DKPP Banjar, Sipliansyah Hartani, mengatakan kegiatan tersebut melibatkan kader dari 20 kecamatan. Perlombaan dibagi ke dalam sejumlah kategori untuk menguji kreativitas peserta dalam mengolah pangan.
Menurutnya, lomba bukan hanya untuk mencari pemenang. Lebih jauh, kegiatan tersebut diharapkan dapat melahirkan ide-ide baru yang dapat diterapkan masyarakat dalam menyiapkan makanan sehat di rumah.
“Tujuannya untuk menggali potensi baru dan kreativitas peserta supaya anak suka makan ikan. Kami menghadirkan juri dari chef dan ahli gizi. Diharapkan pemenang dari lomba ini akan diikutkan tahun depan di tingkat provinsi,” jelasnya.

Keterlibatan chef dan ahli gizi dalam proses penjurian juga menjadi bagian penting. Sebab, makanan yang menarik secara visual belum tentu memiliki komposisi gizi yang baik. Sebaliknya, makanan bergizi juga perlu dikemas secara kreatif agar mampu menggugah selera, terutama anak-anak.
Salah satu dewan juri, Wahyu Nugroho, Chef Hotel Grand Tan Banjarmasin, menjelaskan bahwa terdapat sejumlah aspek yang menjadi pertimbangan dalam menentukan pemenang.
Kreativitas peserta dalam mengolah bahan pangan menjadi perhatian utama. Peserta tidak hanya dituntut mampu memasak, tetapi juga harus mampu menghasilkan hidangan dengan tampilan menarik sekaligus cita rasa yang lebih tinggi.
Menurutnya, kreativitas menjadi penting karena makanan yang disajikan kepada keluarga, khususnya anak-anak, perlu memiliki daya tarik tersendiri.
Pengolahan bahan pangan yang kreatif diharapkan dapat mengubah persepsi masyarakat bahwa makanan bergizi selalu identik dengan menu yang sederhana atau kurang menarik.
Dengan sentuhan pengolahan yang tepat, bahan pangan lokal dapat memiliki nilai tambah, baik dari sisi rasa, tampilan maupun kandungan gizi.
Persaingan dalam Festival Pangan B2SA berlangsung ketat. Masing-masing kecamatan menampilkan kreativitas dan kemampuan dalam menyusun sajian pangan yang memenuhi prinsip beragam, bergizi, seimbang dan aman.
Hasil penilaian menetapkan Kecamatan Sambung Makmur sebagai Juara I Festival Pangan B2SA. Posisi Terbaik II diraih Kecamatan Sungai Pinang, sedangkan Terbaik III diraih Kecamatan Aranio.
Sementara itu, Harapan I diraih Kecamatan Karang Intan, Harapan II Kecamatan Beruntung Baru, dan Harapan III Kecamatan Mataraman. Adapun predikat Juara Favorit diraih Kecamatan Kertak Hanyar
Capaian tersebut menunjukkan bahwa kreativitas dalam mengolah pangan tidak hanya tumbuh di wilayah perkotaan, tetapi juga berkembang di berbagai kecamatan dengan karakter dan potensi pangan lokal masing-masing.
Sementara pada Lomba Masak Serba Ikan, persaingan dibagi berdasarkan kelompok menu yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Untuk kategori Menu Balita, Juara I diraih Kecamatan Martapura Timur, Terbaik II Kecamatan Tatah Makmur, dan Terbaik III Kecamatan Sungai Tabuk.
Kategori ini menjadi salah satu bagian penting karena menu untuk balita membutuhkan perhatian khusus terhadap tekstur, rasa, komposisi serta kandungan gizinya.
Sementara pada kategori Menu Keluarga, Kecamatan Tatah Makmur berhasil meraih Juara I. Posisi Terbaik II diraih Kecamatan Martapura Timur dan Terbaik III Kecamatan Sungai Tabuk.
Adapun pada kategori Menu Kudapan, Juara I kembali diraih Kecamatan Martapura Timur. Terbaik II diraih Kecamatan Aranio dan Terbaik III Kecamatan Tatah Makmur.
Festival B2SA dan LMSI pada akhirnya tidak berhenti pada persoalan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran bahwa ketahanan pangan juga berkaitan erat dengan kualitas konsumsi masyarakat.
Ketersediaan pangan harus berjalan beriringan dengan kemampuan keluarga memilih bahan makanan yang tepat, mengolahnya secara aman serta menyajikannya dalam komposisi yang sesuai kebutuhan tubuh.
Di sisi lain, kampanye gemar makan ikan juga diharapkan dapat mendorong masyarakat memanfaatkan potensi perikanan yang tersedia di Kabupaten Banjar.
Dengan kreativitas pengolahan, ikan dapat dihadirkan dalam berbagai menu yang lebih dekat dengan selera keluarga, termasuk anak-anak.
Pesan yang ingin dibangun pun sederhana tetapi penting: makanan sehat tidak harus mahal, dan pangan lokal tidak harus membosankan.
Melalui peran kader, TP PKK, DKPP, tenaga ahli gizi hingga pelaku kuliner, edukasi tersebut diharapkan dapat terus dibawa dari arena perlombaan ke rumah-rumah warga.
Sebab, keberhasilan program pangan sehat pada akhirnya bukan hanya diukur dari meriahnya sebuah festival, melainkan dari seberapa jauh pengetahuan dan kreativitas yang ditampilkan dalam perlombaan benar-benar menjadi kebiasaan di meja makan keluarga Kabupaten Banjar.



