REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Peresmian Rumah Produksi Bigfast di Banjarbaru menjadi momentum kebangkitan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pasca pandemi.
Dari usaha kecil berbasis keluarga kini Bigfast berkembang hingga menembus pasar perusahaan dan ritel besar di wilayah Kota Banjarbaru.


Rumah Produksi Bigfast yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Km 19, RT 09 RW 03, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, resmi menjadi bagian dari penguatan sektor ekonomi kerakyatan di Banjarbaru.
Dimana usaha ini lahir dari kondisi sulit saat pandemi 2021, ketika pemilik bersama keluarga harus kehilangan sumber penghasilan dan berupaya mencari peluang usaha baru untuk bertahan di segala situasi.
“Waktu itu suami saya di PHK dari perusahaan dan saya coba usaha kecil-kecilan kuliner tapi tidak bertahan di masa pandemi itu. Disitulah kami memutar otak bagaimana kami mendapatkan usaha yang produk ini digunakan dan dipakai setiap orang,” jelas Owner Rumah Produksi Bigfast, Irwaningsih, Senin (27/4/26).
Dari proses yang cukup panjang tersebut akhirnya lahir lah produk kebutuhan rumah tangga yang dinilai memiliki pasar luas dan berkelanjutan.
“Disitulah tercetus produk yang bisa kita kembangkan,” ucapnya.
Saat ini, Bigfast memproduksi tiga jenis produk utama, yakni sabun cuci piring, sabun cuci tangan, dan cairan pembersih lantai, dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 liter per minggu.
Pun produk-produk nya telah dipasarkan ke berbagai segmen, mulai dari kafe, pusat perbelanjaan, hingga rumah sakit dan perusahaan.
“Isi 1000 liter per satu minggunya. Penjualannya saat ini ada 12 yang kami pegang, Mie Gacoan, Qmall Banjarbaru, dan Kafe ada 3 cabang, dan beberapa rumah sakit dan perusahaan lainnya,” sebutnya.
Meski berkembang, Irwaningsih mengakui tantangan terbesar yang dihadapi adalah membangun kepercayaan pasar terhadap produk lokal.
“Tantangan utama kami tentunya adalah market, karena tidak semua orang bisa menerima produk-produk lokal,” ungkapnya.
Untuk bisa menghadapi tantangan itu, pihaknya mengedepankan kualitas dan pelayanan, termasuk sistem distribusi langsung hingga ke pengguna akhir.
Bahkan, Bigfast juga mengusung konsep ramah lingkungan dengan sistem isi ulang guna menekan produksi sampah kemasan.
“Kami selalu mengandalkan kualitas dan pelayanan kami. Kami berani mengantarkan ke perusahaan dengan minimal pengambilan sampai ke dapurnya dengan prioritas isi ulang. Karena kami ingin mengurangi sampah di Banjarbaru sendiri,” jelasnya.
Irwaningsih menyebut, Rumah Produksi Bigfastnya kini beromzet serkitar Rp20 juta hingga Rp30 juta per bulan, dengan harga jual yang disesuaikan berdasarkan lokasi dan layanan distribusi.
“Kalau isi ulang Rp12 ribu per liternya dengan konsep pembeli ke rumah produksi kami,” katanya.
Selain itu, dukungan Pemerintah Daerah (Pemda) juga turut dirasakan dalam pengembangan usaha, termasuk bantuan peralatan produksi seperti mesin dari Balai Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Banjarbaru.
“Alhamdulillah ada mesin yang kami dapatkan dari WSPJI. Sedangkan untuk perizinannya sekarang lebih mudah dan sudah terbantu semuanya,” tuturnya.
Ke depan, Rumah Produksi Bigfast berencana akan terus mengembangkan produk dan memperluas pasar sebagai bagian dari kontribusi terhadap pertumbuhan UMKM di Kota Banjarbaru.
“InsyaAllah akan kita kembangkan lagi,” pungkasnya.



