REDAKSI8.COM – Sebagai satu-satunya wilayah perairan dan kerap terkena tumpah ruahan air hujan yang datang dari seluruh tempat di Kota Banjarbaru, RT 1 RW 03 Kelurahan Mentaos yang saat ini menjadi lokasi pembibitan dan budidaya ikan air tawar tetap beroprasi, bahkan berkembang menjadi sebuah pemukiman maju yang di kenal kampung ikan.
Berkat perhatian dan kontrol intensif oleh Walikota Banjarbaru, Nadjmi Adhani, melalui Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarbaru, para petani ikan di kampung ikan sudah tidak merasakan kegetiran lagi jika wilayah kolam pembibitannya diguyur hujan hingga berdampak banjir.
Melalui program Asuransi Perikanan Bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK) yang diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kini sejumlah petani ikan dapat mengklaim asuransi jika usaha budidayanya terdampak banjir.
Hal ini diakui oleh salah seorang petani ikan setempat, Agus Suryono, Katanya, sebelumnya tidak pernah ada klaim asuransi sejak tahun 2000.
Ia dan petani lainnya turut senang ketika program itu bisa dilaksanakan bahkan dicairkan sebagai ganti kerugian yang dialami hampir setiap petani ikan di tempatnya.
“Alhamdulillah tahun ini dapat 30 juta dari pemerintah, langsung saya bikinkan siring tanggul supaya jika banjir lagi bibit-bibit saya tidak hilang. Bagi saya asuransi ini sangat membantu. Terima kasih Dinas Perikanan,” Agus mengimbuhkan, Rabu (24/6).
“Memang tidak semuanya terdampak, hanya di daerah-daerah bawah seperti saya. Soalnya ada juga yang posisi kolam budidayanya lebih tinggi. Nah posisi kolam milik saya kebetulan letaknya pas disamping aliran sungai, kalau banjir langsung kena. Tapi sekarang sudah tidak apa – apa, karena sudah ditinggikan sampai satu setengah meter,” sambungnya menerangkan.

Secara pengurusan, bagi Agus Suryono sangatlah mudah, tidak terlalu banyak birokrasi. Cukup hanya menyertakan bukti bahwa lahan budidayanya terdampak banjir.
Setelah itu, bukti dikirim ke Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui penyuluh perikanan yang bertugas di tempatnya. Kurang lebih satu bulan klaim bisa dicairkan.
Ia pun menambahkan, besaran angka klaim asuransi yang diperolehnya berdasarkan luasan kolam yang dimiliki. Dimana, Agus Suryono sudah memiliki 2 hektar lahan budidaya.
“Kemarin puncaknya pada awal tahun 2020. Kan hujan lebat sekali saat itu. Bibit saya hilang kebawa air sungai. Kurang lebih 8 juta rupiah kerugian saya ketika itu,” terang Agus.

Walaupun demikian, lebih jauh kepada Redaksi8.com, sekarang masalah yang dihadapi pihaknya bukan lagi soal banjir, namun pemasaran yang sedikit mengalami penurunan. Hal ini disambungnya, karena pengaruh dari dampak pandemi covid-19.
“Disini saya bibitin Ikan Mas, Nila dan ikan air tawar lainnya. Biasa dikirim ke Kasongan, Kalimantan Tengah dan di daerah lokal sendiri seperti Karang Intan dan Riam Kanan, Kabupaten Banjar,” ujarnya.
“Kalau lokalan kita kirim sekitar 50 ribu bibit saja. Sedangkan untuk ke luar provinsi bisa sampai 100 ribu bibit sekali kirim,” lanjut Agus.
Hal senada juga diutarakan oleh Lurah Mentaos, Ahmad Rifa’i, Ia berujar, sejak pertama menduduki posisi sebagai Lurah di Mentaos, keluh kesah warga di kampung ikan soal kegagalan pembibitan memang seperti belum ada solusinya. Apalagi disaat hujan turun, kegelisahan warga setempat terus muncul.

Lantas, segeranya pihaknya mengonsultasikan persoalan itu kepada pihak DKP3 melalui penyuluh yang bertugas. Singkat cerita, pihaknya dibantu untuk bisa memfasilitasi warga kampung ikan berupa klaim asuransi bagi yang terdampak banjir.
“Alhamdulillah jika banjir datang mereka sudah tidak panik lagi dan bisa tetap fokus menjalankan usaha,” ungkap pria yang akrab disapa Rifa’i.
Diketahui, warga Kelurahan Mentaos RT 1 RW 03 terdiri 84 Kepala Keluarga. Hampir seluruhnya menggantungkan hidup pada usaha pembibitan dan budidaya kolam ikan air tawar.



