REDAKSI8.COM, BANJARBARU – Sebanyak 165 orang peserta Peringati Maulid Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam (SAW) 1447 Hijiriah dan ikuti Baayum Maulid di Musium Lambung Mangkurat, Rabu (17/9/25).
Ratusan masyarakat itu diayun dalam ayunan yang telah dihias sambil diiringi dengan pembacaan syair-sayir Maulid Nabi dan do’a memohon keberkahan.
Gubernur Kalsel, Muhidin melalui Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Adi Santoso mengatakan, agama dan budaya dapat berjalan beriringan.
Sehingga dengan baayun maulid dapat membawa keberkahan bagi umat Nabi Muhammad SAW.
“Sebagai mana makna budaya Baayun maulid ini dilaksanakan semoga ahlak anak-anak itu meneadani sifat dan ahlaknya Rasulullah Alaihi Wasallam,” ucapnya.
Adi berharap, kegiatan budaya Baayun Maulid yang bagus ini tetap harus terus dijaga, hingga di wariskan kepada generasi-generasi berikutnya.
“Partisipasi masyarakat, anak-anak yang belum Baayun Maulud mudah-mudahan tahun depan meambil kesempatan yang lebih banyak lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Musium Lambung Mangkurat, M. Taufik Akbar menyampaikan, memang terjadi peningkatan jumlah peserta pada kegiatan Baayun Maulid di tahun ini.
Ia berharap, pada tahun berikutnya akan lebih meningkat lagi untuk partisipasi masyarakat sesuai dengan yang diinginkan.
“Kita akan menambah asupan dana dari APBD, dan mengusulkan kembali jumlah peserta, karena keterbatasan dari jumlah peserta itu dianggaran ya. Mudah-mudahan tahun depan bisa bertambah lagi,” harapnya.
Taufik menyebutkan, dalam kegiatan Baayun Maulid itu tidak hanya diikuti oleh anak-anak saja, melainkan masyarakat lanjut usia juga bisa mengikuti.
“Ada peserta termuda (satu bulan 23 hari) dan ada peserta tertua (63 tahun 8 bulan 14 hari),” sebutnya.
Menurutnya, Baayun Maulid harus terus dilestarikan karena merupakan budaya asli Kalimantan Selatan, sehingga perlu di promosikan ke daerah-daerah, khususnya pada masyarakat milenial sekarang.
“Banyak yang musnah sejarah kita yang ada di Kalimantan Selatan. Masyarakat tidak dipungut biaya (gratis), kegiatan ini murni untuk kita melestarikan budaya Kalsel,” tandasnya.



