REDAKSI8.COM, BANJAR – Jangan sepelekan air sawah dan jejak tikus di sekitar rumah Anda. Kementerian Kesehatan RI mencatat sebanyak 787 kasus leptospirosis terjadi di Indonesia sepanjang Januari hingga 6 Juni 2025, dengan 101 korban meninggal dunia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang menyebar melalui urine (air kencing) tikus, dan bisa menyerang manusia tanpa disadari.
Di Kabupaten Banjar, Dinas Kesehatan (Dinkes) mengungkapkan adanya dua kasus leptospirosis dalam dua tahun terakhir. Satu kasus pada 2024 di Kecamatan Aranio bahkan berakhir dengan kematian karena terlambat ditangani. Sementara satu kasus lainnya terjadi di Kecamatan Beruntung Baru pada 2025, namun berhasil tertangani lebih cepat.
“Penyakit ini bisa menular lewat makanan, peralatan makan dan minum yang terkena urine tikus, atau saat kita bersentuhan dengan air yang terkontaminasi seperti air hujan, air sawah, bahkan tanah lembap,” jelas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Banjar, Marzuki, didampingi Tenaga Ahli Vektor Dinkes Kabupaten Banjar, Abdul Latif.
.
Yang mengejutkan, bakteri Leptospira bisa masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka, selaput lendir, bahkan kulit sehat jika terpapar cukup lama. Dan meskipun tidak semua tikus membawa bakteri ini, masyarakat diminta tetap waspada, terutama saat musim hujan dan saat bekerja di area persawahan.
Sebagai respons atas temuan kasus tersebut, Dinkes Banjar terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi langsung ke masyarakat. Khususnya warga desa, petani, dan penduduk yang tinggal di sekitar aliran sungai dan area lembap.
Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar menghimbau warga untuk Menggunakan sepatu boots saat ke sawah atau lokasi basah. Tidak menggunakan air sawah untuk mencuci muka atau berkumur. Mandi dengan sabun setelah aktivitas di area rawan. Menjaga sanitasi lingkungan dan mengendalikan populasi tikus
Dinkes Kabupaten Banjar juga menggandeng aparat kecamatan dan desa (Pembakal) untuk meningkatkan pengawasan lingkungan dan melakukan surveilans aktif agar kasus bisa dideteksi lebih awal.
Salah satu bahaya leptospirosis adalah gejalanya yang mirip flu biasa, sehingga banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan medis. Padahal, jika tidak ditangani cepat, infeksi ini bisa merusak ginjal hingga menyebabkan gagal ginjal yang berujung pada cuci darah.
Gejala yang harus diwaspadai meliputi demam tinggi, Nyeri otot dan kepala,cMata menguning,vMual dan muntah, Kelelahan ekstrem
“Jangan tunggu gejala memburuk. Jika merasa tidak sehat setelah bersentuhan dengan air sawah atau lingkungan kotor, segera periksa ke puskesmas atau rumah sakit,” tegas Marzuki.
Dalam upaya mendeteksi penyebaran leptospirosis, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar juga melakukan pengambilan sampel darah dan juga tikus yang ditangkap dari area rawan dan rumah yang terkena bakteri Leptospirosis.
Untuk sementara, untuk sampel terkait dengan bakteri Leptospirosis ini dikirim ke laboratorium khusus di Salatiga, Jawa Tengah, untuk memastikan adanya bakteri Leptospira.
Dinkes Kabupaten Banjar menegaskan bahwa penyakit ini bisa dicegah. Kuncinya adalah kepedulian dan kebersamaan masyarakat menjaga lingkungan, menerapkan pola hidup bersih, serta tanggap terhadap gejala yang mencurigakan.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya tahu, tapi juga peduli dan bertindak. Pencegahan dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan,” pungkas Abdul Latif.
Melalui sosialisasi yang masif dan kolaborasi lintas sektor, Dinkes Banjar bertekad menjaga kesehatan masyarakat dan memperkuat posisinya sebagai garda terdepan dalam perlindungan kesehatan publik dari ancaman penyakit menular.
Tingkatkan Kompetensi SDM, PT AM Bersujud Gelar Bimtek Operator IPA
REDAKSI8.COM, TANAH BUMBU — PT Air Minum (AM) Bersujud Kabupaten Tanah Bumbu terus berkomitmen memperkuat kualitas pelayanan air bersih kepada...



