REDAKSI8.COM, KALSEL – Belantara Pegunungan Meratus di Desa Belangian, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, bersiap menguji ketahanan fisik para petualang.
Pada 15 hingga 18 Agustus 2026 mendatang, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kahung Raya akan menggelar ekspedisi Gerakan Anti Sampah (GAS) Kahung.

Bukan sekadar pendakian biasa, agenda ini menantang 200 pendaki terpilih untuk menaklukkan salah satu jalur hutan hujan tropis paling rapat di Kalimantan Selatan, sambil memikul beban sampah dari atas gunung.
Rute pendakian Kahung dikenal dengan vegetasinya yang lebat dan kanopi hutan yang tebal.
Menggabungkan navigasi di medan berat ini dengan tugas membawa turun sampah membutuhkan kesiapan stamina ekstra.
Menyadari karakteristik medan yang tidak ramah bagi fisik yang lengah, Pokdarwis Kahung Raya telah mematangkan rute dan jadwal resmi secara presisi agar ekspedisi empat hari ini berjalan aman namun tetap menantang.
Perjalanan melelahkan itu akan dimulai secara bertahap.
Pada Sabtu (15/8), peserta tidak langsung dihantam jalur terjal, melainkan dikumpulkan terlebih dahulu di basecamp Desa Belangian, titik awal sebelum memasuki kawasan hutan.
“Tahap ini untuk proses registrasi, pembukaan, dan malam ramah tamah agar mental dan fisik benar-benar siap,” ungkap Ketua Pokdarwis Kahung Raya, Hendri Hidayat, kepada Radar Banjarmasin, Senin (13/7/2026).
Ujian navigasi dan ketahanan vegetasi yang sesungguhnya baru dimulai pada Minggu (16/8) pagi.
Bergerak dari desa, rombongan akan berjalan menembus lebatnya hutan tropis menuju Pos 2 (Muara Kahung) dan ditargetkan tiba pada siang hari.
Jalur kemudian terus menanjak di tengah kelembapan hutan yang tinggi hingga mencapai Pos 3 (Cemara), tempat para pendaki mendirikan tenda untuk memulihkan tenaga sebelum menghadapi tantangan utama.
Senin (17/8), tepat pada Hari Kemerdekaan, jalur Kahung akan menunjukkan karakter aslinya yang kejam melalui summit attack. Peserta harus berjuang menyusuri tanjakan curam yang menguras energi, melewati Pos 4 (Sakatalu), Pos 5 (Alimatak), hingga Pos 6 yang dijuluki rute Amazon karena lebat dan liarnya vegetasi di sana.
Targetnya, para pendaki sudah harus menapakkan kaki di Puncak Kahung pada ketinggian 1.456 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada siang hari.
“Puncak perjuangan ini akan ditandai dengan upacara pengibaran bendera Merah Putih tepat pukul 13.00 WITA,” ujarnya.
Ujian terberat bagi lutut dan persendian justru terjadi saat perjalanan turun.
Usai upacara pada pukul 13.30 WITA, peserta langsung dipaksa bergerak turun kembali menuju Pos 3 dan diperkirakan baru tiba pukul 18.30 WITA.
Artinya, dalam satu hari, para pendaki harus bertarung melawan gravitasi dan jalur ekstrem selama lebih dari 11 jam.
Hendri Hidayat menyadari betul bahwa rute turun sambil memikul sampah ini akan menjadi fase paling kritis bagi fisik peserta.
“Melakukan pendakian di jalur Kahung yang sangat rapat saja sudah menguras tenaga, apalagi ditambah dengan kewajiban membersihkan dan memikul sampah dari jalur pendakian ke bawah. Ini adalah bentuk pengorbanan nyata,” tegasnya.
Keganasan rute ini baru benar-benar berakhir pada Selasa (18/8).
Setelah berhasil melewati jalur penurunan yang licin dan rapat, stamina peserta sedikit diringankan di tujuh kilometer terakhir menuju desa berkat fasilitas ojek gratis yang disediakan panitia.
Setibanya di basecamp, seluruh sampah yang dipikul dari sepanjang jalur pendakian akan ditimbang dan divalidasi.
Ekspedisi menembus jantung Meratus ini akan ditutup pada Selasa malam dengan pembagian doorprize dan hadiah puluhan juta rupiah bagi pengumpul sampah terbanyak.
Namun, bagi Pokdarwis Kahung Raya, penaklukan rute ekstrem ini memiliki esensi yang jauh lebih besar dari sekadar trofi.
“Pesan utamanya tetap berakar pada edukasi. Kami ingin pendakian dan kegiatan bersih-bersih jalur pendakian ini menjadi gaya hidup dan budaya baru,” ungkapnya.
Melalui beratnya jalur 1.456 mdpl ini, Hidayat berharap ada kesadaran baru yang dibawa pulang oleh para pendaki setelah merasakan sendiri betapa beratnya menjaga kelestarian hutan tropis.
“Karena Alam yang bersih adalah warisan terbaik untuk generasi masa depan, bukan mewariskan tumpukan sampah,” pungkas Hidayat.



