REDAKSI8.COM – Beberapa hari ini para petani ikan Keramba Jaring Apung (KJA) di sepanjang aliran Sungai Riam Kanan, Kecamatan Karang Intan digegerkan dengan banyaknya ikan yang mati.
Dari total keseluruhan selama musim kemarau ini, menurut kepala Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Banjar, Riza Dauly, diperkirakan ikan yang mati berjumlah hampir satu ton.
“Tim kami sudah melakukan peninjauan langsung ke lokasi, sebab kematian diduga karena banyaknya bakteri dan penurunan kualitas air,” duga pria yang akrab disapa Dauly.

“kurang lebih sebanyak 1 ton ikan siap panen di Desa Sungai Asam dan Desa Sungai Alang mati,” sambungnya kepada redaksi8.com, Senin Siang (14/10).
Kadar oksigen di lokasi menurut Dauly hanya 1,4 saja, sementara kadar oksigen yang dibutuhkan ikan harus diatas 4, ditambah PH airnya pun lanjutnya asam.

“Kami sendiri sudah melakukan himbauan kepada pembudidaya ikan sebanyak 2 kali, agar segera melakukan panen jika sudah masuk masa panen dan mengurangi penebaran bibit demi meminimalisir kerugian mereka,” ungkap Dauly.
Di keramba sendiri lebih jauh, pihaknya menemukan KJA dengan tiga tingkat, paling bawah isinya ikan-ikan siap panen, ditengah yang ukuran sedang dan diatas ukuran kecil.
“Inilah salah satu penyebab banyaknya ikan yang mati. kuota ikan yang diisi melebihi volume KJA itu sendiri,” cetusnya.
Debit air sungai Riam Kanan yang berkurang beberapa waktu belakangan ini, tambah Dauly, lantaran musim kemarau dan pembatasan buangan air.
“Saat ini air yang ada di aliran sungai Riam Kanan dialihkan ke irigasi Riam Kanan, yang bertujuan untuk pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Kalhutla),” bebernya.
Sementara untuk ribuan ekor ikan yang mati, menurut Kabid Perikanan Budidaya Diskan Banjar, Agus Suprantio, pihaknya sudah meminta agar petani dapat segera mengangkat ikan yang telah mati. Hal ini dilakukan untuk mencegah bakteri berkembang dan menyebabkan kematian ikan di bagian hilir.

“Ikan yang mati itu harus secepatnya diangkat dan dikubur, supaya baunya menyengatnya tidak kemana – mana,” terang Agus.
Menelisik hal tersebut, tentu saja tidak lepas hubungannya dengan musim kemarau yang cukup Panjang ini. Prakirawan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Yusuf Luky. DP, menerangkan, berdasarkan prakiraan pihkanya, musim kemarau akan berakhir pada minggu ketiga di bulan Oktober. Kemungkinan terburuk lanjutnya, diprakirakan hujan akan terjadi pada akhir bulan November.
“Secara ilmiah, mulai tanggal 10 Oktober kemarin hingga sekarang, angin yang berhembus dari arah tenggara ke Indonesia sangat sedikit memiliki kandungan air. Hal itulah yang menyebabkan lamanya turun hujan di wilayah kita,” paparnya kepada Reporter ini.



